Dampak harga minyak melanda seluruh dunia, tetapi Bitcoin tetap bertahan di $67.000: Tingkat keterkaitan dengan Wall Street menjadi variabel kunci

BTC0,67%

9 Maret, menurut laporan, konflik geopolitik di Timur Tengah terus meningkat, harga minyak internasional telah menembus angka 100 dolar AS per barel, dan volatilitas pasar global menjadi jelas. Namun, di tengah penurunan umum pasar saham Asia dan meningkatnya hasil obligasi, harga Bitcoin tetap relatif stabil, saat ini masih berkisar sekitar 67.000 dolar AS, hampir sama dengan 24 jam yang lalu.

Analisis pasar menganggap bahwa salah satu alasan utama mengapa Bitcoin mampu bertahan adalah karena hubungan korelasinya yang semakin kuat dengan pasar keuangan AS. Setelah konflik pecah baru-baru ini, pasar saham AS menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibandingkan pasar Asia, dan korelasi pergerakan Bitcoin dengan saham teknologi AS serta indeks Nasdaq terus meningkat, sehingga juga menunjukkan stabilitas serupa.

Analis dari JPMorgan, Kriti Gupta dan Justin Beimann, dalam laporan terbaru mereka menunjukkan bahwa AS memiliki keunggulan yang jelas dalam pasokan energi, yang sebagian mengurangi dampak kenaikan harga minyak. Data menunjukkan bahwa impor minyak AS sebagian besar berasal dari Kanada dan Meksiko, hanya sekitar 4% dari Arab Saudi, dan saat ini AS telah menjadi negara pengekspor bersih minyak terbesar di dunia. Oleh karena itu, meskipun terjadi gangguan pengangkutan di Selat Hormuz, dampak langsung terhadap AS relatif terbatas.

Sebaliknya, pasar Asia mengalami dampak yang lebih besar. Sejak konflik pecah pada 28 Februari, indeks Nikkei Jepang turun sekitar 10%, indeks Nifty India turun sekitar 5%, dan indeks KOSPI Korea Selatan turun lebih dari 16%. Sementara itu, kontrak berjangka indeks utama AS mengalami penurunan yang lebih kecil, menunjukkan adanya perbedaan penilaian risiko di berbagai wilayah.

Dengan masuknya dana institusional ke pasar kripto secara terus-menerus, atribut aset Bitcoin juga mengalami perubahan. Sejak 2024, AS meluncurkan ETF Bitcoin spot yang memberikan investor institusional saluran alokasi yang lebih langsung, mendorong Bitcoin secara bertahap dipandang sebagai aset yang terkait dengan risiko AS. Selain itu, setelah Trump terpilih kembali pada akhir 2024, ekspektasi pasar terhadap kebijakan regulasi kripto yang lebih longgar semakin menguatkan korelasi ini.

Selain faktor makro, Bitcoin sebelumnya mengalami koreksi besar, dan harganya sempat mendekati 60.000 dolar AS. Beberapa analis berpendapat bahwa koreksi ini membersihkan posisi spekulatif jangka pendek dan membangun dasar harga yang lebih kokoh untuk pasar.

Namun, kenaikan harga energi tetap berpotensi memiliki efek tertunda terhadap ekonomi AS. Kriti Gupta dan Justin Beimann menunjukkan bahwa meskipun tingkat kemandirian energi AS cukup tinggi, kenaikan harga minyak global akhirnya dapat menyebar ke pengeluaran konsumen melalui harga bensin. Jika harga minyak tetap tinggi dalam jangka panjang, tekanan inflasi di masa depan juga berpotensi kembali muncul di pasar.

Lihat Asli
Penafian: Informasi di halaman ini dapat berasal dari pihak ketiga dan tidak mewakili pandangan atau opini Gate. Konten yang ditampilkan hanya untuk tujuan referensi dan bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, atau hukum. Gate tidak menjamin keakuratan maupun kelengkapan informasi dan tidak bertanggung jawab atas kerugian apa pun yang timbul akibat penggunaan informasi ini. Investasi aset virtual memiliki risiko tinggi dan rentan terhadap volatilitas harga yang signifikan. Anda dapat kehilangan seluruh modal yang diinvestasikan. Harap pahami sepenuhnya risiko yang terkait dan buat keputusan secara bijak berdasarkan kondisi keuangan serta toleransi risiko Anda sendiri. Untuk detail lebih lanjut, silakan merujuk ke Penafian.
Komentar
0/400
Tidak ada komentar