

Interoperabilitas pada blockchain adalah kemampuan suatu jaringan untuk bertukar data secara bebas dengan blockchain lain. Cross-chain interoperability memungkinkan aplikasi saling berkomunikasi dan berinteraksi lintas jaringan blockchain yang berbeda, sehingga data dan nilai dapat berpindah antar sistem yang terpisah. Kemampuan ini menghadirkan konektivitas dan integrasi mulus di antara ekosistem yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.
Pada level fundamental, cross-chain interoperability memungkinkan smart contract di berbagai chain untuk saling berkomunikasi tanpa harus mengirim token secara langsung antar chain. Aset, layanan, dan transaksi yang tercatat di satu blockchain dapat direpresentasikan di blockchain lain dengan solusi interoperabilitas yang tepat. Dengan demikian, aplikasi dapat memanfaatkan aset atau layanan dari chain mana pun, terlepas dari lokasi deployment, sehingga tercipta lingkungan blockchain yang benar-benar terhubung. Pemahaman tentang cross chain sangat krusial bagi developer dan pengguna yang ingin mengoptimalkan keunggulan multi-chain.
Blockchain saat ini berada pada posisi serupa dengan era awal internet: banyak ekosistem terpisah yang tidak dapat bertukar informasi. Kurangnya interoperabilitas dan konektivitas menjadi hambatan besar bagi adopsi teknologi blockchain secara luas, lantaran aliran data dan nilai antar jaringan tidak berjalan dengan lancar.
Bagi pengembang, setiap deployment blockchain adalah instance yang berdiri sendiri, sehingga kontrak backend tidak terhubung dan tidak saling mengetahui. Misalnya, aplikasi terdesentralisasi harus di-deploy satu per satu pada berbagai jaringan blockchain, membuat setiap versi aplikasi terisolasi dari lainnya. Fragmentasi ini menyebabkan inefisiensi dalam proses pengembangan dan pemeliharaan.
Bagi pengguna, metode multi-deployment menimbulkan berbagai tantangan. Misalnya, transfer token dari satu blockchain ke blockchain lain tidak bisa dilakukan secara langsung. Proses tradisional mengharuskan aset dimusnahkan di blockchain sumber dan dicetak ulang di blockchain tujuan lewat bridge pihak ketiga. Proses ini memakan waktu dan membingungkan, menimbulkan pulau data terpisah dan pengalaman pengguna yang kurang baik. Selain itu, risiko keamanan dalam menyimpan aset di berbagai blockchain sangat tinggi, membuka peluang terjadinya peretasan dan kehilangan dana.
Konektivitas cross-chain semakin maju seiring developer membangun solusi yang memudahkan koneksi serta transfer data dan nilai antar jaringan. Inovasi-inovasi ini membuka peluang baru untuk aplikasi blockchain yang lebih terhubung dan ramah pengguna, sekaligus menjawab kebutuhan cross chain secara nyata.
Chainlink mengembangkan Cross-Chain Interoperability Protocol (CCIP), standar open-source yang memungkinkan komunikasi lintas chain, termasuk pesan dan transfer token. Tujuan CCIP adalah menciptakan koneksi universal antara ratusan jaringan blockchain lewat antarmuka terstandarisasi. Dengan pendekatan ini, pengembangan aplikasi dan layanan cross-chain menjadi lebih sederhana melalui kerangka komunikasi terpadu.
Wormhole adalah protokol interoperabilitas generik yang memungkinkan transfer token dan pesan antar jaringan blockchain. Pesan di chain sumber dipantau oleh jaringan guardian yang memverifikasi dan memfasilitasi transfer ke chain tujuan. Developer yang menggunakan Wormhole dapat membangun aplikasi desentralisasi cross-chain (xDapps), sehingga aplikasi multi-chain dengan fungsionalitas terpadu benar-benar dapat diwujudkan.
LayerZero merupakan protokol interoperabilitas omnichain untuk pertukaran pesan ringan antar blockchain, menawarkan pengiriman pesan yang aman dan dapat diatur tingkat trustlessness-nya. Ultra-light nodes (ULN) LayerZero adalah smart contract yang menyediakan block header dari chain lain yang di-bridge untuk efisiensi. ULN hanya aktif sesuai permintaan, dan smart contract berkomunikasi dengan oracle serta relayer melalui endpoint LayerZero. Desain ini menghadirkan komunikasi cross-chain yang ringan namun efisien tanpa membutuhkan komputasi besar.
Hyperlane adalah protokol delegated proof of stake (PoS) yang memvalidasi dan mengamankan komunikasi cross-chain melalui metode konsensus yang dapat diatur. Di jaringan Hyperlane, setiap validator bertanggung jawab memvalidasi setiap chain yang terhubung, memastikan komunikasi cross-chain tetap aman dan akurat. Validasi terdistribusi ini memperkuat keamanan lewat redundansi dan desentralisasi.
Inter-Blockchain Communication (IBC) merupakan protokol standar interaksi blockchain di Cosmos Network, dirancang untuk memungkinkan interoperabilitas antar blockchain. IBC menetapkan fungsi minimal dalam Interchain Standards (ICS), yang mengatur tata cara komunikasi dan pertukaran data antar blockchain. Contohnya adalah Osmosis, decentralized exchange yang memungkinkan pengguna menukar token antar blockchain. Osmosis memanfaatkan IBC untuk swap token antar chain secara seamless, sehingga pemegang token langsung mendapat manfaat interoperabilitas IBC.
