Presiden Trump baru saja mengatakan
“The Fed should hold a special meeting to cut interest rates right now.”
“Apa waktu yang lebih baik untuk menurunkan suku bunga daripada sekarang? Bahkan siswa kelas tiga pun tahu itu.” pic.twitter.com/lXpSbYYJWQ
— Ash Crypto (@AshCrypto) 16 Maret 2026
Ini bukan kali pertama Trump secara terbuka meminta penurunan suku bunga baru-baru ini. Kamis lalu, Trump menyatakan di Truth Social bahwa Ketua Federal Reserve “seharusnya segera menurunkan suku bunga,” dan kemudian dia kembali menyerukan penurunan suku bunga. Pada Januari, dia telah berargumen bahwa suku bunga AS seharusnya “secara signifikan menurun,” dan menjadi “suku bunga terendah di dunia,” menyebut Powell “telat,” dan mengklaim bahwa mempertahankan suku bunga tinggi “sedang merusak negara dan keamanan nasional kita.” Trump mendukung penurunan suku bunga untuk mengurangi biaya pembayaran utang AS yang besar mencapai 39 triliun dolar, serta merangsang pertumbuhan ekonomi, pasar perumahan, dan pasar saham. Suku bunga yang lebih rendah juga dapat mendorong investor beralih ke aset berisiko tinggi seperti saham dan kripto. Biaya pinjaman yang lebih rendah juga akan meningkatkan likuiditas pasar, yang berarti lebih banyak dana mengalir ke aset spekulatif. Pasar memperkirakan tidak akan ada penurunan suku bunga minggu ini Bank sentral AS akan memulai pertemuan dua hari pada minggu ini, dan berencana mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis (19 Maret) dini hari. Meski Trump keras menyerukan, ekspektasi pasar terhadap kemungkinan penurunan suku bunga oleh Fed minggu ini tetap sangat rendah. Data futures suku bunga CME menunjukkan bahwa trader saat ini memperkirakan peluang Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50% hingga 3,75% hingga 99%. Untuk pertemuan berikutnya pada 29 April, pasar juga memberi peluang 97% untuk tetap tidak berubah. Dengan kata lain, meskipun dari segi politik mendesak untuk segera bertindak, pasar keuangan umumnya percaya bahwa pejabat pengambil keputusan saat ini lebih cenderung menunggu dan melihat, bukan terburu-buru melonggarkan kebijakan. Harga minyak dan risiko inflasi menjadi kunci sulitnya Fed untuk melonggarkan Salah satu alasan utama Fed enggan menurunkan suku bunga adalah ketidakpastian prospek inflasi. Inflasi Februari di AS sebesar 2,4%, tetap sama dengan bulan sebelumnya, tetapi pasar memperkirakan inflasi kemungkinan akan meningkat kembali pada Maret. Dalam konteks ini, jika Fed terlalu cepat melonggarkan kebijakan, risiko inflasi kembali meningkat. Selain itu, konflik Iran dan AS mendorong harga minyak naik, yang selanjutnya meningkatkan biaya bahan bakar dan transportasi, serta berpotensi menyebar melalui rantai pasok ke harga makanan dan barang lainnya. Ini menunjukkan bahwa Fed tidak hanya tidak memiliki alasan cukup untuk segera menurunkan suku bunga, tetapi juga harus waspada terhadap kenaikan harga energi yang dapat mendorong inflasi secara keseluruhan. Fokus pasar saat ini adalah apakah pernyataan politik Trump akan mempengaruhi sinyal resmi Fed minggu ini. Namun, dari ekspektasi utama saat ini, kemungkinan besar Fed akan mempertahankan suku bunga tanpa perubahan, bukan mengadakan pertemuan darurat untuk melonggarkan kebijakan. Harga minyak dan risiko inflasi menjadi faktor kunci yang membuat Fed sulit melonggarkan Salah satu alasan utama Fed enggan menurunkan suku bunga adalah ketidakpastian prospek inflasi. Inflasi Februari di AS sebesar 2,4%, tetap sama dengan bulan sebelumnya, tetapi pasar memperkirakan inflasi kemungkinan akan meningkat kembali pada Maret. Dalam konteks ini, jika Fed terlalu cepat melonggarkan kebijakan, risiko inflasi kembali meningkat. Selain itu, konflik Iran dan AS mendorong harga minyak naik, yang selanjutnya meningkatkan biaya bahan bakar dan transportasi, serta berpotensi menyebar melalui rantai pasok ke harga makanan dan barang lainnya. Ini menunjukkan bahwa Fed tidak hanya tidak memiliki alasan cukup untuk segera menurunkan suku bunga, tetapi juga harus waspada terhadap kenaikan harga energi yang dapat mendorong inflasi secara keseluruhan. Pasar saat ini fokus pada apakah pernyataan politik Trump akan mempengaruhi sinyal resmi Fed minggu ini. Namun, dari ekspektasi utama saat ini, kemungkinan besar Fed akan mempertahankan suku bunga tanpa perubahan, bukan mengadakan pertemuan darurat untuk melonggarkan kebijakan. Harga minyak dan risiko inflasi menjadi kunci sulitnya Fed untuk melonggarkan Salah satu alasan utama Fed enggan menurunkan suku bunga adalah ketidakpastian prospek inflasi. Inflasi Februari di AS sebesar 2,4%, tetap sama dengan bulan sebelumnya, tetapi pasar memperkirakan inflasi kemungkinan akan meningkat kembali pada Maret. Dalam konteks ini, jika Fed terlalu cepat melonggarkan kebijakan, risiko inflasi kembali meningkat. Selain itu, konflik Iran dan AS mendorong harga minyak naik, yang selanjutnya meningkatkan biaya bahan bakar dan transportasi, serta berpotensi menyebar melalui rantai pasok ke harga makanan dan barang lainnya. Ini menunjukkan bahwa Fed tidak hanya tidak memiliki alasan cukup untuk segera menurunkan suku bunga, tetapi juga harus waspada terhadap kenaikan harga energi yang dapat mendorong inflasi secara keseluruhan. Pasar saat ini fokus pada apakah pernyataan politik Trump akan mempengaruhi sinyal resmi Fed minggu ini. Namun, dari ekspektasi utama saat ini, kemungkinan besar Fed akan mempertahankan suku bunga tanpa perubahan, bukan mengadakan pertemuan darurat untuk melonggarkan kebijakan.