
Bitcoin ETF adalah exchange-traded fund yang terdaftar di bursa publik, dengan harga yang mengikuti pergerakan pasar Bitcoin secara ketat. Melalui instrumen ini, investor dapat mendapatkan eksposur terhadap Bitcoin dengan cara yang serupa seperti membeli dan menjual saham, tanpa perlu memiliki atau mengelola Bitcoin secara langsung. Sejak disetujui di Amerika Serikat pada 2024, produk investasi inovatif ini menjadi salah satu titik masuk paling aman dan nyaman bagi investor ritel ke pasar aset kripto.
Sebagai pionir dan simbol utama mata uang digital global, Bitcoin memiliki nilai investasi yang istimewa. Jumlah totalnya dibatasi secara permanen sebesar 21 juta koin, sehingga memiliki kelangkaan dan sifat tahan inflasi yang kerap disebut sebagai “emas digital.” Jika dibandingkan dengan risiko pengelolaan private key dan risiko kustodian saat membeli Bitcoin secara langsung, Bitcoin ETF—dengan aset Bitcoin yang disimpan dan diamankan oleh kustodian profesional—menawarkan jalur investasi yang lebih terstandarisasi dan transparan. Investor tidak perlu mengkhawatirkan risiko kehilangan aset akibat kegagalan bursa, atau kerepotan manajemen wallet dan keamanan penyimpanan. Selain itu, Bitcoin ETF diperdagangkan di bursa efek tradisional, sehingga investor dapat bertransaksi melalui akun broker biasa, yang membuat hambatan masuk semakin rendah.
Ambil contoh Bitcoin ETF yang terdaftar di Hong Kong, pada pertengahan 2025, biaya masuk minimum hanya HK$861,5—jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan modal yang dibutuhkan untuk memegang Bitcoin secara langsung. Bagi investor ritel yang baru mengenal aset kripto, keunggulan utama Bitcoin ETF adalah transparansi dan kepatuhan regulasi—alasan utama banyak investor memilih produk ini.
Spot Bitcoin ETF dan Bitcoin futures ETF adalah dua produk investasi Bitcoin utama di pasar. Keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam mekanisme pelacakan, profil risiko, dan struktur biaya. Spot Bitcoin ETF memegang Bitcoin secara langsung; manajer dana menyimpan aset dasar di cold wallet dengan kustodian profesional. Struktur ini memastikan nilai aktiva bersih ETF sangat dekat dengan harga spot Bitcoin, sehingga error pelacakan sangat minim. Sebagai contoh, IBIT (iShares Bitcoin Trust) yang telah diakui secara global mengelola aset sekitar USD 42,8 miliar dengan biaya pengelolaan hanya 0,25%, sedangkan FBTC (Fidelity Bitcoin ETF) mengelola USD 17,5 miliar dengan tarif biaya yang sama.
Sebaliknya, Bitcoin futures ETF memperoleh eksposur ke Bitcoin dengan memegang kontrak berjangka, bukan aset dasarnya. Kontrak berjangka merupakan perjanjian untuk membeli atau menjual Bitcoin pada harga tertentu di tanggal mendatang. Struktur ini membawa beberapa kelemahan. Pertama, futures ETF menghadapi masalah “perbedaan harga spot–futures.” Ketika harga futures menyimpang dari harga spot, dana harus rutin melakukan rebalancing posisi, sehingga menimbulkan biaya transaksi tambahan. Kedua, pasar futures mengandung risiko penyerahan dan risiko basis; di masa volatilitas ekstrem, futures ETF dapat berkinerja jauh di bawah atau menyimpang dari harga spot Bitcoin. Sebagai contoh, ProShares Bitcoin Futures ETF (BITO) menunjukkan deviasi signifikan selama volatilitas harga Bitcoin yang tajam.
