Berita dari The Kobeissi Letter baru saja menunjukkan sinyal penting di papan catur geopolitik. Baru-baru ini, Presiden AS Donald Trump mengunggah di Truth Social bahwa Washington menuntut Iran untuk “menyerah tanpa syarat”, sebuah pernyataan keras yang mengindikasikan bahwa setiap kesepakatan gencatan senjata mungkin akan tertunda.
Namun, jika melihat kembali preseden sejarah, sebuah pernyataan dengan kata-kata serupa dari Presiden AS sebelumnya telah diikuti oleh gencatan senjata nyata hanya dalam enam hari. Berdasarkan pola ini, banyak analis saat ini memperkirakan bahwa kesepakatan gencatan senjata bisa muncul sekitar tanggal 12 Maret tahun ini.
Grafik harga Minyak Mingguan | Sumber: XYang menarik, hipotesis ini tidak hanya didasarkan pada spekulasi politik. Sinyal dari pasar keuangan juga tampaknya memperkuat skenario tersebut.
Pasar crypto akhir-akhir ini mencatat arus dana masuk yang kuat, sementara harga minyak global meningkat secara signifikan. Khususnya, minyak AS sedang dalam tren mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak 1982, dengan kenaikan hingga 34,5% hanya dalam beberapa hari.
Dari sudut pandang ekonomi makro, kenaikan harga minyak biasanya akan menimbulkan tekanan inflasi jangka panjang. Jika dikombinasikan dengan biaya perang yang semakin membengkak, tekanan fiskal dapat membuat para pihak terkait mempertimbangkan secara serius untuk mencapai gencatan senjata.
Hingga saat ini, aset berisiko—terutama crypto—sepertinya berperan sebagai alat perlindungan terhadap ketidakpastian geopolitik. Tetapi pertanyaan besar yang muncul adalah: jika gencatan senjata benar-benar dipertahankan, apakah crypto akan kehilangan peran perlindungannya, atau justru menjadi katalis untuk lonjakan pertumbuhan pasar yang “telah lama ditunggu”?
Minggu perdagangan terakhir menjadi bukti nyata tingkat volatilitas khas pasar crypto.
Pada paruh pertama minggu, hampir 150 miliar USD mengalir cepat ke pasar, menciptakan gelombang kenaikan yang kuat. Namun, euforia ini tidak bertahan lama. Arus dana mulai menurun secara nyata di paruh kedua minggu, sehingga total nilai pasar berisiko hanya bertambah sekitar 50 miliar USD—yang berarti 67% dari keuntungan sebelumnya telah hilang.
Namun, yang lebih menarik adalah gambaran makro di baliknya. Gelombang modal awalnya sebagian besar dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, saat investor mencari Bitcoin sebagai tempat berlindung sementara, yang memperkuat argumen bahwa BTC mulai menunjukkan ciri-ciri aset perlindungan.
Grafik harian XAU/BTC | Sumber: TradingViewNamun, saat tren kenaikan melemah, pasar mulai mempertanyakan: apakah Bitcoin benar-benar mampu mempertahankan perannya tersebut? Pada saat yang sama, rasio XAU/BTC melonjak 6% dalam satu hari, memulihkan hampir 50% dari penurunan mingguan—sebuah sinyal bahwa arus dana mungkin sedang kembali ke aset tradisional seperti emas.
Dari sudut pandang perputaran modal, skenario dana keluar dari crypto dan kembali ke pasar tradisional semakin jelas. Ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah melejitnya Bitcoin melewati angka 70.000 USD adalah tanda kebutuhan perlindungan yang nyata, atau hanya sebuah loncatan palsu (fakeout)?
Dengan volatilitas yang tinggi minggu ini, skenario kedua tampaknya lebih meyakinkan—setidaknya dalam jangka pendek.
Dalam konteks tersebut, gencatan senjata di Timur Tengah bisa menjadi katalis kenaikan harga yang penting, membantu memulihkan kepercayaan investor terhadap crypto sebagai alat perlindungan.
Sebaliknya, jika ketegangan terus meningkat dan harga minyak tidak berhenti naik, arus dana kemungkinan besar akan mengalir lebih banyak ke emas, melemahkan posisi crypto dan menyulitkan Bitcoin untuk mempertahankan lonjakan melewati 70.000 USD.
SN_Nour