Penilaian AI dan Bitcoin Mencapai Divergensi Historis: BTC Undervalued 43% Sementara AI Overvalued 33%

Diperbarui: 04/30/2026 07:14

Pada April 2026, pasar modal global tengah mengalami perbedaan narasi yang jarang terjadi. Di satu sisi, sektor kecerdasan buatan (AI) terus menarik arus dana besar-besaran, mendorong valuasi perusahaan perangkat keras dan infrastruktur ke level yang semakin tinggi. Di sisi lain, pasar kripto tampak sunyi setelah mengalami koreksi siklus, dengan partisipasi institusional yang tetap sangat terbatas.

Pergerakan valuasi kedua kelas aset ini membentuk kesenjangan yang semakin lebar—bukan sekadar perbedaan harga, melainkan cerminan ketidaksesuaian mendasar dalam logika alokasi modal global.

Dan Morehead, pendiri sekaligus CEO Pantera Capital, memberikan penilaian kuantitatif yang presisi. Pada 29 April, Morehead menyatakan dalam sebuah acara di New York bahwa saham-saham AI saat ini sudah sepenuhnya dihargai, sementara Bitcoin masih undervalued sekitar 43% dibandingkan tren historis jangka panjangnya. Ia menyebut ini sebagai perbedaan pasar terbesar yang pernah ia saksikan sepanjang kariernya.

Fakta di Balik Kesenjangan Valuasi

Penilaian Morehead didasarkan pada serangkaian data kuantitatif internal. Menurut sistem analitik Pantera, indeks valuasi untuk perusahaan AI utama saat ini berada sekitar 33% di atas garis tren logaritmik empat tahunnya. Ini mengindikasikan bahwa harga di sektor AI telah memperhitungkan sebagian besar ekspektasi pertumbuhan masa depan. Morehead berkomentar bahwa meskipun AI memang sangat penting dalam jangka panjang dan memiliki potensi pertumbuhan yang luar biasa, "pasar sudah memasukkan sebagian besar prospek masa depannya ke dalam harga saat ini."

Sementara itu, valuasi relatif Bitcoin menunjukkan kontras yang tajam. Perhitungan Pantera menunjukkan BTC saat ini diperdagangkan sekitar 43% di bawah garis tren logaritmik historisnya. Morehead menyimpulkan secara sederhana: "Aset kripto saat ini sangat murah."

Ketidakselarasan ini—valuasi AI naik 33%, Bitcoin turun 43%—menciptakan kesenjangan harga total sekitar 76 poin persentase. Morehead menyebutnya sebagai "perbedaan terbesar dalam sejarah."

Di balik perbedaan valuasi ini, terdapat isu struktural yang lebih dalam: bagi para manajer aset terbesar di dunia, aset kripto hampir sepenuhnya absen dari daftar alokasi mereka.

Dalam beberapa wawancara terakhir, Morehead berulang kali menekankan fakta yang sangat diremehkan pasar: "Sebagian besar investor institusi memiliki alokasi blockchain sebesar 0,0%—benar-benar nol." Dalam sistem yang mengelola puluhan triliun dolar aset keuangan global, kripto hampir selalu diabaikan, menciptakan lanskap alokasi yang sangat asimetris.

Menariknya, bahkan di antara institusi yang sudah mengalokasikan dana ke kripto, partisipasinya sangat terkonsentrasi. MicroStrategy membeli sekitar 56.235 BTC hanya pada bulan April, sementara ETF Bitcoin global secara kolektif menambah kepemilikan sebesar 34.552 BTC pada periode yang sama. Angka-angka ini jauh melampaui 11.829 BTC yang baru ditambang selama waktu tersebut—menyoroti ketidakseimbangan mencolok antara permintaan dan pasokan baru.