Dari sisi praktik, investor disarankan memprioritaskan spot ETF. Langkah awal ketika membeli Bitcoin ETF tahun 2026 adalah memastikan memilih produk spot, bukan futures. Walaupun spot ETF pada umumnya mengenakan biaya pengelolaan 0,2%–0,25%, futures ETF—meski kadang tampak lebih murah—sering kali memiliki biaya tersembunyi lebih tinggi. Untuk investasi USD 50.000, selisih biaya tahunan dapat mencapai USD 100–125, angka yang berdampak besar dalam jangka panjang. Lebih penting lagi, spot ETF menawarkan akurasi pelacakan lebih tinggi, sehingga hasil investasi lebih sesuai dengan kinerja riil Bitcoin tanpa tergerus oleh kompleksitas struktur produk futures.
| Jenis ETF | Metode Pengelolaan | Biaya Pengelolaan | Error Pelacakan | Karakteristik Risiko |
|---|---|---|---|---|
| Spot ETF (IBIT) | Memegang Bitcoin Secara Langsung | 0,25% | Sangat Rendah | Rendah, Pelacakan Langsung |
| Spot ETF (FBTC) | Memegang Bitcoin Secara Langsung | 0,25% | Sangat Rendah | Rendah, Pelacakan Langsung |
| Spot ETF (BITB) | Memegang Bitcoin Secara Langsung | 0,20% | Sangat Rendah | Rendah, Pelacakan Langsung |
| Futures ETF (BITO) | Memegang Kontrak Berjangka | 0,95% | Sedang | Tinggi, Risiko Arbitrase Spot–Futures |
| Futures ETF (BTF) | Memegang Kontrak Berjangka | 1,00% | Sedang | Tinggi, Risiko Arbitrase Spot–Futures |
Pasar Bitcoin spot ETF di Amerika Serikat kini memiliki peta persaingan yang jelas. IBIT memimpin dengan dana kelolaan USD 42,8 miliar. Sebagai ETF Bitcoin terbesar, IBIT menawarkan likuiditas tertinggi dan biaya transaksi terendah. Keberhasilan IBIT sangat didorong oleh penerbit yang merupakan salah satu manajer aset terbesar di dunia, sehingga menumbuhkan kepercayaan investor atas keamanan dan reliabilitasnya. FBTC, meski lebih kecil dengan aset USD 17,5 miliar, merupakan produk unggulan Fidelity dan memiliki reputasi institusional yang solid. Keduanya membebankan biaya pengelolaan 0,25%, menjadikannya pilihan utama investor ritel.
BITB (Bitwise Bitcoin ETF) berada di posisi ketiga dengan dana kelolaan USD 3,8 miliar, sekaligus menawarkan biaya pengelolaan spot ETF terendah sebesar 0,20%, sangat menarik bagi investor yang fokus pada efisiensi biaya.
Di pasar Hong Kong, Bosera Bitcoin ETF (03008.HK) menjadi produk acuan regional. Hingga akhir 2025, produk ini mencatat return tahunan 24,24%, menunjukkan akurasi pelacakan dan kinerja investasi yang kuat. Harvest Bitcoin ETF (03439.HK) dan ChinaAMC Bitcoin ETF (03042.HK) juga menonjol dengan hasil yang positif.
Bagi investor yang ingin membeli Bitcoin ETF pada 2026, fokus utama sebaiknya pada dana berukuran besar, biaya rendah, dan likuiditas tinggi. ETF berukuran besar umumnya menawarkan spread bid–ask lebih ketat dan likuiditas lebih baik, sangat penting bagi trader aktif. Di Amerika Serikat, IBIT dan FBTC tetap menjadi pilihan konservatif dan andal, sedangkan BITB menjadi alternatif unggul bagi investor yang mengutamakan efisiensi biaya. Investor Asia yang mempertimbangkan Bitcoin ETF di Hong Kong sebaiknya memilih produk dari manajer aset utama seperti Bosera dan Harvest karena menawarkan skala dan likuiditas optimal.
