
Senator federal Wyoming, Cynthia Lummis, mengatakan dalam wawancara dengan CNBC pada hari Rabu bahwa Komite Penggalangan Dana DPR dan Komite Keuangan Senat saat ini sedang mempertimbangkan sebuah klausul pembebasan pajak kecil untuk transaksi kripto di bawah 300 dolar, agar pengguna dapat melakukan transaksi kripto di bawah jumlah tersebut tanpa harus melaporkan keuntungan modal. Namun, proses pembahasan RUU CLARITY di Senat hingga saat ini masih belum memiliki jadwal pasti untuk dilanjutkan kembali.
Pada Juli 2025, Lummis telah mengajukan sebuah RUU independen yang mengusulkan pembebasan pajak minimum untuk transaksi kripto di bawah 300 dolar, dengan batas maksimum pembebasan tahunan sebesar 5.000 dolar. Ia kembali menyebutkan usulan ini dalam negosiasi RUU struktur pasar, dengan tujuan memasukkannya ke dalam kerangka legislasi kripto yang lebih luas agar peluang pengesahannya lebih besar.
Lummis menjelaskan logika utama dari pembebasan pajak ini: “Kami berusaha memahami bagaimana menyeimbangkan secara tepat—kapan penjualan (aset kripto seperti Bitcoin) harus dikenai pajak keuntungan modal, dan kapan harus diizinkan digunakan sebagai media pertukaran yang sederhana seperti dolar.”
Dalam penjelasannya, batas 300 dolar bertujuan mengatasi masalah praktis yang telah lama mengganggu penggunaan harian kripto: setiap transaksi pembayaran kripto secara teori dapat memicu kewajiban pelaporan keuntungan modal, sehingga penggunaan Bitcoin dan aset serupa untuk transaksi kecil sehari-hari menjadi hampir tidak praktis. Pembebasan pajak ini dipandang sebagai prasyarat penting agar kripto benar-benar dapat berfungsi sebagai media pertukaran yang dapat digunakan.
Setelah disahkan di DPR pada Juli 2025, perkembangan RUU CLARITY di Senat mengalami kemacetan serius. Komite Perbankan Senat dijadwalkan akan membahas RUU ini pada Januari tahun ini, tetapi setelah CEO Coinbase, Brian Armstrong, menyatakan bahwa bursa tersebut “tidak dapat mendukung” RUU tersebut sebagaimana adanya, maka komite menunda pertemuan tersebut tanpa batas waktu. Masalah utama yang disoroti Armstrong adalah klausul terkait tokenisasi saham dalam RUU tersebut.
Klausul tokenisasi saham: Apakah RUU harus mengizinkan dan mengatur penerbitan saham tokenisasi oleh platform kripto, yang menyentuh batas yurisdiksi antara otoritas pengawas sekuritas tradisional dan otoritas pengawas kripto.
Masalah hasil stabilcoin: Apakah diizinkan penerbitan stablecoin yang memberi bunga atau insentif kepada pemegangnya, yang ditentang keras oleh kelompok perbankan.
Pembagian tanggung jawab regulator: Batas yurisdiksi SEC dan CFTC dalam pengawasan aset digital masih belum jelas.
Potensi konflik kepentingan: Beberapa anggota parlemen dan kritikus mengajukan pertanyaan moral terkait institusi dan individu terkait.
Lummis menunjukkan bahwa rekan-rekan Demokrat-nya saat ini belum menyatakan dukungan resmi terhadap RUU ini, menandakan bahwa konsensus bipartisan belum terbentuk.
Minggu lalu, Presiden AS Donald Trump secara langka langsung turun tangan di media sosial, mendesak industri perbankan dan industri kripto “untuk mencapai kesepakatan yang baik,” dan secara tegas menyatakan bahwa bank tidak boleh “menggunakan” RUU CLARITY sebagai alat tawar-menawar. Ini adalah kali pertama Trump secara terbuka menekan lembaga keuangan tradisional terkait proses legislatif, dan sebagian pengamat pasar melihat ini sebagai sinyal positif bahwa RUU tersebut mungkin akan dihidupkan kembali.
Namun, hingga hari Senin, Komite Perbankan Senat belum menjadwalkan ulang pembahasan RUU ini. Waktu Lummis sendiri semakin terbatas—sebagai senator yang akan mengakhiri masa jabatannya pada Januari 2027, peluangnya untuk mendorong legislasi ini selama masa jabatannya semakin menyempit.
Menurut usulan Lummis, pengguna yang melakukan satu transaksi kripto di bawah 300 dolar tidak perlu menghitung dan melaporkan keuntungan modal, dan transaksi tersebut dapat dibebaskan dari pajak hingga total 5.000 dolar per tahun. Transaksi di atas batas ini tetap harus dilaporkan sesuai aturan pajak keuntungan modal yang berlaku, dengan tujuan menjadikan kripto sebagai media pembayaran kecil yang praktis untuk penggunaan sehari-hari, tanpa harus menghadapi kewajiban pajak yang rumit setiap kali bertransaksi.
CEO Coinbase, Brian Armstrong, menyatakan bahwa klausul terkait saham tokenisasi dalam RUU tersebut membuatnya tidak dapat mendukung RUU ini “sebagaimana adanya.” Kerangka regulasi saham tokenisasi menyentuh yurisdiksi SEC, dan menimbulkan kekhawatiran dari industri perbankan terhadap ekspansi bisnis keuangan tradisional oleh platform kripto yang belum cukup diatur, sehingga menyebabkan Ketua Komite Perbankan Senat menunda pembahasan untuk menunggu kesepakatan yang lebih luas.
Lummis adalah salah satu suara paling aktif di Kongres yang mendorong legislasi ramah kripto. Kepergiannya akan mengurangi salah satu pendukung utama industri kripto. Namun, dengan dukungan tegas dari pemerintahan Trump dan masuknya pimpinan baru di SEC dan CFTC (Paul Atkins dan Mike Selig), kerangka regulasi kripto kemungkinan akan tetap didorong melalui jalur administratif untuk mengisi kekosongan legislasi. Meski demikian, tanpa advokat seperti Lummis di parlemen, keberlanjutan legislasi jangka panjang menjadi lebih tidak pasti.