Berdasarkan hal ini, Morehead memberikan penilaian yang provokatif: ini mungkin kali pertama dalam sejarah di mana "smart money" justru masuk paling akhir. Pada setiap gelombang aset sebelumnya, investor institusi dengan keunggulan informasi dan modal biasanya menjadi yang terdepan; namun dalam pergeseran paradigma yang didorong blockchain ini, institusi justru banyak menunggu di pinggir lapangan.

Apakah AI Benar-Benar Terlalu Mahal?

Jika kita memandang pasar sebagai sistem harga, kondisi sektor AI saat ini layak mendapat kerangka berpikir yang lebih hati-hati. Di sini, penting membedakan tiga level: fakta (apa yang telah terjadi), observasi (fenomena pasar), dan spekulasi (skenario yang mungkin terjadi). Konten berikut secara ketat mengikuti klasifikasi ini.

Investasi modal ke infrastruktur AI berkembang dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Data publik menunjukkan bahwa pada 2026, empat raksasa cloud dan teknologi dunia—Microsoft, Google, Amazon, dan Meta—merencanakan belanja modal AI gabungan sekitar $660 miliar, dengan Google saja menganggarkan $185 miliar. Sementara itu, Nvidia melaporkan pendapatan sebesar $68,1 miliar untuk kuartal keempat yang berakhir Januari 2026.

Terdapat ketidaksesuaian yang nyata antara besarnya investasi ini dengan hasil atau ekspektasi pasar. Sejak awal 2026, kelompok "Magnificent Seven" raksasa teknologi justru mencatat kinerja di bawah Indeks S&P 500. Pada 28 April, laporan tentang OpenAI yang gagal memenuhi target pendapatan dan pengguna internal memicu reaksi berantai penurunan di sektor infrastruktur AI—saham Oracle turun sekitar 3%, dan saham chip seperti Nvidia, Broadcom, serta AMD juga melemah.

Industri AI kini tengah bertransisi dari "fase pembangunan" ke "fase adopsi." Selama fase pembangunan, pusat data, produsen chip, dan penyedia infrastruktur cloud menjadi pihak yang paling diuntungkan. Namun, seiring dimulainya fase adopsi, pasar akan mulai menguji manfaat produktivitas nyata di tingkat pengguna akhir. Jika laju monetisasi AI tidak sejalan dengan pertumbuhan yang diimplikasikan oleh komitmen belanja modal saat ini, valuasi tinggi yang ada saat ini bisa menghadapi tekanan penyesuaian.

Kembali ke perbandingan valuasi versi Dan Morehead, indeks AI berada 33% di atas tren logaritmik empat tahunnya, yang sangat sejalan dengan latar belakang industri seperti di atas. Ini tidak berarti sektor AI adalah gelembung—justru ada permintaan riil yang menopangnya—namun menunjukkan bahwa saham AI saat ini dihargai dengan tingkat optimisme yang cukup tinggi.

Logika ini sejalan dengan pandangan Morehead: ia percaya AI sangat penting dan memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang yang luar biasa, tetapi dalam jangka pendek, "harga pasar sudah mencerminkan semua hal positif tersebut." Sebaliknya, aset kripto berada di lingkungan harga yang sangat berbeda—ekspektasi pesimistis, modal absen, dan perhatian pasar rendah.

Penyebab Struktural di Balik Absennya Institusi

"Zero allocation" aset kripto di tingkat institusi bukanlah akibat satu faktor tunggal. Berbagai dimensi—mulai dari perubahan likuiditas makro, gangguan geopolitik dan kebijakan, daya tarik valuasi relatif, hingga tahapan struktural siklus halving empat tahunan—berpadu menciptakan gambaran kompleks keraguan institusi saat ini.

Dari sisi likuiditas, hubungan antara Bitcoin dan M2 global tengah dikaji ulang. Per Februari 2026, suplai uang M2 AS mencapai $22,667 triliun, terus bertambah dari bulan ke bulan. Namun, harga Bitcoin tidak naik sejalan sebagaimana diprediksi model likuiditas tradisional, sehingga terjadi perbedaan yang mencolok. Lembaga riset mencatat bahwa M2, sebagai indikator stok bulanan, sering kali butuh waktu berbulan-bulan untuk memengaruhi aset kripto melalui ekspansi kredit dan arus modal, sementara variabel cepat seperti penguatan dolar dan risiko geopolitik bisa sepenuhnya menekan efek positif likuiditas dalam jangka pendek.

