

Salah satu pendiri bursa kripto ternama, Cameron Winklevoss, baru-baru ini membagikan pandangannya kepada investor dengan menyatakan bahwa Bitcoin yang diperdagangkan di bawah $90.000 bisa menjadi peluang terakhir untuk akumulasi di harga tersebut. Pernyataan ini muncul saat aset digital ini turun di bawah batas itu, menghapus keuntungan sejak awal tahun dan memicu diskusi baru mengenai arah siklus pasar saat ini.

Mata uang kripto ini mencatat koreksi signifikan dari rekor tertinggi di atas $126.000 pada awal siklus, turun ke kisaran rendah $90.000. Koreksi tersebut telah mengurangi sekitar $600 miliar dari kapitalisasi pasar Bitcoin dan membawa harga kembali ke tingkat yang terakhir terlihat tujuh bulan lalu. Skala pergerakan ini kembali memunculkan perdebatan antara kubu bullish dan bearish di meja perdagangan kripto global.
Salah satu sisi perdebatan menyoroti kecemasan terkait siklus. Tanpa adanya satu peristiwa utama yang jelas sebagai pemicu penurunan, banyak pelaku pasar kembali menganalisis pola siklus halving empat tahunan. Namun, pendekatan tradisional ini kini semakin kompleks karena aliran modal institusi yang besar, sehingga pola historis menjadi kurang akurat sebagai acuan dibandingkan masa ketika investor ritel lebih mendominasi aktivitas perdagangan.
Kondisi makroekonomi menghadirkan tantangan berat bagi seluruh aset berisiko. Penutupan pemerintah yang berlarut, kekhawatiran perang dagang yang berkelanjutan, dan likuiditas pasar yang terbatas secara kolektif membebani aset berisiko tinggi, sehingga pasar mata uang kripto sangat rentan terhadap fluktuasi kekuatan dolar, ekspektasi suku bunga, dan sentimen pertumbuhan ekonomi global.
Para analis pasar mengamati bahwa Bitcoin kini memiliki karakteristik perdagangan yang semakin menyerupai aset makro tradisional, bukan lagi sekadar komoditas berbasis suplai. Evolusi ini menandai pendewasaan aset tersebut dan korelasi yang makin erat dengan pasar keuangan secara umum. Pergerakan harga Bitcoin kini lebih responsif terhadap kebijakan Federal Reserve, dinamika geopolitik, dan perubahan likuiditas global.
Leverage berperan besar dalam memperkuat pergerakan harga. Token ini mengalami penurunan tajam sejak sekitar $19 miliar posisi leverage dilikuidasi bulan lalu. Gelombang likuidasi paksa ini semakin dalam karena pemegang jangka panjang memutuskan mengambil keuntungan di harga tinggi. Koreksi ini bertepatan dengan periode historis di mana Bitcoin sering mencapai puncak siklus, biasanya antara 400 hingga 600 hari setelah peristiwa halving, dengan halving terbaru terjadi pada musim semi tahun lalu.
Data on-chain beberapa bulan terakhir menunjukkan pergerakan signifikan dari pemilik besar. Analisis perusahaan data blockchain menemukan bahwa kelompok dompet dengan lebih dari 1.000 Bitcoin melakukan penjualan terfokus, menekan harga dari bawah $100.000 ke $97.000. Data di bursa dan indikator pasar derivatif sama-sama memperlihatkan tekanan jual yang terjadi serempak di banyak platform.
Analisis detail memperlihatkan eksposur short pada level whale kini melampaui posisi long, dengan metrik on-chain menunjukkan sekitar $2,17 miliar pada posisi short berbanding $1,18 miliar pada posisi long. Pergeseran posisi ini mengindikasikan perubahan sentimen signifikan di antara pelaku pasar besar. Selain itu, ETF Bitcoin mencatat beberapa minggu berturut-turut arus keluar bersih, dengan nilai mencapai beberapa miliar dolar dalam lima minggu terakhir, menandakan investor institusi mengurangi eksposur mereka.
Di pasar derivatif, trader aktif membeli put option dengan harga strike terkonsentrasi di kisaran $90.000–$95.000. Aktivitas opsi ini menunjukkan permintaan tinggi atas perlindungan penurunan di level harga lebih rendah, mencerminkan kekhawatiran akan potensi penurunan lanjutan. Volume put option yang meningkat menandakan pelaku pasar profesional tengah melakukan lindung nilai portofolio terhadap volatilitas tambahan.
