Grammarly Luncurkan “Expert Review” yang Menggunakan AI untuk Meniru Komentar Akademisi, Memicu Kontroversi Penggunaan Nama Tanpa Izin dan Isu Etika Akademik.
Alat kecerdasan buatan terus meresap ke dalam industri penulisan dan penelitian, namun fitur terbaru “AI yang meniru komentar para ahli” memicu perdebatan sengit mengenai etika dan hak izin. Grammarly, alat penulisan terkenal, baru-baru ini meluncurkan fitur bernama “Expert Review” yang memungkinkan pengguna saat menulis dokumen, untuk mendapatkan saran dan komentar dari AI yang meniru sudut pandang akademisi atau pengulas tertentu.
Fitur ini menganalisis teks yang sedang ditulis pengguna dan secara otomatis merekomendasikan “ahli” yang sesuai berdasarkan topik, kemudian menghasilkan komentar melalui model bahasa besar. Contohnya:
Grammarly menyatakan bahwa fitur ini tidak benar-benar melibatkan para ahli tersebut dalam proses review, melainkan menggunakan karya penelitian dan tulisan mereka yang dipublikasikan secara terbuka untuk menghasilkan komentar yang “terinspirasi dari pemikiran mereka”. Perusahaan menambahkan bahwa sistem akan memilih secara otomatis akademisi atau pengulas yang berpengaruh sesuai topik artikel, dan menyarankan pengguna untuk membaca karya mereka lebih lanjut.
Namun, pendekatan ini tetap memicu kritik keras dari dunia akademik, terutama karena beberapa akademisi menemukan nama mereka digunakan sebagai karakter komentar AI tanpa izin atau kerjasama sebelumnya.
Salah satu isu paling kontroversial adalah AI yang mampu meniru gaya komentar dari akademisi yang sudah meninggal. Beberapa akademisi menilai bahwa hal ini sama saja dengan “menghidupkan kembali akademisi” secara virtual, dan menggunakan nama mereka untuk menilai karya orang lain.
Vanessa Heggie, profesor sejarah di University of Birmingham, Inggris, secara terbuka mengkritik fitur ini di LinkedIn. Ia menuduh Grammarly menggunakan hasil penelitian akademik mereka untuk membangun model bahasa, dan kemudian memakai nama serta reputasi mereka sebagai karakter dalam sistem AI tersebut. Ia mempertanyakan apakah para akademisi tersebut pernah memberi izin kepada perusahaan untuk menggunakan karya mereka dalam pelatihan model, atau menyetujui penggunaan nama mereka untuk “review AI”.
Sumber gambar: LinkedIn Vanessa Heggie, profesor sejarah di University of Birmingham, Inggris, mengkritik fitur ini secara terbuka
Heggie menyatakan bahwa banyak akademisi, bahkan yang sudah meninggal, tetap digunakan sebagai karakter dalam sistem AI. Ia berpendapat bahwa menggunakan karya dan reputasi akademik mereka tanpa izin adalah tindakan yang tidak dapat diterima.
Seorang akademisi lain, Brielle Harbin, mantan associate professor ilmu politik di US Naval Academy, juga menyatakan kekhawatirannya. Ia menilai bahwa tanpa penjelasan, izin, atau kerjasama resmi, perusahaan AI yang langsung membangun model komentar dengan nama akademisi dapat memperburuk ketidakpercayaan terhadap alat AI di kalangan pendidikan.
Sumber gambar: LinkedIn Brielle Harbin, mantan associate professor ilmu politik di US Naval Academy, menyatakan kekhawatirannya tentang fitur ini
Harbin berpendapat bahwa industri pendidikan tinggi saat ini masih dalam tahap menunggu dan melihat. Jika perusahaan teknologi mengabaikan kerjasama dan etika akademik saat merancang produk, keinginan untuk mempercepat adopsi AI justru dapat memicu resistensi yang lebih besar.