Gangguan geopolitik juga berperan signifikan. Pada April 2026, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak Brent ke $115 per barel, langsung menaikkan ekspektasi inflasi dan memangkas proyeksi penurunan suku bunga The Fed dari 50 basis poin menjadi 25, dengan indeks dolar turut menguat. Bagi investor institusi, penguatan dolar menandakan pengetatan selera risiko global, sehingga modal cenderung kembali ke aset dolar alih-alih dialokasikan ke kripto. Dalam kondisi ini, meskipun ekspansi M2 berlanjut, aset berisiko tetap tertekan dalam jangka pendek dan minat institusi untuk masuk kripto pun menurun.

Dari perspektif lintas aset, ketika empat raksasa teknologi AI berencana menggelontorkan hampir $700 miliar belanja modal tahunan, efek densitas modal menjadi sangat nyata—investor institusi, saat mengalokasikan dana lintas kelas aset, melihat AI menawarkan cerita pertumbuhan yang tampak "lebih pasti" dan kerangka valuasi yang lebih familiar. Sebaliknya, aset kripto yang belum memiliki metodologi valuasi yang diterima luas, secara alami termarjinalkan dalam keputusan alokasi institusi.

Sementara itu, siklus halving empat tahunan Bitcoin juga memainkan peran struktural. Morehead menyatakan secara lugas: "Siklus empat tahun itu nyata." Model Pantera, berdasarkan pola tiga siklus lengkap sebelumnya, memproyeksikan bahwa setelah mencapai puncak pada paruh kedua 2025, Bitcoin kini memasuki fase koreksi dan bottoming. Penurunan dari puncak sekitar 50%, yang tergolong ringan dibandingkan siklus sebelumnya yang bisa mencapai koreksi hingga 85%. Namun, proses bottoming ini bisa memakan waktu enam hingga delapan bulan. Bagi institusi yang berorientasi pada kinerja jangka pendek, ini menjadi hambatan partisipasi yang nyata.

Namun, dari perspektif jangka panjang, Morehead menawarkan penilaian yang lebih struktural: Bitcoin telah mencapai apa yang disebut "escape velocity"—statusnya sebagai aset langka global kini sudah sangat kokoh sehingga "tidak ada yang bisa menggagalkan proses ini." Dalam kerangka ini, zero allocation institusi saat ini bukanlah penolakan terhadap nilai kripto, melainkan keterlambatan historis dalam penyesuaian portofolio.

Proyeksi Evolusi Multi-Skenario

Berdasarkan seluruh fakta, data, dan logika di atas, berikut tiga jalur evolusi pasar yang mungkin terjadi. Catatan: ini adalah skenario spekulatif yang dimaksudkan sebagai kerangka berpikir sistematis, bukan prediksi pasti.

Skenario Satu: Reversi Rata-Rata Valuasi

Dengan asumsi ada perbaikan marjinal pada kondisi likuiditas dan meredanya risiko geopolitik, modal institusi mulai secara sistematis melirik aset kripto. Arus masuk bersih ke ETF Bitcoin meningkat, dan kepemilikan institusi mulai naik dari level mendekati nol. Dalam proses ini, Bitcoin mengalami pemulihan valuasi relatif terhadap saham AI, sementara sektor AI yang sebelumnya overvalued memasuki periode penyesuaian.

