Belakangan ini, pasar cryptocurrency mengalami volatilitas yang tajam. Bitcoin (BTC) dari puncaknya sebesar 126.000 dolar AS pada Oktober 2025 turun secara drastis dan pada awal Februari 2026 jatuh ke sekitar 74.000 dolar AS, memicu kepanikan pasar. Sementara itu, pasar logam mulia juga mengalami pukulan keras: harga emas dari puncaknya 5.600 dolar/oz turun ke 4.400 dolar/oz, dan perak dari 121 dolar/oz anjlok ke 71 dolar/oz, tetapi kemudian rebound dengan cepat, emas naik kembali ke 4.900 dolar/oz, dan perak ke 85 dolar/oz. Pola “penurunan tajam diikuti rebound keras” ini terlihat pada logam mulia, sementara pasar Bitcoin masih dalam keadaan lesu. Apakah langkah selanjutnya di dunia kripto adalah “rebound di tempat” atau “terus menurun”? Artikel ini akan melakukan analisis mendalam dari berbagai sudut pandang seperti ekonomi makro, geopolitik, analisis teknikal, dan fundamental untuk mengeksplorasi potensi tren.
Analisis Penyebab Penurunan Bitcoin
Penurunan Bitcoin bukanlah kejadian yang terisolasi, melainkan hasil dari kombinasi faktor makro. Pertama, Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve, yang dipandang pasar sebagai sinyal “hawkish”. Warsh menekankan disiplin moneter dan kebijakan suku bunga tinggi, yang menyebabkan investor mengantisipasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi, menguatkan indeks dolar AS. Dalam lingkungan suku bunga tinggi, daya tarik aset berisiko seperti cryptocurrency menurun, dan dana mengalir ke aset yang lebih aman.
Kedua, risiko geopolitik meningkat. Ketegangan antara AS dan Iran meningkat, memicu sentimen safe haven, tetapi Bitcoin gagal berfungsi sebagai “emas digital”, malah ikut turun bersama aset berisiko. Selain itu, ETF Bitcoin spot di AS mengalami arus keluar besar-besaran, dengan net outflow hampir 1,5 miliar dolar minggu lalu, dan ETF Ether keluar sebesar 327 juta dolar, mencerminkan pengurangan posisi dari investor institusi dalam ketidakpastian makro.
Masalah likuiditas semakin memperbesar volatilitas. Likuiditas rendah selama akhir pekan menyebabkan “flash crash”, dengan likuidasi leverage mencapai 500 juta dolar, kerugian mayor dialami oleh posisi long. Dari sisi teknikal, Bitcoin membentuk “death cross” (rata-rata 50 hari memotong ke bawah rata-rata 200 hari), menegaskan sinyal pasar bearish, dan harga mempercepat penurunan dari bawah 90.000 dolar. Saat ini, BTC telah menembus support di 80.000 dolar dan menguji level 74.000 dolar.
Pelajaran dari Penurunan dan Rebound Logam Mulia
Pergerakan pasar logam mulia sangat mirip dengan Bitcoin, tetapi mereka rebound lebih dulu. Emas dan perak mencatat penurunan harian terbesar dalam sejarah minggu lalu: emas turun 9-10%, perak anjlok 31%, yang terburuk sejak 1980. Penyebabnya juga berasal dari penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga: setelah nominasi Warsh, dolar rebound dari level terendah empat tahun, dan logam mulia yang dihargai dalam dolar AS tertekan. Selain itu, perang tarif global dan penutupan pemerintah memperburuk ketakutan resesi, menyebabkan investor menjual aset berisiko.
Namun, logam mulia cepat rebound: hari Senin, emas naik 5,5% ke 4.913 dolar, dan perak naik 11% ke 85 dolar. Ini dipicu oleh beberapa faktor: pertama, reset posisi setelah penjualan ekstrem, dengan posisi long menutup kerugian; kedua, atribut safe haven dari logam mulia kembali diminati dalam ketegangan geopolitik; ketiga, bursa menaikkan margin, membatasi volatilitas lebih lanjut. Analis berpendapat bahwa rebound ini bukanlah pembalikan tren, melainkan koreksi jangka pendek, dengan faktor pendorong jangka panjang seperti inflasi dan risiko geopolitik tetap ada.