Laporan riset dari firma analitik blockchain seperti Glassnode dan MarketVector menilai bahwa pergerakan harga kali ini merupakan “distribusi terjadwal” oleh pemegang jangka panjang, bukan likuidasi karena panik. Namun, laporan tersebut juga menyoroti bahwa kemampuan pasar menyerap suplai kini lebih terbatas dibanding periode sebelumnya. Kombinasi penebusan ETF dan alokasi institusi yang melambat membuat gelombang penjualan serupa berpotensi menimbulkan pergerakan harga lebih ekstrem dan memicu likuidasi berantai pada posisi leverage.
Dari sudut pandang teknikal, pengamat pasar kini memantau level $100.000 sebagai resistance utama dan $93.000 sebagai zona support penting. Kedua titik harga ini menjadi level psikologis yang membentuk area konsentrasi tekanan beli dan jual. Penembusan kuat di atas resistance atau di bawah support kemungkinan besar akan memicu momentum tambahan ke arah tersebut.
Analis blockchain menyoroti arus dompet whale, pembalikan tren ETF, dan posisi pasar opsi sebagai sinyal utama untuk mendeteksi bottom pasar sejati. Pergeseran terkoordinasi pada ketiga indikator—yaitu arus masuk spot market yang meningkat, eksposur short menurun, dan volatilitas implisit yang lebih stabil—akan mengindikasikan permintaan riil kembali ke pasar, bukan sekadar short covering jangka pendek yang bersifat sementara.
Meski kondisi pasar menantang, pembeli institusi tetap aktif. MicroStrategy, salah satu korporasi pemegang Bitcoin terbesar, mengumumkan bahwa pihaknya membeli tambahan 8.178 Bitcoin dengan harga rata-rata $102.171, mengalokasikan dana sekitar $835 juta. Akuisisi ini memperluas cadangan Bitcoin perusahaan dan memperlihatkan keyakinan institusi tertentu meski harga tengah terkoreksi.
Pernyataan bahwa periode ini bisa jadi kesempatan terakhir untuk membeli Bitcoin di bawah $90.000 kembali menguatkan tema yang kerap hadir di sejarah pasar kripto: penurunan besar sering menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju rekor tertinggi baru. Namun, lanskap pasar saat ini memperlihatkan bahwa peluang harga lebih tinggi sangat dipengaruhi kondisi likuiditas global dan kebijakan moneter, di samping faktor spesifik kripto seperti siklus halving dan dinamika suplai on-chain. Partisipasi institusional yang kian besar dan korelasi dengan pasar keuangan tradisional membuat laju harga Bitcoin kini semakin terkait dengan kekuatan makroekonomi yang lebih luas dibanding siklus sebelumnya.
Bitcoin di bawah $90.000 dianggap sebagai peluang beli langka karena sentimen pasar memperkirakan harga akan naik dari level ini. Para pemimpin industri menilai valuasi saat ini sangat menarik sebagai titik masuk sebelum kenaikan harga yang diantisipasi, sehingga menjadi momen strategis untuk akumulasi.
Bitcoin sebelumnya mengalami penurunan sebelum peristiwa halving, tetapi tetap menunjukkan fundamental kuat di bawah $90.000. Setelah halving, harga biasanya terapresiasi signifikan, menandakan level rendah ini menjadi peluang akumulasi bagi pemegang jangka panjang yang mencari titik masuk optimal.
Ya. Bitcoin diperdagangkan di atas moving average 20 hari pada $91.142, menandakan momentum naik. Fundamental yang kuat seperti adopsi institusional dan volume transaksi yang terus bertumbuh mendukung potensi kenaikan menuju $100.000.
Lakukan pembelian di sekitar level support utama dengan penempatan stop-loss yang tepat. Pantau indikator RSI untuk mendeteksi kondisi overbought/oversold. Tunggu konfirmasi pergerakan harga sebelum masuk posisi. Pertimbangkan strategi dollar-cost averaging untuk mengurangi risiko masuk di valuasi menarik ini.
Bitcoin di bawah $90.000 menghadapi resistensi lokal dan tekanan sentimen pasar. Volatilitas mendadak serta pernyataan kebijakan dapat memperkuat risiko penurunan. Saat ini support berada di sekitar $90.000, dengan potensi penurunan lebih lanjut jika level ini ditembus akibat tekanan makroekonomi atau perubahan sentimen negatif.











