

CEO Strategy, Phong Le, memberikan klarifikasi penting mengenai kepemilikan Bitcoin perusahaan dan syarat-syarat penjualan yang mungkin dilakukan. Le menegaskan bahwa perusahaan hanya akan mempertimbangkan penjualan aset Bitcoin dalam kondisi yang sangat spesifik dan ekstrem. Syarat utama penjualan adalah apabila Market Net Asset Value (mNAV) turun di bawah 1 dan perusahaan tidak dapat memperoleh pendanaan baru. Pernyataan ini disampaikan untuk merespons kekhawatiran dan spekulasi pasar terkait strategi investasi kripto Strategy.
Le menegaskan bahwa keputusan menjual Bitcoin merupakan “langkah terakhir”, bukan strategi proaktif ataupun perubahan kebijakan jangka panjang. CEO menekankan bahwa keputusan tersebut bersifat finansial murni, dipicu oleh kondisi pasar luar biasa dan situasi permodalan yang memburuk. Klarifikasi ini sangat penting bagi investor dan pemangku kepentingan yang terus memantau kepemilikan besar Bitcoin oleh Strategy dan kesehatan keuangannya secara menyeluruh.
Pimpinan perusahaan telah menetapkan batasan jelas yang dapat memicu penjualan Bitcoin. mNAV menjadi indikator utama kesehatan keuangan perusahaan terhadap valuasi pasar. Jika rasio ini turun di bawah 1, artinya pasar menilai perusahaan lebih rendah dari nilai aset bersihnya—mengindikasikan tekanan finansial atau keraguan pasar terhadap prospek perusahaan.
Namun, meski ambang batas mNAV terlewati, Strategy tidak langsung menjual Bitcoin. Perusahaan akan mengeksplorasi seluruh opsi pendanaan yang ada untuk mempertahankan kepemilikan aset kripto. Hanya jika kedua kondisi terpenuhi—mNAV di bawah 1 serta gagal memperoleh modal baru—penjualan Bitcoin baru dipertimbangkan. Pendekatan dua syarat ini menunjukkan komitmen Strategy dalam mempertahankan strategi Bitcoin sekaligus menjaga stabilitas keuangan.
Merespons kekhawatiran pasar terkait kewajiban utang dan posisi likuiditasnya, Strategy mengambil langkah proaktif untuk meningkatkan transparansi. Strategy memperkenalkan alat pemantauan baru bernama “BTC Credit” dashboard. Dashboard ini menyediakan pembaruan real-time atau berkala mengenai metrik keuangan perusahaan yang berkaitan dengan kepemilikan Bitcoin dan posisi kredit secara keseluruhan.
BTC Credit dashboard menjadi sarana komunikasi penting yang memungkinkan investor, kreditur, dan pemangku kepentingan lain menilai kesehatan keuangan perusahaan secara independen. Dengan menyediakan akses transparan ke metrik keuangan utama, Strategy bertujuan mengurangi ketidakpastian pasar dan menunjukkan komitmen pada tata kelola keuangan yang bertanggung jawab. Transparansi ini sangat penting mengingat tingginya volatilitas pasar kripto dan besarnya kepemilikan Bitcoin oleh Strategy.
Meski muncul kekhawatiran terkait potensi periode berkepanjangan harga Bitcoin rendah, Strategy tetap yakin dengan struktur keuangannya. Perusahaan memastikan kepada para pemangku kepentingan bahwa struktur utangnya kokoh dan dikelola secara optimal, bahkan pada skenario pasar yang berat. Penataan utang dilakukan dengan mempertimbangkan volatilitas pasar kripto, termasuk ketentuan untuk berbagai skenario harga.
Selain itu, Strategy menegaskan bahwa cakupan arus kasnya tetap kuat. Arus kas operasional dan buffer likuiditas yang dimiliki memberikan cadangan yang cukup untuk memenuhi kewajiban utang tanpa perlu menjual kepemilikan Bitcoin pada kondisi pasar normal. Ketahanan keuangan ini dibangun di atas diversifikasi pendapatan dan praktik pengelolaan modal yang bijaksana.
Rekayasa keuangan perusahaan mencakup berbagai mekanisme untuk menghadapi tekanan pasar, seperti cadangan strategis, fasilitas kredit, serta efisiensi operasi. Penjagaan ini memastikan penjualan Bitcoin benar-benar menjadi pilihan terakhir, hanya dilakukan pada kombinasi kondisi pasar dan kendala modal paling ekstrem. Pendekatan ini mencerminkan strategi seimbang: tetap mendapatkan potensi kenaikan Bitcoin, sekaligus melindungi stabilitas fundamental keuangan perusahaan.
mNAV adalah rasio nilai pasar perusahaan terhadap aset kripto bersih yang dimiliki. Jika mNAV turun di bawah 1, berarti nilai pasar perusahaan lebih rendah dari total nilai kepemilikan Bitcoin. CEO menggunakan ambang ini bersama tidak adanya pendanaan baru sebagai pemicu penjualan Bitcoin, memastikan likuidasi aset strategis hanya dilakukan saat benar-benar diperlukan.
CEO menggunakan mNAV di bawah 1 sebagai ambang kritis untuk melindungi nilai pemegang saham dan menjaga permodalan perusahaan. Strategi ini meminimalkan potensi kerugian dan menjadi pengaman, memastikan penjualan Bitcoin hanya dilakukan sebagai langkah terakhir saat tekanan keuangan, bukan pada fluktuasi pasar normal.
Tanpa pendanaan baru, perusahaan menghadapi risiko dilusi pemegang saham serta terhentinya akumulasi aset. Kreditur bisa meragukan integritas aset, menyebabkan tekanan keuangan berkelanjutan dan membatasi pembelian Bitcoin di masa mendatang.
mNAV di bawah 1 berarti valuasi pasar perusahaan lebih besar dari kepemilikan Bitcoin-nya. Ini menunjukkan peluang imbal hasil tinggi bagi investor ekuitas, namun juga menandakan risiko yang lebih besar karena pasar memberi harga premium di atas nilai aset dasar.
CEO ini hanya menjual Bitcoin jika mNAV turun di bawah 1 dan tidak ada pendanaan baru, menonjolkan pengelolaan kas yang disiplin. Berbeda dengan kebanyakan perusahaan yang bereaksi spontan, strategi ini memprioritaskan kepemilikan jangka panjang dengan pemicu valuasi yang ketat, mencerminkan alokasi modal yang terukur dan terencana.