Dibandingkan dengan Bitcoin, rebound logam mulia menunjukkan ketahanan yang lebih kuat. Bitcoin sebagai “aset risiko” lebih rentan terhadap pasar saham dan likuiditas, sementara logam mulia mendapatkan manfaat dari permintaan fisik dan cadangan bank sentral (seperti pembelian oleh China dan India).
Analisis Korelasi antara Bitcoin dan Logam Mulia
Kedua aset ini mengalami penurunan secara bersamaan karena faktor makro: dolar yang menguat, ekspektasi suku bunga tinggi, dan risiko geopolitik. Bitcoin pernah dianggap sebagai “emas digital”, tetapi korelasi mereka melemah dalam kejadian ini: saat emas rebound, BTC tetap berada di posisi rendah. Ini menunjukkan bahwa Bitcoin lebih bergantung pada leverage dan spekulasi, sementara logam mulia memiliki fundamental yang lebih stabil.
Secara historis, selama pasar bearish 2022, koefisien korelasi BTC dan emas pernah mencapai 0,8, tetapi menurun menjadi sekitar 0,4 pada 2025-2026. Jika logam mulia terus rebound, ini bisa memberikan dukungan psikologis bagi BTC, tetapi jika dolar tetap kuat, korelasi ini bisa semakin terlepas.
Langkah Selanjutnya di Dunia Kripto: Rebound di Tempat atau Penurunan Lebih Dalam?
Argumen Rebound
Dukungan teknikal: 74.000 dolar adalah level support utama, dekat dengan level penutupan miner (69.000-74.000 dolar). Jika ditembus, bisa memicu penjualan dari miner, tetapi saat ini sudah rebound ke 78.000 dolar. RSI oversold (RSI 14 hari <30), menunjukkan potensi rebound jangka pendek, dengan target 80.000-85.000 dolar.
Perbaikan fundamental: arus keluar ETF melambat, dan jika kebijakan The Fed melonggar, dana bisa kembali masuk. Prediksi optimis 2026 dari Youwei Yang memperkirakan harga tertinggi mencapai 225.000 dolar. Diskusi di platform X menunjukkan beberapa trader menganggap 74k sebagai “bottom”, dan menantikan “rebound di tempat”.
Perubahan makro: jika risiko geopolitik mereda atau dolar melemah (misalnya data China membaik), aset berisiko bisa rebound. Rebound keras logam mulia mungkin menandakan pola serupa.
Argumen Penurunan Lebih Dalam
Konfirmasi Bearish: death cross dan pola bendera bearish mengindikasikan penurunan lebih lanjut, dengan target 60.000-68.000 dolar. Analis seperti Alex Thorn memperingatkan kemungkinan menguji 56.000-58.000 dolar.
Tekanan dari miner: jika menembus 74.000 dolar, miner menengah (seperti S21) akan mengalami kerugian, memicu penjualan besar.
Risiko makro: suku bunga tinggi yang berkelanjutan, penutupan pemerintah, dan ketakutan resesi global akan menekan rebound. Prediksi rata-rata 2026 adalah 110.000 dolar, tetapi di level terendah hanya 75.000 dolar. Beberapa pandangan di platform X menyatakan bahwa perlu menunggu lebih banyak posisi long dilikuidasi terlebih dahulu.
Secara keseluruhan, dalam jangka pendek (2-4 minggu), kemungkinan terjadi rebound teknikal ke 80.000-85.000 dolar, tetapi jika faktor makro tidak membaik, risiko penurunan menengah lebih tinggi, dengan potensi bottom di 65.000 dolar. Dalam jangka panjang, BTC 2026 mungkin akan berkisar antara 75.000-150.000 dolar.
Kesimpulan
Penurunan Bitcoin ke 74.000 dolar sangat kontras dengan pola rebound setelah penurunan logam mulia, menyoroti bahwa pasar kripto lebih bersifat spekulatif. Langkah selanjutnya di dunia kripto bergantung pada perubahan makro: jika dolar melemah dan risiko mereda, rebound besar bisa terjadi; jika tidak, penurunan lebih dalam ke kisaran 60.000 dolar mungkin terjadi. Investor harus memperhatikan dinamika Federal Reserve, likuiditas ETF, dan support teknikal, serta melakukan diversifikasi risiko. Pasar selalu berubah, dan disarankan untuk membuat keputusan berdasarkan data dan analisis, bukan emosi.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Bitcoin jatuh ke $74.000: Inspirasi rebound logam mulia, langkah selanjutnya apa yang harus dilakukan di dunia kripto?