Grammarly pertama kali diluncurkan pada tahun 2009 sebagai alat bantu tata bahasa dan penulisan berbasis AI. Seiring perkembangan teknologi AI generatif, perusahaan secara bertahap mengubah produk dari sekadar asisten penulisan menjadi platform produktivitas AI yang multifungsi. Pada Oktober 2025, perusahaan induk Grammarly mengumumkan rebranding, mengubah identitas merek menjadi “Superhuman”, menandakan bahwa produk mereka tidak lagi sekadar alat pengecek tata bahasa, melainkan rangkaian agen AI (AI Agents) yang menjalankan berbagai tugas.
Saat ini, lini produk mereka telah meluas ke berbagai aplikasi, termasuk bantuan penelitian, penulisan email, pengelolaan jadwal, dan otomatisasi alur kerja. Expert Review adalah salah satu layanan agen AI terbaru yang diluncurkan. Dalam penjelasannya, Grammarly menyatakan bahwa Expert Review dirancang untuk membantu pelajar, peneliti, dan profesional meningkatkan kualitas tulisan mereka. Misalnya, saat pengguna menulis proposal pemasaran, laporan akademik, atau dokumen bisnis, sistem akan menganalisis isi teks dan memberikan komentar yang meniru dari para ahli.
Perusahaan menegaskan bahwa fitur ini tidak mengklaim bahwa para ahli tersebut benar-benar terlibat dalam proses review, maupun memberikan dukungan terhadap isi yang direview. Sebaliknya, fitur ini menggunakan model bahasa besar untuk mengumpulkan dan menyusun hasil penelitian dari para akademisi terkait, lalu menyajikan saran.
Namun, pendekatan “meniru sudut pandang ahli” ini tetap menuai kritik karena berpotensi menyesatkan pengguna, yang bisa saja mengira bahwa komentar tersebut benar-benar berasal dari para akademisi yang bersangkutan.
Grammarly bukan satu-satunya perusahaan AI yang mencoba meniru tokoh terkenal atau akademisi. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan teknologi meluncurkan produk serupa, berharap dapat meningkatkan pengalaman interaksi AI dengan memanfaatkan citra tokoh terkenal.
Pada tahun 2023, Meta meluncurkan serangkaian chatbot selebriti di platform Meta AI, termasuk karakter AI yang meniru rapper Snoop Dogg, bintang NFL Tom Brady, model Kendall Jenner, dan pemain tenis Naomi Osaka. Karakter AI ini berinteraksi menggunakan citra dan gaya bicara selebriti, menarik pengguna untuk mencoba layanan obrolan AI.
Sumber gambar: Meta pernah meluncurkan rangkaian chatbot selebriti di platform Meta AI
Industri pendidikan juga mengikuti tren ini. Platform pendidikan online Khan Academy memperkenalkan asisten AI bernama “Khanmigo” yang memungkinkan siswa berperan sebagai tokoh sejarah seperti Winston Churchill atau Harriet Tubman dalam percakapan simulasi. Misalnya, siswa dapat berinteraksi seolah-olah berbicara langsung dengan tokoh tersebut untuk memahami latar belakang sejarah dan pemikiran mereka.
Namun, semakin canggihnya model AI dalam meniru gaya pribadi, diskusi tentang hak izin dan perlindungan personalitas pun semakin menghangat. Beberapa pakar menyatakan bahwa ketika AI menggunakan identitas akademisi, penulis, atau tokoh terkenal untuk memberikan opini, hal ini dapat mempengaruhi persepsi publik terhadap pandangan orang tersebut. Para akademisi menilai bahwa jika perusahaan AI ingin menggunakan pemikiran dan citra akademisi atau tokoh terkenal, mereka perlu memiliki mekanisme izin yang lebih jelas dan transparan. Jika tidak, meskipun secara teknis hanya sebagai “sumber inspirasi”, hal ini tetap berpotensi menimbulkan masalah terkait reputasi, hak kekayaan intelektual, dan etika akademik.