Ada fenomena menarik yang patut diperhatikan: pada tahun 2025, jarak angka absolut GDP Amerika Serikat dan Tiongkok mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, dan proporsinya juga turun dari puncak 75% pada tahun 2021 menjadi 64%.
Namun, angka perbandingan ini sendiri sebenarnya tidak terlalu bermakna. Yang penting adalah faktor inflasi yang tidak terlihat—dari tahun 2021 hingga 2025, inflasi kumulatif di Amerika Serikat mencapai 25,4%. Sedangkan GDP Amerika dihitung menggunakan metode pengeluaran, yaitu yang mencatat konsumsi akhir. Bahkan jika ekonomi Amerika tidak tumbuh selama lima tahun ini, inflasi saja sudah cukup untuk meningkatkan data GDP setidaknya 25%.
Sebaliknya, Tiongkok menggunakan metode produksi, yang dihitung dari nilai tambah—yaitu output dikurangi input antara. Perbedaan kedua metode statistik ini secara langsung menyebabkan perbedaan besar pada data yang tampak. Jadi, saat melihat data perbandingan semacam ini, kita harus mengabaikan faktor nilai tukar dan inflasi untuk melihat kondisi ekonomi yang sebenarnya.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
25 Suka
Hadiah
25
9
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
DAOdreamer
· 01-08 03:54
Wah, ternyata angka PDB bisa begitu menipu ya, inflasi langsung menambah 25 poin ke Amerika Serikat
Lihat AsliBalas0
AirDropMissed
· 01-05 18:01
Inflasi yang begitu besar, tidak heran GDP AS terlihat sangat tinggi
Menggunakan metode pengeluaran seperti meniup balon, setelah menghapus fakta inflasi akan terlihat jelas
GDP sendiri mudah dipermainkan, metode statistik yang berbeda bisa menghasilkan perbedaan besar
Metode perhitungan China dan AS secara esensial tidak bisa dibandingkan, ini yang sebenarnya penting
Metode pengeluaran vs metode produksi, tidak heran data berbeda jauh
Lihat AsliBalas0
BearMarketBuyer
· 01-05 16:35
哈 又在玩数字游戏呢
Inflasi ini benar-benar luar biasa, Amerika hanya mengandalkan ini untuk membuat PDB tampak tinggi secara artifisial
Metode produksi terhadap metode produksi, metode pengeluaran terhadap metode pengeluaran baru adil
Lihat AsliBalas0
PessimisticLayer
· 01-05 04:54
Begitu inflasi muncul, angka-angka pun berubah menjadi sihir, oke deh
Lihat AsliBalas0
GweiWatcher
· 01-05 04:52
Data terlihat bagus tetapi semuanya palsu, inflasi menghabiskan segalanya
Lihat AsliBalas0
MergeConflict
· 01-05 04:40
Haha inilah sebabnya mengapa kita tidak bisa hanya melihat angka PDB, harus dibongkar lebih dalam
Jelas saja, inflasi di Amerika Serikat agak berlebihan, di balik data yang tampak cerah dan menarik, semuanya penuh dengan kekurangan
Metode perhitungan berbeda, satu menghitung konsumsi dan satu lagi menghitung output, sama sekali tidak bisa dibandingkan
Lihat AsliBalas0
OneBlockAtATime
· 01-05 04:40
Luar biasa, data game yang langsung pecah dengan sekali sentuh, Amerika mengandalkan inflasi untuk membesar-besarkan, kita harus melihat kapasitas produksi yang sebenarnya
Lihat AsliBalas0
tokenomics_truther
· 01-05 04:37
Itulah mengapa kita tidak bisa hanya melihat angka di permukaan saja, metode statistik Amerika memang pada dasarnya palsu dan berlebihan.
Ada fenomena menarik yang patut diperhatikan: pada tahun 2025, jarak angka absolut GDP Amerika Serikat dan Tiongkok mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, dan proporsinya juga turun dari puncak 75% pada tahun 2021 menjadi 64%.
Namun, angka perbandingan ini sendiri sebenarnya tidak terlalu bermakna. Yang penting adalah faktor inflasi yang tidak terlihat—dari tahun 2021 hingga 2025, inflasi kumulatif di Amerika Serikat mencapai 25,4%. Sedangkan GDP Amerika dihitung menggunakan metode pengeluaran, yaitu yang mencatat konsumsi akhir. Bahkan jika ekonomi Amerika tidak tumbuh selama lima tahun ini, inflasi saja sudah cukup untuk meningkatkan data GDP setidaknya 25%.
Sebaliknya, Tiongkok menggunakan metode produksi, yang dihitung dari nilai tambah—yaitu output dikurangi input antara. Perbedaan kedua metode statistik ini secara langsung menyebabkan perbedaan besar pada data yang tampak. Jadi, saat melihat data perbandingan semacam ini, kita harus mengabaikan faktor nilai tukar dan inflasi untuk melihat kondisi ekonomi yang sebenarnya.