Ketika kita melihat negara-negara yang menghadapi tantangan ekonomi terbesar, muncul pertanyaan penting tentang apa yang benar-benar mendefinisikan sebuah negara sebagai miskin. Tahun ini, lembaga seperti Bank Dunia dan IMF terus memperbarui indikator mereka untuk mengukur pendapatan dan pembangunan. Tapi negara mana yang paling miskin di dunia? Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana kita mengukur kemiskinan tersebut.
Bagaimana mengukur kemiskinan suatu negara?
Metode yang paling umum digunakan oleh lembaga internasional adalah PDB per kapita disesuaikan dengan daya beli (PPC). Berbeda dari pengukuran lain, indikator ini membagi seluruh kekayaan yang dihasilkan oleh sebuah negara dengan jumlah penduduknya, dengan memperhitungkan biaya hidup lokal.
Mengapa ini penting? Karena memungkinkan perbandingan yang lebih adil antar negara dengan mata uang berbeda dan tingkat harga yang bervariasi. Meskipun tidak sepenuhnya menangkap ketimpangan sosial atau kualitas layanan publik, PDB per kapita tetap menjadi salah satu alat paling andal untuk mengukur standar pendapatan rata-rata dan memahami tingkat kemiskinan di berbagai wilayah.
Peringkat negara-negara paling miskin di dunia
Data terbaru menunjukkan konsentrasi yang jelas: sebagian besar negara paling miskin berada di Afrika Sub-Sahara, dengan beberapa kasus juga di zona konflik berkepanjangan.
Posisi | Negara | PDB per kapita (US$)
1 | Sudan Selatan | 960
2 | Burundi | 1.010
3 | Republik Afrika Tengah | 1.310
4 | Malawi | 1.760
5 | Mozambik | 1.790
6 | Somalia | 1.900
7 | Republik Demokratik Kongo | 1.910
8 | Liberia | 2.000
9 | Yaman | 2.020
10 | Madagaskar | 2.060
Angka-angka ini mengungkapkan ekonomi yang sangat rapuh, di mana pendapatan rata-rata tahunan sangat rendah.
Mengapa negara-negara ini tetap menjadi yang termiskin?
Meskipun berbeda secara budaya dan geografis, negara-negara ini berbagi tantangan struktural yang serupa yang menyulitkan kemajuan ekonomi yang berkelanjutan.
Ketidakstabilan politik dan konflik berkepanjangan
Perang internal, kudeta, dan kekerasan terus-menerus merusak institusi, mengusir investor, dan merusak infrastruktur penting. Sudan Selatan, Somalia, Yaman, dan Republik Afrika Tengah adalah contoh nyata dari masalah ini.
Ekonomi dengan diversifikasi rendah
Sebagian besar negara ini bergantung sepenuhnya pada pertanian subsisten atau penjualan komoditas primer. Tanpa industri yang kuat atau sektor jasa yang berkembang, mereka rentan terhadap guncangan eksternal dan perubahan iklim yang tak terduga.
Investasi yang tidak cukup dalam pendidikan dan kesehatan
Akses terbatas ke pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, dan sanitasi dasar secara signifikan mengurangi produktivitas penduduk, menghambat pertumbuhan ekonomi di masa depan.
Pertumbuhan populasi yang cepat
Ketika populasi bertambah lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi, PDB per kapita stagnan atau bahkan menurun, meskipun total PDB meningkat secara absolut.
Menganalisis negara-negara paling miskin di dunia
Sudan Selatan: sumber daya tanpa stabilitas
Negara paling miskin di dunia saat ini berjuang dengan konflik sipil sejak kemerdekaannya. Meski memiliki cadangan minyak yang signifikan, kurangnya stabilitas politik mencegah kekayaan ini sampai ke rakyat.
Burundi: pertanian tanpa produktivitas
Dengan ekonomi yang sebagian besar pedesaan, Burundi menghadapi dekade turbulensi politik. Rendahnya produktivitas pertanian dan indikator pembangunan manusia yang mengkhawatirkan membuatnya tetap di antara indeks terburuk global.
Republik Afrika Tengah: mineral yang terbuang sia-sia
Meski memiliki sumber daya mineral melimpah, konflik internal yang terus-menerus, perpindahan massal penduduk, dan kolapsnya layanan publik menghalangi pemanfaatan kekayaan alam ini.
