Berikut adalah perspektif yang semakin membentuk debat energi: ekonomi global pada dasarnya berjalan dengan sumber energi tradisional—minyak, gas, dan batu bara. Itu bukan opini, itu kenyataan operasional. Pikirkan ini: setiap turbin angin, panel surya, dan fasilitas nuklir membutuhkan jumlah besar bahan bakar fosil untuk diproduksi, diangkut, dan dipasang. Rantai pasokan, infrastruktur industri, jaringan logistik—semuanya dibangun di atas dan didukung oleh energi konvensional. Ini penting lebih dari sekadar debat lingkungan. Bagi siapa saja yang melacak biaya energi, kapasitas produksi industri, atau kemacetan infrastruktur, kenyataan ini secara langsung mempengaruhi segala hal mulai dari jadwal produksi hingga biaya operasional di berbagai sektor.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
12 Suka
Hadiah
12
9
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
MEVEye
· 01-10 04:58
Tidak salah, sekarang semua yang terlibat dalam energi hijau berpura-pura semuanya bersih, tanpa menyadari di baliknya ada tumpukan bahan bakar fosil yang mendukung
Lihat AsliBalas0
GasFeeSobber
· 01-09 05:06
ngl argumen ini terdengar masuk akal tetapi juga agak terlalu mutlak... Apakah benar rantai industri energi hijau tidak bisa secara bertahap dekarbonisasi?
Lihat AsliBalas0
VibesOverCharts
· 01-07 18:58
Jelasnya, saat ini topik energi hanyalah siklus mati. Energi hijau terdengar indah, tetapi jika Anda benar-benar mengupas rantai pasoknya, Anda akan tahu bahwa tetap bergantung pada energi tradisional. Ini bukan teori konspirasi, ini kenyataan, berapa banyak minyak yang harus dihabiskan untuk membuat satu turbin angin?
Lihat AsliBalas0
MerkleTreeHugger
· 01-07 18:57
ngl ini adalah cerita yang paling disukai oleh raksasa energi tradisional... tapi ada sesuatu yang menarik, harus diakui
Lihat AsliBalas0
NFTregretter
· 01-07 18:56
Benar sekali, berbicara tentang kemandirian energi memang terdengar menyenangkan, tetapi rantai industri yang sebenarnya tetap tidak bisa lepas dari bahan bakar fosil. Pembangkit listrik tenaga angin, panel surya, semuanya harus menggunakan bahan bakar minyak untuk pengangkutan... Itulah kenyataannya, bukan?
Lihat AsliBalas0
MEVictim
· 01-07 18:48
Singkatnya, energi hijau sekalipun tetap harus bergantung pada bahan bakar fosil untuk membuka jalan, logika ini keras banget...
Lihat AsliBalas0
BlockchainDecoder
· 01-07 18:48
Menurut penelitian, argumen ini sebenarnya mengabaikan satu data kunci—tingkat pengembalian energi (EROI) dari energi terbarukan. Perlu dicatat bahwa EROI dari tenaga angin dan fotovoltaik modern sudah lebih baik daripada energi tradisional, dari segi teknologi, argumen berulang ini mudah terjebak dalam perangkap "bias survivor".
Lihat AsliBalas0
gas_fee_therapist
· 01-07 18:45
Logika ini tidak baru, sudah ada yang mengatakan sebelumnya, tetapi memang menyentuh inti... Transisi energi sama sekali tidak bisa menghindari kontradiksi ini
Lihat AsliBalas0
MEVHunterWang
· 01-07 18:42
Sejujurnya, saya sudah bosan mendengar teori ini. Saya mengakui bahwa energi fosil adalah keadaan saat ini, tetapi orang ini mengabaikan satu poin penting — biaya marjinal sedang berubah. Sepuluh tahun yang lalu, biaya tenaga angin sangat tinggi, sekarang? Kurva biaya konversi energi terus menurun, inilah yang benar-benar menentukan masa depan.
Berikut adalah perspektif yang semakin membentuk debat energi: ekonomi global pada dasarnya berjalan dengan sumber energi tradisional—minyak, gas, dan batu bara. Itu bukan opini, itu kenyataan operasional. Pikirkan ini: setiap turbin angin, panel surya, dan fasilitas nuklir membutuhkan jumlah besar bahan bakar fosil untuk diproduksi, diangkut, dan dipasang. Rantai pasokan, infrastruktur industri, jaringan logistik—semuanya dibangun di atas dan didukung oleh energi konvensional. Ini penting lebih dari sekadar debat lingkungan. Bagi siapa saja yang melacak biaya energi, kapasitas produksi industri, atau kemacetan infrastruktur, kenyataan ini secara langsung mempengaruhi segala hal mulai dari jadwal produksi hingga biaya operasional di berbagai sektor.