Proses pembelian Bitcoin ETF bergantung pada platform yang digunakan. Untuk investor yang memilih exchange kripto seperti Gate, langkah pertama adalah mendaftar akun dan menyelesaikan verifikasi identitas. Setelah login, pengguna perlu mengunggah dokumen identitas dan bukti alamat untuk melengkapi proses KYC. Tahapan ini biasanya memakan waktu sekitar 24 jam.
Setelah verifikasi selesai, investor dapat melakukan deposit mata uang fiat. Gate menyediakan berbagai opsi deposit seperti kartu bank dan transfer wire, sehingga pengguna bisa memilih metode yang paling sesuai. Setelah deposit fiat berhasil, dana akan otomatis dikonversi ke USDT atau stablecoin lain yang didukung. Investor kemudian dapat mengakses antarmuka trading, mencari ticker atau nama Bitcoin ETF yang diinginkan, menentukan harga beli, memasukkan jumlah pembelian, dan mengonfirmasi transaksi. Setelah transaksi tereksekusi, posisi Bitcoin ETF akan langsung muncul di akun secara real time.
Bagi investor yang membeli Bitcoin ETF melalui bursa efek tradisional, prosesnya berbeda.
Pembelian IBIT atau FBTC melalui akun broker Amerika Serikat pada dasarnya sama seperti membeli saham biasa. Investor membuka akun broker, melakukan deposit dana melalui transfer bank, lalu mencari ticker ETF di platform trading. Order dapat dilakukan secara market order (harga pasar) atau limit order. Pemula perlu memahami bahwa market order akan dieksekusi langsung pada harga yang tersedia dan bisa terkena slippage, sedangkan limit order memungkinkan kendali harga tetapi bisa saja tidak tereksekusi. Untuk investor baru, market order saat likuiditas tinggi umumnya lebih aman.
5 Kesalahan Pemula yang Sering Terjadi: Hindari Ini untuk Investasi Lebih Efektif
Kesalahan pertama yang sering dilakukan pemula adalah mencampuradukkan spot ETF dengan futures ETF. Banyak investor tertarik dengan harga futures ETF yang tampak “lebih murah” tanpa memahami perbedaan struktur, sehingga menanggung kerugian jangka panjang karena error pelacakan. Sebaliknya, spot ETF memegang Bitcoin secara langsung sehingga nilai aktiva bersihnya sangat mencerminkan harga spot.
Kesalahan kedua adalah meremehkan efek biaya pengelolaan jangka panjang. Meski biaya tahunan 0,25% terlihat kecil, dalam 20 tahun efek akumulasinya bisa signifikan. Sebagai ilustrasi, dengan investasi awal USD 10.000 dan rata-rata apresiasi Bitcoin 15% per tahun, perbedaan nilai akhir antara ETF biaya 0,25% dan 0,95% bisa melebihi USD 3.000.
Kesalahan ketiga adalah salah memahami jam perdagangan. Bitcoin ETF hanya diperdagangkan pada jam bursa saham, sementara Bitcoin diperdagangkan 24/7. Investor yang mencoba membeli ETF pada malam hari atau akhir pekan harus menunggu pasar buka, berpotensi kehilangan peluang harga atau masuk di titik yang kurang ideal.
Kesalahan keempat adalah tidak memiliki strategi investasi yang jelas. Banyak pemula terjebak membeli di harga tinggi dan menjual di harga rendah karena keputusan emosional. Pendekatan yang lebih disiplin adalah dollar-cost averaging—berinvestasi secara berkala dalam jumlah tetap. Strategi ini meratakan biaya masuk dan mengurangi risiko timing, sehingga sangat cocok untuk investasi jangka panjang.
Kesalahan kelima adalah mengabaikan kewajiban pajak. Di banyak yurisdiksi, keuntungan dari jual beli atau pertukaran aset kripto—termasuk Bitcoin ETF—dikenakan pajak capital gain. Platform seperti Gate menyediakan fitur ekspor riwayat transaksi detail, dan investor wajib menjaga catatan akurat serta berkonsultasi dengan profesional pajak agar tetap patuh dan terhindar dari sanksi.