Malawi: rentan terhadap perubahan iklim
Sangat bergantung pada pertanian dan rentan terhadap kekeringan berulang, Malawi mengalami rendahnya industrialisasi dan pertumbuhan demografis yang cepat, memperburuk kondisi ekonomi.
Mozambik: potensi yang belum terealisasi
Meski memiliki potensi energi dan mineral yang besar, negara ini masih bergulat dengan kemiskinan struktural, konflik regional, dan kurangnya diversifikasi ekonomi.
Somalia: ketidakadaan negara
Setelah puluhan tahun perang saudara, Somalia hidup dengan institusi negara yang rapuh, ketidakamanan pangan kronis, dan ekonomi yang sebagian besar informal.
Republik Demokratik Kongo: kekayaan yang tidak memberi manfaat siapa pun
Dengan cadangan mineral yang besar dan penting secara global, konflik bersenjata, korupsi yang meluas, dan tata kelola yang buruk mencegah rakyat menikmati kekayaan alam ini.
Liberia: luka perang saudara
Dampak perang saudara masih terasa dalam ekonomi, dipadukan dengan infrastruktur yang buruk dan industrialisasi yang hampir tidak ada.
Yaman: di luar Afrika, tetapi dalam krisis kemanusiaan
Satu-satunya negara dalam peringkat ini di luar benua Afrika, Yaman menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terbesar sejak perang saudara dimulai pada 2014.
Madagaskar: potensi pariwisata yang kurang dimanfaatkan
Meski memiliki potensi pertanian dan pariwisata yang cukup besar, ketidakstabilan politik yang berulang, kemiskinan pedesaan yang terkonsentrasi, dan rendahnya produktivitas ekonomi membatasi perkembangan.
Apa yang dikatakan negara paling miskin di dunia tentang ekonomi global
Mengidentifikasi negara paling miskin di dunia jauh melampaui sekadar menempatkan sebuah tempat dalam peringkat. Data ini mengungkapkan bagaimana konflik, kelemahan institusi, dan kurangnya investasi struktural merugikan pembangunan ekonomi jangka panjang.
Memahami realitas ekonomi global ini — termasuk negara-negara paling miskin — membantu analis, investor, dan pengamat pasar melihat risiko, siklus makroekonomi, dan peluang dengan lebih jelas.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Negara-negara termiskin di dunia pada tahun 2025: pahami indikator yang menentukan kemiskinan global
Ketika kita melihat negara-negara yang menghadapi tantangan ekonomi terbesar, muncul pertanyaan penting tentang apa yang benar-benar mendefinisikan sebuah negara sebagai miskin. Tahun ini, lembaga seperti Bank Dunia dan IMF terus memperbarui indikator mereka untuk mengukur pendapatan dan pembangunan. Tapi negara mana yang paling miskin di dunia? Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana kita mengukur kemiskinan tersebut.
Bagaimana mengukur kemiskinan suatu negara?
Metode yang paling umum digunakan oleh lembaga internasional adalah PDB per kapita disesuaikan dengan daya beli (PPC). Berbeda dari pengukuran lain, indikator ini membagi seluruh kekayaan yang dihasilkan oleh sebuah negara dengan jumlah penduduknya, dengan memperhitungkan biaya hidup lokal.
Mengapa ini penting? Karena memungkinkan perbandingan yang lebih adil antar negara dengan mata uang berbeda dan tingkat harga yang bervariasi. Meskipun tidak sepenuhnya menangkap ketimpangan sosial atau kualitas layanan publik, PDB per kapita tetap menjadi salah satu alat paling andal untuk mengukur standar pendapatan rata-rata dan memahami tingkat kemiskinan di berbagai wilayah.
Peringkat negara-negara paling miskin di dunia
Data terbaru menunjukkan konsentrasi yang jelas: sebagian besar negara paling miskin berada di Afrika Sub-Sahara, dengan beberapa kasus juga di zona konflik berkepanjangan.
Posisi | Negara | PDB per kapita (US$) 1 | Sudan Selatan | 960 2 | Burundi | 1.010 3 | Republik Afrika Tengah | 1.310 4 | Malawi | 1.760 5 | Mozambik | 1.790 6 | Somalia | 1.900 7 | Republik Demokratik Kongo | 1.910 8 | Liberia | 2.000 9 | Yaman | 2.020 10 | Madagaskar | 2.060
Angka-angka ini mengungkapkan ekonomi yang sangat rapuh, di mana pendapatan rata-rata tahunan sangat rendah.
Mengapa negara-negara ini tetap menjadi yang termiskin?
