Tahun lalu, saat Bitcoin dari 120.000 USD turun ke 110.000 USD, saya langsung menutup 70% posisi saya. Komentar di kolom diskusi pun meledak—ada yang bilang saya terlalu berhati-hati, ada yang bilang saya menciptakan kepanikan, dan ada juga yang DM saya tengah malam menanyakan apakah saya memiliki informasi internal tertentu. Sebenarnya tidak, operasi ini didasarkan pada satu set logika trading yang telah saya gunakan selama hampir sepuluh tahun.
Sejak saya masuk ke pasar pada 2016 hingga sekarang, saya telah mengalami tiga siklus lengkap Bitcoin. Pada 2017, saat harga mencapai 20.000 USD, saya mengurangi posisi saya, dan pada 2021, saat harga mencapai 69.000 USD, saya kembali melakukan penyesuaian posisi. Setiap keputusan bukan berdasarkan feeling, melainkan berdasarkan satu prinsip inti yang sama. Singkatnya, prinsip ini hanya dua kata: siklus. Dan kunci untuk memahami siklus ini adalah mekanisme "pengurangan setengah" (halving).
Bitcoin secara alami memiliki ritme empat tahun sekali, dan kekuatan pendorong ritme ini berasal dari mekanisme halving. Setiap empat tahun, output Bitcoin akan berkurang 50%. Jumlah pasokan yang berkurang ini akan memicu euforia pasar, dan harga akan didorong ke level ekstrem tinggi. Tapi seberapa gila kenaikannya, seberapa tajam pula penurunannya. Ini bukan tebakanku, melainkan pola yang telah berulang dan terbukti selama lebih dari sepuluh tahun.
Lihat data historisnya, dan semuanya akan menjadi jelas. Pada 2013, Bitcoin melonjak ke 1200 USD, saat itu semua orang berseru "tembus 10.000 USD sudah dekat", namun kemudian di akhir 2014 turun ke 200 USD, dengan penurunan lebih dari 80%. Pola kenaikan dan penurunan yang ekstrem ini berulang di setiap siklus. Setelah memahami ini, kamu akan mengerti mengapa saya melakukan penyesuaian di waktu yang tepat.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Tahun lalu, saat Bitcoin dari 120.000 USD turun ke 110.000 USD, saya langsung menutup 70% posisi saya. Komentar di kolom diskusi pun meledak—ada yang bilang saya terlalu berhati-hati, ada yang bilang saya menciptakan kepanikan, dan ada juga yang DM saya tengah malam menanyakan apakah saya memiliki informasi internal tertentu. Sebenarnya tidak, operasi ini didasarkan pada satu set logika trading yang telah saya gunakan selama hampir sepuluh tahun.
Sejak saya masuk ke pasar pada 2016 hingga sekarang, saya telah mengalami tiga siklus lengkap Bitcoin. Pada 2017, saat harga mencapai 20.000 USD, saya mengurangi posisi saya, dan pada 2021, saat harga mencapai 69.000 USD, saya kembali melakukan penyesuaian posisi. Setiap keputusan bukan berdasarkan feeling, melainkan berdasarkan satu prinsip inti yang sama. Singkatnya, prinsip ini hanya dua kata: siklus. Dan kunci untuk memahami siklus ini adalah mekanisme "pengurangan setengah" (halving).
Bitcoin secara alami memiliki ritme empat tahun sekali, dan kekuatan pendorong ritme ini berasal dari mekanisme halving. Setiap empat tahun, output Bitcoin akan berkurang 50%. Jumlah pasokan yang berkurang ini akan memicu euforia pasar, dan harga akan didorong ke level ekstrem tinggi. Tapi seberapa gila kenaikannya, seberapa tajam pula penurunannya. Ini bukan tebakanku, melainkan pola yang telah berulang dan terbukti selama lebih dari sepuluh tahun.
Lihat data historisnya, dan semuanya akan menjadi jelas. Pada 2013, Bitcoin melonjak ke 1200 USD, saat itu semua orang berseru "tembus 10.000 USD sudah dekat", namun kemudian di akhir 2014 turun ke 200 USD, dengan penurunan lebih dari 80%. Pola kenaikan dan penurunan yang ekstrem ini berulang di setiap siklus. Setelah memahami ini, kamu akan mengerti mengapa saya melakukan penyesuaian di waktu yang tepat.