

Mike McGlone, Senior Commodity Strategist di Bloomberg Intelligence, telah merilis analisis tentang proyeksi pergerakan Bitcoin dan aset berisiko lainnya. Penelitian tersebut menyoroti risiko koreksi besar di pasar cryptocurrency, yang didasarkan pada analisis fundamental serta model valuasi komparatif. Bloomberg Intelligence, sebagai divisi utama Bloomberg, fokus pada analisa mendalam berbagai kelas aset, baik instrumen keuangan tradisional maupun digital.
Model analitik Bloomberg Intelligence menilai nilai wajar Bitcoin dengan membandingkannya terhadap harga emas sebagai aset safe-haven tradisional. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan sekitar 20 kali nilai emas. Namun, model Bloomberg menunjukkan valuasi yang lebih rasional di sekitar 13 kali harga emas. Metodologi ini didasarkan pada analisis komparatif terhadap karakter inti kedua aset—fungsi sebagai penyimpan nilai, likuiditas, volatilitas, dan korelasi historis dengan faktor makroekonomi.
Berdasarkan perhitungan model nilai wajar, McGlone memproyeksikan target Bitcoin di kisaran USD 50.000. Angka ini mewakili koreksi substansial dari level tertinggi sebelumnya. Penurunan tersebut akan mengembalikan rasio Bitcoin terhadap emas ke tingkat yang lebih seimbang, sesuai dengan karakter fundamental cryptocurrency menurut McGlone. Perlu ditekankan bahwa proyeksi ini bukan satu-satunya kemungkinan, melainkan estimasi nilai wajar berdasarkan model analitik spesifik.
Proyeksi McGlone mempertimbangkan berbagai faktor yang memberi tekanan pada pasar cryptocurrency dan aset berisiko secara umum. Risiko utama meliputi perubahan kebijakan moneter bank sentral yang dapat memperketat kondisi keuangan. Peningkatan pengawasan regulasi terhadap industri crypto di berbagai yurisdiksi juga menambah ketidakpastian bagi investor. Faktor makroekonomi seperti ekspektasi inflasi, pergerakan suku bunga, dan ketegangan geopolitik turut memengaruhi daya tarik aset berisiko tinggi seperti Bitcoin.
Pasar cryptocurrency secara konsisten menunjukkan tingkat volatilitas tinggi dan koreksi besar secara periodik. Secara historis, Bitcoin telah mengalami penurunan 50–80% dari puncak lokal dalam siklus pasar yang normal. Koreksi ini sering kali terjadi setelah periode pertumbuhan pesat dan optimisme berlebihan di kalangan pelaku pasar. Data historis menunjukkan bahwa setelah mencapai rekor tertinggi baru, pasar sering masuk ke fase repricing dan konsolidasi, kembali ke tingkat valuasi yang lebih berkelanjutan. Memahami pola siklus ini memungkinkan investor menetapkan ekspektasi yang lebih realistis terhadap tren harga ke depan.
Perbandingan antara Bitcoin dan emas sebagai aset safe-haven adalah pendekatan analisis keuangan yang umum dilakukan. Keduanya berfungsi sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan depresiasi mata uang fiat, namun memiliki perbedaan mendasar. Emas telah menjadi penyimpan nilai selama ribuan tahun, menawarkan likuiditas tinggi dan volatilitas rendah. Bitcoin, meskipun terbatas dalam penerbitan dan bersifat desentralisasi, jauh lebih volatil dan memiliki sejarah yang jauh lebih singkat. Model Bloomberg memasukkan perbedaan ini guna menentukan rasio valuasi optimal antara kedua aset.
Potensi penurunan Bitcoin ke USD 50.000 membawa konsekuensi penting bagi berbagai kelompok investor. Pemegang jangka panjang dapat memanfaatkan koreksi sebagai peluang akumulasi di harga yang lebih menarik. Trader jangka pendek dan spekulan perlu memperhitungkan risiko tambahan dan mengelola posisi dengan cermat. Investor institusi, yang semakin tertarik pada cryptocurrency, mungkin akan meninjau kembali strategi alokasi aset dengan mempertimbangkan potensi volatilitas. Penting untuk diingat bahwa setiap proyeksi bersifat probabilistik—pergerakan pasar aktual dapat sangat berbeda dari hasil model, tergantung pada perkembangan makroekonomi dan faktor spesifik yang memengaruhi pasar crypto.
Mike McGlone adalah analis dan investor cryptocurrency terkemuka serta pendiri Galaxy Digital Holdings. Ia memiliki pengaruh besar terhadap pasar melalui investasi dan proyeksinya terhadap Bitcoin maupun aset lainnya.
Pendorong utama adalah kekhawatiran perlambatan ekonomi dan prospek negatif pertumbuhan ekonomi AS. Sentimen investasi dan kondisi makroekonomi sangat menentukan pergerakan harga Bitcoin.
Ya, Bitcoin pernah beberapa kali turun di bawah level tersebut. Harga terendah historisnya sekitar USD 0,65 pada tahun 2010. Per 9 Januari 2026, harga Bitcoin saat ini sebesar USD 18.000.
Penurunan ke USD 50.000 memberi peluang bagi pemegang untuk akumulasi di harga lebih rendah, tetapi juga berarti kerugian yang terealisasi bagi posisi yang sudah ada. Ini dapat menandai fase konsolidasi sebelum potensi rebound, atau sebagai koreksi tren pasar.
Analisis teknikal menunjukkan momentum melemah melalui penurunan RSI dan persilangan rata-rata bergerak bearish. Penurunan volume perdagangan dan munculnya pola bearish mengarah pada potensi pergerakan ke USD 50.000.
Analis bullish memperkirakan Bitcoin menembus USD 100.000 dengan menyoroti keunggulan teknologi, adopsi institusi, serta pasokan yang terbatas. Mereka menilai potensi pertumbuhan jangka panjang sangat besar.
Kurangi ukuran posisi, fokus pada Bitcoin, dan hindari altcoin. Menahan dalam jangka panjang dianggap sebagai strategi paling aman. Bersikap sabar dan menunggu pemulihan pasar.
Proyeksi harga Bitcoin biasanya kurang dari 50% akurat karena volatilitas dan ketidakpastian. Prediksi analis umumnya berbasis penilaian subjektif. Sebagian besar proyeksi tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat dan harus disikapi secara kritis.











