Berita Gate, pada 16 Maret, sebuah survei opini komunitas terkait Undang-Undang Transparansi Pasar Aset Digital (CLARITY Act) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pengguna kripto lebih mengutamakan perlindungan privasi dan otonomi keuangan daripada insentif hasil dari stablecoin. Hasil ini kembali menyoroti perbedaan yang mencolok antara komunitas kripto dan diskusi regulasi di Washington.
Survei ini diprakarsai oleh komentator kripto Paul Barron, dengan pertanyaan seputar pilihan kebijakan antara hasil stablecoin dan perlindungan terhadap pengawasan keuangan. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar responden lebih mendukung perlindungan privasi pengguna dan hak pengelolaan sendiri, daripada mendapatkan hasil dari stablecoin.
Perdebatan utama berfokus pada salah satu klausul dalam versi RUU di Senat. Berdasarkan draf, Departemen Keuangan AS dapat, dalam kondisi tertentu, sementara membekukan atau menyita aset kripto tanpa perintah pengadilan. Kritikus berpendapat bahwa wewenang ini berpotensi diperluas ke antarmuka atau protokol DeFi yang dianggap “tidak sepenuhnya terdesentralisasi,” sehingga mempengaruhi kendali aset pengguna.
Bagi banyak pengguna kripto, pengaturan regulasi ini berpotensi mengancam prinsip inti dari sistem keuangan desentralisasi, termasuk pengelolaan sendiri dan kebebasan keuangan. Oleh karena itu, meskipun mekanisme hasil stablecoin menarik, hal ini dianggap sebagai isu yang dapat dikompromikan.
Namun, di dalam Kongres AS, masalah hasil stablecoin justru menjadi hambatan utama dalam kemajuan RUU tersebut. RUU ini telah disetujui di DPR AS pada Juli 2025 dengan suara 294 berbanding 134, tetapi belum disetujui di Komite Perbankan Senat.
Lobi dari lembaga keuangan tradisional juga memperburuk perdebatan. Asosiasi Bankir Amerika (American Bankers Association) secara konsisten mendukung pelarangan semua bentuk insentif stablecoin, dengan alasan bahwa hasil terkait dapat melemahkan daya saing sistem simpanan bank.
Saat ini, beberapa senator sedang berusaha mencari solusi kompromi. Misalnya, Angela Alsobrooks dan Thom Tillis mengusulkan pembatasan hasil pasif sambil mempertahankan mekanisme penghargaan berbasis aktivitas pengguna. Namun, negosiasi terkait masih belum mencapai kesepakatan.
Pemimpin mayoritas Senat, John Thune, menyatakan bahwa RUU ini diperkirakan tidak akan masuk ke sidang pleno sebelum April 2026. Analis menunjukkan bahwa jika RUU CLARITY gagal melewati proses komite sebelum akhir April, peluang untuk disahkan tahun ini akan menurun secara signifikan.