13 Maret, laporan penelitian terbaru dari Morgan Stanley menunjukkan bahwa teknologi kecerdasan buatan mungkin akan mencapai terobosan penting pada paruh pertama tahun 2026, sementara infrastruktur dan sistem ekonomi global belum sepenuhnya siap menghadapi perubahan ini. Laporan tersebut menyatakan bahwa laboratorium utama kecerdasan buatan di Amerika Serikat sedang dengan cepat mengumpulkan kemampuan komputasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang akan mendorong kemampuan model besar ke tahap perkembangan baru.
Laporan secara khusus menyebutkan pandangan Elon Musk dalam wawancara sebelumnya, yaitu bahwa jika kapasitas komputasi yang digunakan untuk melatih model bahasa besar meningkat sekitar 10 kali lipat, tingkat kecerdasan keseluruhan model tersebut mungkin akan meningkat hampir dua kali lipat. Saat ini, industri secara umum masih percaya bahwa “aturan perluasan” ini tetap berlaku, yang berarti bahwa seiring peningkatan daya komputasi, kemampuan kecerdasan buatan mungkin akan meningkat secara eksponensial.
Sementara itu, kemajuan industri sudah mulai melampaui ekspektasi pasar. Morgan Stanley menyebutkan bahwa model GPT-5.4 “berpikir” yang baru diluncurkan oleh OpenAI meraih skor 83,0% dalam pengujian GDPVal, dan dalam beberapa tugas bernilai ekonomi, model ini sudah mendekati bahkan melampaui tingkat beberapa ahli manusia. Lembaga ini memperkirakan bahwa lonjakan kemampuan ini mungkin akan terus mempercepat dalam beberapa tahun mendatang.
Namun, pertumbuhan daya komputasi juga membawa tekanan yang jelas terhadap infrastruktur. Model “pabrik pintar” yang diajukan Morgan Stanley menunjukkan bahwa pada tahun 2028, sistem listrik di Amerika Serikat mungkin akan mengalami kekurangan bersih sebesar 9 hingga 18 gigawatt, setara dengan 12% hingga 25% dari kebutuhan listrik untuk sistem terkait AI. Dengan percepatan pembangunan pusat data AI, pasokan energi akan menjadi hambatan utama.
Untuk mengatasi kekurangan listrik, beberapa perusahaan teknologi dan operator infrastruktur sedang mencari solusi alternatif. Misalnya, mengubah fasilitas penambangan Bitcoin menjadi pusat komputasi berkinerja tinggi, menempatkan pembangkit listrik gas alam, serta sistem sel bahan bakar untuk mendukung operasi berkelanjutan pusat data AI. Industri juga mengusulkan model “15-15-15”, yaitu sewa pusat data selama 15 tahun, sekitar 15% tingkat pengembalian investasi, dan nilai bersih sekitar 15 dolar per watt listrik.
Laporan juga menunjukkan bahwa kecerdasan buatan mungkin akan memberikan dampak mendalam terhadap pasar tenaga kerja. Karena alat AI dapat menyalin sebagian proses kerja manusia dengan biaya sangat rendah, beberapa perusahaan sudah meningkatkan efisiensi dan mengurangi jumlah karyawan melalui otomatisasi dan sistem AI.
CEO OpenAI, Sam Altman, pernah membayangkan bahwa di masa depan akan muncul perusahaan kecil yang terdiri dari 1 hingga 5 orang, yang mampu menyelesaikan skala bisnis yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh perusahaan besar berkat kecerdasan buatan. Selain itu, co-founder xAI, Jimmy Ba, juga percaya bahwa sistem kecerdasan buatan yang mampu memperbaiki dirinya sendiri mungkin akan muncul pada awal 2027, sehingga mendorong teknologi ke tahap perkembangan baru.
Morgan Stanley menyimpulkan bahwa seiring peningkatan kapasitas komputasi, kecerdasan buatan mungkin akan menjadi kekuatan utama dalam mendorong perubahan struktur ekonomi masa depan, sementara daya komputasi, energi, dan infrastruktur pusat data akan menjadi sumber daya utama dalam kompetisi global tahap berikutnya.