Meskipun berbeda secara budaya dan geografis, negara-negara ini berbagi tantangan struktural yang serupa yang menyulitkan kemajuan ekonomi yang berkelanjutan.
Ketidakstabilan politik dan konflik berkepanjangan
Perang internal, kudeta, dan kekerasan terus-menerus merusak institusi, mengusir investor, dan merusak infrastruktur penting. Sudan Selatan, Somalia, Yaman, dan Republik Afrika Tengah adalah contoh nyata dari masalah ini.
Ekonomi dengan diversifikasi rendah
Sebagian besar negara ini bergantung sepenuhnya pada pertanian subsisten atau penjualan komoditas primer. Tanpa industri yang kuat atau sektor jasa yang berkembang, mereka rentan terhadap guncangan eksternal dan perubahan iklim yang tak terduga.
Investasi yang tidak cukup dalam pendidikan dan kesehatan
Akses terbatas ke pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, dan sanitasi dasar secara signifikan mengurangi produktivitas penduduk, menghambat pertumbuhan ekonomi di masa depan.
Pertumbuhan populasi yang cepat
Ketika populasi bertambah lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi, PDB per kapita stagnan atau bahkan menurun, meskipun total PDB meningkat secara absolut.
Menganalisis negara-negara paling miskin di dunia
Sudan Selatan: sumber daya tanpa stabilitas
Negara paling miskin di dunia saat ini berjuang dengan konflik sipil sejak kemerdekaannya. Meski memiliki cadangan minyak yang signifikan, kurangnya stabilitas politik mencegah kekayaan ini sampai ke rakyat.
Burundi: pertanian tanpa produktivitas
Dengan ekonomi yang sebagian besar pedesaan, Burundi menghadapi dekade turbulensi politik. Rendahnya produktivitas pertanian dan indikator pembangunan manusia yang mengkhawatirkan membuatnya tetap di antara indeks terburuk global.
Republik Afrika Tengah: mineral yang terbuang sia-sia
Meski memiliki sumber daya mineral melimpah, konflik internal yang terus-menerus, perpindahan massal penduduk, dan kolapsnya layanan publik menghalangi pemanfaatan kekayaan alam ini.
Malawi: rentan terhadap perubahan iklim
Sangat bergantung pada pertanian dan rentan terhadap kekeringan berulang, Malawi mengalami rendahnya industrialisasi dan pertumbuhan demografis yang cepat, memperburuk kondisi ekonomi.
Mozambik: potensi yang belum terealisasi
Meski memiliki potensi energi dan mineral yang besar, negara ini masih bergulat dengan kemiskinan struktural, konflik regional, dan kurangnya diversifikasi ekonomi.
Somalia: ketidakadaan negara
Setelah puluhan tahun perang saudara, Somalia hidup dengan institusi negara yang rapuh, ketidakamanan pangan kronis, dan ekonomi yang sebagian besar informal.
Republik Demokratik Kongo: kekayaan yang tidak memberi manfaat siapa pun
Dengan cadangan mineral yang besar dan penting secara global, konflik bersenjata, korupsi yang meluas, dan tata kelola yang buruk mencegah rakyat menikmati kekayaan alam ini.
Liberia: luka perang saudara
Dampak perang saudara masih terasa dalam ekonomi, dipadukan dengan infrastruktur yang buruk dan industrialisasi yang hampir tidak ada.
Yaman: di luar Afrika, tetapi dalam krisis kemanusiaan
Satu-satunya negara dalam peringkat ini di luar benua Afrika, Yaman menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terbesar sejak perang saudara dimulai pada 2014.
Madagaskar: potensi pariwisata yang kurang dimanfaatkan
Meski memiliki potensi pertanian dan pariwisata yang cukup besar, ketidakstabilan politik yang berulang, kemiskinan pedesaan yang terkonsentrasi, dan rendahnya produktivitas ekonomi membatasi perkembangan.
Apa yang dikatakan negara paling miskin di dunia tentang ekonomi global
Mengidentifikasi negara paling miskin di dunia jauh melampaui sekadar menempatkan sebuah tempat dalam peringkat. Data ini mengungkapkan bagaimana konflik, kelemahan institusi, dan kurangnya investasi struktural merugikan pembangunan ekonomi jangka panjang.
Memahami realitas ekonomi global ini — termasuk negara-negara paling miskin — membantu analis, investor, dan pengamat pasar melihat risiko, siklus makroekonomi, dan peluang dengan lebih jelas.