Logika: Setelah polarisasi narasi yang ekstrem, pasar cenderung kembali ke rata-rata. Ketika kesenjangan valuasi dua sektor mencapai titik tertinggi dalam sejarah, motivasi rotasi modal dari aset overvalued ke undervalued meningkat signifikan. Sejarah menunjukkan bahwa ketika modal terlalu terkonsentrasi di satu area, biasanya akan mencari keseimbangan ulang. Penilaian Morehead—bahwa ini adalah "perbedaan valuasi terbesar dalam sejarah"—mengimplikasikan probabilitas reversi rata-rata secara statistik semakin tinggi.

Skenario Dua: Kesenjangan Berlanjut dan Makin Dalam

Sebaliknya, perpecahan saat ini bisa semakin dalam. Jika AI terus menghasilkan terobosan produktivitas dan adopsi korporasi, valuasi tingginya bisa mendapat dukungan fundamental lebih lanjut. Pasar kripto, tanpa arus modal baru, tetap terkungkung siklus empat tahunan, mempertahankan volatilitas rendah.

Logika: Investasi modal AI sangat masif, dan iterasi teknologinya cepat. Walaupun OpenAI mungkin gagal memenuhi beberapa target internal, permintaan industri secara keseluruhan terhadap daya komputasi dan kemampuan model terus meningkat. Jika transisi dari fase pembangunan ke adopsi berjalan mulus, dukungan valuasi akan menguat. Sementara itu, siklus empat tahunan kripto secara historis tak pernah gagal—Morehead sendiri mengakui bahwa fase bottoming bisa memakan waktu 6 hingga 8 bulan lagi.

Skenario Tiga: Repricing Sistemik Akibat Guncangan Makro

Skenario ketiga berasal dari guncangan eksternal. Jika ekonomi makro global menghadapi kejadian negatif tak terduga—seperti lonjakan inflasi tajam, pembalikan paksa kebijakan The Fed, atau eskalasi konflik geopolitik yang signifikan—baik saham AI maupun kripto bisa mengalami repricing sistemik pada aset berisiko.

Logika: Meski korelasi Bitcoin dengan M2 global melemah dalam jangka pendek, likuiditas tetap menjadi salah satu penggerak struktural terpenting harga kripto dalam jangka panjang. Riset menunjukkan sejak 2013, Bitcoin naik sekitar 700 kali lipat, sementara total likuiditas lima mata uang utama dunia tumbuh sekitar 100%. Dalam skenario stres ekstrem ini, volatilitas kripto bisa semakin tajam karena basis institusionalnya tipis, sementara valuasi tinggi saham AI justru lebih rentan terkoreksi jika ekspektasi laba dipangkas.

Kesimpulan

Perbedaan pasar saat ini mencerminkan modal yang membuat pilihan terpolarisasi antara dua narasi yang jelas. AI membawa ekspektasi paling optimistis terhadap kemajuan teknologi, sementara Bitcoin mewakili kekhawatiran mendalam atas rapuhnya sistem moneter. Kedua narasi ini tidak saling meniadakan—menurut Morehead, "tidak ada dunia di mana AI penting tapi kripto tidak menjadi bagiannya."

Ia juga menambahkan bahwa AI dan blockchain pada akhirnya akan berkonvergensi dalam jangka panjang, dan Pantera sendiri tengah meningkatkan investasi di persimpangan kedua teknologi ini.

Ketika optimisme sudah sepenuhnya tercermin pada satu sektor dan pesimisme sangat diremehkan di sektor lain, perbedaan valuasi itu sendiri menjadi sinyal pasar yang layak dicermati dengan seksama. Ini bukanlah prediksi arah masa depan suatu kelas aset, melainkan pengukuran objektif atas ketidakseimbangan alokasi modal global saat ini.

Menurut data pasar Gate, per 30 April 2026, Bitcoin diperdagangkan di $75.693,5, turun 2,01% dalam 24 jam, dengan kapitalisasi pasar sekitar $1,49 triliun dan pangsa pasar 56,37%. Volatilitas jangka pendek masih berlanjut, namun diskusi struktural mengenai nilai jangka panjang kripto tampaknya baru mulai memasuki agenda inti investor institusi global.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten