Cryptocurrency melonjak 15%, futures gap turun limit, slippage forex langsung menutup posisi… Pasar kapan saja sedang menampilkan mimpi buruk investor. Dan yang paling menakutkan bukanlah kerugian itu sendiri, melainkan kontrak meledak posisi yang membawa “pembersihan instan” — kamu tidak hanya kehilangan semua dana, tetapi juga bisa ditagih utang. Mengapa posisi bisa meledak? Mengapa leverage tinggi sangat berbahaya? Bagaimana cara menghindari jebakan ini?
Kebenaran tentang Kontrak Meledak Posisi: Saat Margin Menghilang
Kontrak meledak posisi secara sederhana adalah: kamu salah arah, kerugian sampai tidak cukup lagi margin terakhir, sistem langsung memaksa menutup posisi kamu.
Ketika kamu melakukan trading leverage, broker akan meminta kamu menyetor sejumlah margin sebagai “jaminan risiko”. Misalnya kamu menggunakan 10 juta rupiah modal dengan leverage 10x untuk futures, sebenarnya kamu mengelola posisi senilai 100 juta rupiah. Begitu pasar bergerak berlawanan 1%, kamu kehilangan 10% dari modal; jika berbalik 10%, bukan hanya margin hilang, tetapi juga bisa dipanggil kembali. Ketika nilai bersih akun turun di bawah margin minimum yang ditetapkan broker, sistem akan otomatis menutup posisi, inilah yang disebut kontrak meledak posisi.
Mengapa posisi bisa meledak? Dua alasan utama:
Arah trading berlawanan dengan pasar, terus-menerus merugi
Rasio margin turun di bawah maintenance margin, dipaksa likuidasi
Lima jebakan meledak posisi yang paling umum dilalui investor
Jebakan 1: Leverage terlalu besar
Leverage tinggi ibarat pedang bermata dua, memperbesar keuntungan sekaligus kerugian. Banyak orang percaya bisa mengendalikan risiko, tapi perubahan pasar seringkali di luar prediksi. Fluktuasi kecil berlawanan arah, dengan leverage tinggi, bisa langsung menguangkan modal.
Jebakan 2: Memegang keyakinan “nanti rebound”
Kesalahan fatal trader retail — saat pasar gap besar turun, lebih memilih menahan posisi daripada mengakui kerugian. Akibatnya, bukan rebound yang didapat, melainkan langsung dipaksa cut loss saat open market, kerugian jauh melebihi ekspektasi.
Jebakan 3: Tidak menghitung biaya tersembunyi
Saat trading intraday lupa memperhitungkan biaya overnight margin, opsi penjual yang mengalami lonjakan volatilitas dan harus menambah margin… Detail-detail ini seringkali menghabiskan seluruh akun tanpa disadari.
Jebakan 4: Jerat likuiditas
Pada instrumen yang kurang likuid atau saat trading malam, spread sangat besar. Kamu ingin stop loss di 100, pasar cuma ada yang beli di 90, langsung kerugian besar.
Jebakan 5: Peristiwa black swan
Pandemi, perang, kebijakan besar… saat limit down berturut-turut, bahkan broker tidak mampu menutup posisi. Margin terpotong habis, malah berutang, menghadapi risiko posisi terpaksa dilikuidasi.
Risiko meledak posisi berbeda-beda tergantung asetnya
Kontrak cryptocurrency paling rawan meledak posisi
Pasar crypto sangat volatil, fluktuasi 15% dalam satu hari adalah hal biasa. Begitu posisi meledak, bukan hanya margin hilang, bahkan koin yang kamu beli juga akan dihapus. Ini adalah bidang dengan risiko tertinggi di semua aset.
Margin forex: permainan uang kecil dengan uang besar
Banyak investor suka leverage tinggi di forex karena kebutuhan margin yang kecil. Tapi ini juga yang paling mudah kehilangan kendali.
Cara menghitung margin:
Margin = (Ukuran kontrak × jumlah lot) ÷ leverage
Contoh: order 0,1 lot pasangan mata uang dengan leverage 20x (nilai 10.000 USD)
Margin yang dibutuhkan = 10.000 ÷ 20 = 500 USD
Ketika rasio margin turun ke 30% (berbeda di tiap platform), broker akan otomatis menutup posisi.
Margin saham dan day trading: juga bisa meledak posisi
Pembelian saham tunai: 100% dana sendiri, paling aman, tidak akan meledak posisi
Margin beli saham: pinjam dari broker, jika rasio margin di bawah 130%, akan dipanggil kembali, jika harga saham turun 20%, akan langsung terkena margin call
Gagal day trading: tidak menutup posisi, jadi tetap terbuka, jika keesokan harinya gap turun limit, posisi akan dilikuidasi
Tiga cara mencegah meledak posisi: alat manajemen risiko adalah penyelamat
Strategi 1: Pasang stop loss dan take profit
Stop loss( dan) take profit( atur harga otomatis jual saat kerugian mencapai titik tertentu, agar kerugian tidak semakin besar. Take profit) atur harga otomatis ambil keuntungan saat target tercapai.
Dua fitur ini adalah garis pertahanan pertama untuk mencegah posisi meledak.
Rasio risiko-imbalan = (Harga masuk - Harga stop loss) ÷ (Harga take profit - Harga masuk)
Dengan risiko 1 rupiah, dapatkan keuntungan 3 rupiah, baru layak trading.
Strategi 2: Metode persentase yang simpel dan langsung
Pemula tidak perlu memantau grafik support dan resistance. Cukup atur stop loss dan take profit di 5% dari harga beli, sederhana dan jelas, kapan harus berhenti dan kapan harus ambil keuntungan.
Strategi 3: Perlindungan saldo negatif bukan obat mujarab
Bursa yang diawasi biasanya menyediakan mekanisme perlindungan saldo negatif, kamu paling banter kehilangan seluruh dana di akun, tidak akan berutang ke broker. Tapi ini tidak berarti bisa sembarangan leverage — beberapa broker akan menurunkan leverage secara aktif saat pasar besar mendekat, mekanisme ini lebih untuk memberi ruang kesalahan bagi pemula.
Pesan terakhir
Investasi ada untung dan rugi, kontrak trading terutama. Sebelum masuk ke trading leverage, wajib memahami risiko secara menyeluruh, gunakan alat stop loss dan take profit dengan bijak, jangan pernah percaya “kali ini pasti rebound”. Tempat paling kejam di pasar bukanlah seberapa besar volatilitasnya, tetapi bahwa pasar tidak memberi kesempatan kedua untuk balik modal.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kontrak Likuidasi Mendadak Kehilangan Semuanya dalam Semalam? Tiga Risiko Utama yang Harus Diketahui Investor dan Panduan Penyelamatan Diri
Cryptocurrency melonjak 15%, futures gap turun limit, slippage forex langsung menutup posisi… Pasar kapan saja sedang menampilkan mimpi buruk investor. Dan yang paling menakutkan bukanlah kerugian itu sendiri, melainkan kontrak meledak posisi yang membawa “pembersihan instan” — kamu tidak hanya kehilangan semua dana, tetapi juga bisa ditagih utang. Mengapa posisi bisa meledak? Mengapa leverage tinggi sangat berbahaya? Bagaimana cara menghindari jebakan ini?
Kebenaran tentang Kontrak Meledak Posisi: Saat Margin Menghilang
Kontrak meledak posisi secara sederhana adalah: kamu salah arah, kerugian sampai tidak cukup lagi margin terakhir, sistem langsung memaksa menutup posisi kamu.
Ketika kamu melakukan trading leverage, broker akan meminta kamu menyetor sejumlah margin sebagai “jaminan risiko”. Misalnya kamu menggunakan 10 juta rupiah modal dengan leverage 10x untuk futures, sebenarnya kamu mengelola posisi senilai 100 juta rupiah. Begitu pasar bergerak berlawanan 1%, kamu kehilangan 10% dari modal; jika berbalik 10%, bukan hanya margin hilang, tetapi juga bisa dipanggil kembali. Ketika nilai bersih akun turun di bawah margin minimum yang ditetapkan broker, sistem akan otomatis menutup posisi, inilah yang disebut kontrak meledak posisi.
Mengapa posisi bisa meledak? Dua alasan utama:
Lima jebakan meledak posisi yang paling umum dilalui investor
Jebakan 1: Leverage terlalu besar
Leverage tinggi ibarat pedang bermata dua, memperbesar keuntungan sekaligus kerugian. Banyak orang percaya bisa mengendalikan risiko, tapi perubahan pasar seringkali di luar prediksi. Fluktuasi kecil berlawanan arah, dengan leverage tinggi, bisa langsung menguangkan modal.
Jebakan 2: Memegang keyakinan “nanti rebound”
Kesalahan fatal trader retail — saat pasar gap besar turun, lebih memilih menahan posisi daripada mengakui kerugian. Akibatnya, bukan rebound yang didapat, melainkan langsung dipaksa cut loss saat open market, kerugian jauh melebihi ekspektasi.
Jebakan 3: Tidak menghitung biaya tersembunyi
Saat trading intraday lupa memperhitungkan biaya overnight margin, opsi penjual yang mengalami lonjakan volatilitas dan harus menambah margin… Detail-detail ini seringkali menghabiskan seluruh akun tanpa disadari.
Jebakan 4: Jerat likuiditas
Pada instrumen yang kurang likuid atau saat trading malam, spread sangat besar. Kamu ingin stop loss di 100, pasar cuma ada yang beli di 90, langsung kerugian besar.
Jebakan 5: Peristiwa black swan
Pandemi, perang, kebijakan besar… saat limit down berturut-turut, bahkan broker tidak mampu menutup posisi. Margin terpotong habis, malah berutang, menghadapi risiko posisi terpaksa dilikuidasi.
Risiko meledak posisi berbeda-beda tergantung asetnya
Kontrak cryptocurrency paling rawan meledak posisi
Pasar crypto sangat volatil, fluktuasi 15% dalam satu hari adalah hal biasa. Begitu posisi meledak, bukan hanya margin hilang, bahkan koin yang kamu beli juga akan dihapus. Ini adalah bidang dengan risiko tertinggi di semua aset.
Margin forex: permainan uang kecil dengan uang besar
Banyak investor suka leverage tinggi di forex karena kebutuhan margin yang kecil. Tapi ini juga yang paling mudah kehilangan kendali.
Cara menghitung margin: Margin = (Ukuran kontrak × jumlah lot) ÷ leverage
Contoh: order 0,1 lot pasangan mata uang dengan leverage 20x (nilai 10.000 USD) Margin yang dibutuhkan = 10.000 ÷ 20 = 500 USD
Ketika rasio margin turun ke 30% (berbeda di tiap platform), broker akan otomatis menutup posisi.
Margin saham dan day trading: juga bisa meledak posisi
Tiga cara mencegah meledak posisi: alat manajemen risiko adalah penyelamat
Strategi 1: Pasang stop loss dan take profit
Stop loss( dan) take profit( atur harga otomatis jual saat kerugian mencapai titik tertentu, agar kerugian tidak semakin besar. Take profit) atur harga otomatis ambil keuntungan saat target tercapai.
Dua fitur ini adalah garis pertahanan pertama untuk mencegah posisi meledak.
Rasio risiko-imbalan = (Harga masuk - Harga stop loss) ÷ (Harga take profit - Harga masuk)
Dengan risiko 1 rupiah, dapatkan keuntungan 3 rupiah, baru layak trading.
Strategi 2: Metode persentase yang simpel dan langsung
Pemula tidak perlu memantau grafik support dan resistance. Cukup atur stop loss dan take profit di 5% dari harga beli, sederhana dan jelas, kapan harus berhenti dan kapan harus ambil keuntungan.
Strategi 3: Perlindungan saldo negatif bukan obat mujarab
Bursa yang diawasi biasanya menyediakan mekanisme perlindungan saldo negatif, kamu paling banter kehilangan seluruh dana di akun, tidak akan berutang ke broker. Tapi ini tidak berarti bisa sembarangan leverage — beberapa broker akan menurunkan leverage secara aktif saat pasar besar mendekat, mekanisme ini lebih untuk memberi ruang kesalahan bagi pemula.
Pesan terakhir
Investasi ada untung dan rugi, kontrak trading terutama. Sebelum masuk ke trading leverage, wajib memahami risiko secara menyeluruh, gunakan alat stop loss dan take profit dengan bijak, jangan pernah percaya “kali ini pasti rebound”. Tempat paling kejam di pasar bukanlah seberapa besar volatilitasnya, tetapi bahwa pasar tidak memberi kesempatan kedua untuk balik modal.