Avalanche Warp Messaging (AWM) dikembangkan agar fleksibel dan memungkinkan developer membuat spesifikasi pesan sendiri untuk komunikasi. Spesifikasi AWM memerlukan array byte, indeks partisipan BLS Multi-Signature, dan signature BLS itu sendiri. AWM memudahkan developer membangun aplikasi desentralisasi di Avalanche dengan kemampuan messaging cross-chain yang dapat disesuaikan.
BTC Relay adalah chain relay yang dapat digunakan langsung untuk mengirim Bitcoin block header ke Ethereum. Dengan fitur ini, BTC Relay memungkinkan verifikasi transaksi Bitcoin di blockchain Ethereum, sehingga tercipta bridge trustless antara kedua jaringan. Solusi ini membuktikan bahwa arsitektur blockchain yang berbeda dapat dihubungkan tanpa perantara terpusat.
Cross-Consensus Message Format (XCM) memungkinkan sistem konsensus berbeda saling berkomunikasi di Polkadot. Setelah merger XCM versi 3, developer dapat membangun aplikasi yang mendukung bridge, cross-chain locking, exchange, NFT, conditionals, context-tracking, dan lain-lain. Contohnya, Moonbeam XCM SDK mendukung transfer token XCM, sehingga developer bisa berinteraksi dengan jaringan Polkadot menggunakan XCM dan menciptakan aplikasi multi-chain yang canggih.
Axelar menawarkan komunikasi cross-chain lewat protokol General Message Passing, memungkinkan developer membangun aplikasi desentralisasi yang beroperasi di banyak jaringan blockchain. Axelar juga menyediakan komunikasi interchain yang aman lewat delegated PoS (dPoS) untuk pengguna yang bridging token, memperlihatkan seperti apa infrastruktur cross chain masa kini.
Manfaat interoperabilitas blockchain sangat jelas dan signifikan. Pengguna dapat bertransaksi di berbagai jaringan blockchain secara seamless, tanpa perantara terpusat. Interoperabilitas mengurangi fragmentasi, meningkatkan konektivitas dalam ekosistem blockchain, serta membuka peluang dan model bisnis baru. Keterhubungan ini mendorong inovasi dan memunculkan aplikasi yang sebelumnya tidak mungkin dibuat.
Namun, terdapat sejumlah keterbatasan pada solusi ini. Blockchain yang berbeda bisa memiliki solusi keamanan, algoritma konsensus, dan bahasa pemrograman yang beragam, sehingga kompleksitas teknis meningkat. Solusi cross-chain juga dapat meningkatkan risiko serangan dan menimbulkan tantangan tata kelola baru antar blockchain. Mekanisme bridging yang inovatif menambah lapisan kerentanan yang harus dikelola dengan cermat.
Solusi cross-chain interoperability berpotensi meningkatkan efisiensi dan fungsi jaringan blockchain dengan memungkinkan komunikasi, transfer data, dan nilai antar jaringan berbeda. Pemahaman tentang cross chain sangat penting untuk memahami cara kerja ekosistem blockchain modern. Perkembangan cross-chain interoperability ke depan diperkirakan memicu inovasi lebih besar antar blockchain dan membuka peluang baru bagi aplikasi blockchain, sehingga ekosistem blockchain menjadi lebih terhubung dan ramah pengguna.
Agar penggunaan dan adopsi meluas, berbagai solusi cross-chain interoperability harus mencapai stabilitas dan keamanan lebih tinggi. Walaupun banyak solusi bermunculan dengan pendekatan dan trade-off masing-masing, belum dapat dipastikan mana yang akan menjadi alat konektivitas blockchain universal paling efisien, stabil, dan aman. Seiring kemajuan teknologi, upaya standarisasi serta audit keamanan berkelanjutan akan menjadi kunci untuk mewujudkan potensi penuh interoperabilitas cross-chain.
Cross chain merepresentasikan interoperabilitas antar berbagai jaringan blockchain, sehingga transfer aset dan komunikasi dapat berlangsung seamless di banyak chain. Ini menghapus silo blockchain, memungkinkan pengguna mengakses ekosistem dan pool likuiditas yang beragam dengan efisien, sambil menjaga keamanan dan desentralisasi di seluruh jaringan yang terhubung.
Teknologi cross-chain membuat transfer aset dan informasi antar blockchain berbeda menjadi mungkin melalui bridge, tanpa perantara. Teknologi ini mendukung swap aset dan transfer data secara seamless lintas jaringan, meningkatkan interoperabilitas dan pertumbuhan ekosistem DeFi tanpa memerlukan kustodian terpusat.
Cross-chain interoperability meningkatkan likuiditas pasar, menghilangkan silo data, menurunkan biaya operasional, dan menyederhanakan pengalaman pengguna dengan menghubungkan ekosistem blockchain yang terfragmentasi secara seamless.
Tantangan utama mencakup risiko keamanan, yakni menjaga transfer aset antar blockchain tetap aman; isu interoperabilitas, yakni memastikan komunikasi seamless antar chain berbeda; dan latensi, yaitu meminimalkan keterlambatan transaksi. Selain itu, kompleksitas standarisasi dan koordinasi validator juga menjadi hambatan yang signifikan.