Pendahuluan
Belakangan ini, pasar cryptocurrency mengalami volatilitas yang tajam. Bitcoin (BTC) dari puncaknya sebesar 126.000 dolar AS pada Oktober 2025 turun secara drastis dan pada awal Februari 2026 jatuh ke sekitar 74.000 dolar AS, memicu kepanikan pasar. Sementara itu, pasar logam mulia juga mengalami pukulan keras: harga emas dari puncaknya 5.600 dolar/oz turun ke 4.400 dolar/oz, dan perak dari 121 dolar/oz anjlok ke 71 dolar/oz, tetapi kemudian rebound dengan cepat, emas naik kembali ke 4.900 dolar/oz, dan perak ke 85 dolar/oz. Pola “penurunan tajam diikuti rebound keras” ini terlihat pada logam mulia, sementara pasar Bitcoin masih dalam keadaan lesu. Apakah langkah selanjutnya di dunia kripto adalah “rebound di tempat” atau “terus menurun”? Artikel ini akan melakukan analisis mendalam dari berbagai sudut pandang seperti ekonomi makro, geopolitik, analisis teknikal, dan fundamental untuk mengeksplorasi potensi tren.
Analisis Penyebab Penurunan Bitcoin
Penurunan Bitcoin bukanlah kejadian yang terisolasi, melainkan hasil dari kombinasi faktor makro. Pertama, Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve, yang dipandang pasar sebagai sinyal “hawkish”. Warsh menekankan disiplin moneter dan kebijakan suku bunga tinggi, yang menyebabkan investor mengantisipasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi, menguatkan indeks dolar AS. Dalam lingkungan suku bunga tinggi, daya tarik aset berisiko seperti cryptocurrency menurun, dan dana mengalir ke aset yang lebih aman.
Kedua, risiko geopolitik meningkat. Ketegangan antara AS dan Iran meningkat, memicu sentimen safe haven, tetapi Bitcoin gagal berfungsi sebagai “emas digital”, malah ikut turun bersama aset berisiko. Selain itu, ETF Bitcoin spot di AS mengalami arus keluar besar-besaran, dengan net outflow hampir 1,5 miliar dolar minggu lalu, dan ETF Ether keluar sebesar 327 juta dolar, mencerminkan pengurangan posisi dari investor institusi dalam ketidakpastian makro.
Masalah likuiditas semakin memperbesar volatilitas. Likuiditas rendah selama akhir pekan menyebabkan “flash crash”, dengan likuidasi leverage mencapai 500 juta dolar, kerugian mayor dialami oleh posisi long. Dari sisi teknikal, Bitcoin membentuk “death cross” (rata-rata 50 hari memotong ke bawah rata-rata 200 hari), menegaskan sinyal pasar bearish, dan harga mempercepat penurunan dari bawah 90.000 dolar. Saat ini, BTC telah menembus support di 80.000 dolar dan menguji level 74.000 dolar.
Pelajaran dari Penurunan dan Rebound Logam Mulia
Pergerakan pasar logam mulia sangat mirip dengan Bitcoin, tetapi mereka rebound lebih dulu. Emas dan perak mencatat penurunan harian terbesar dalam sejarah minggu lalu: emas turun 9-10%, perak anjlok 31%, yang terburuk sejak 1980. Penyebabnya juga berasal dari penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga: setelah nominasi Warsh, dolar rebound dari level terendah empat tahun, dan logam mulia yang dihargai dalam dolar AS tertekan. Selain itu, perang tarif global dan penutupan pemerintah memperburuk ketakutan resesi, menyebabkan investor menjual aset berisiko.
Namun, logam mulia cepat rebound: hari Senin, emas naik 5,5% ke 4.913 dolar, dan perak naik 11% ke 85 dolar. Ini dipicu oleh beberapa faktor: pertama, reset posisi setelah penjualan ekstrem, dengan posisi long menutup kerugian; kedua, atribut safe haven dari logam mulia kembali diminati dalam ketegangan geopolitik; ketiga, bursa menaikkan margin, membatasi volatilitas lebih lanjut. Analis berpendapat bahwa rebound ini bukanlah pembalikan tren, melainkan koreksi jangka pendek, dengan faktor pendorong jangka panjang seperti inflasi dan risiko geopolitik tetap ada.
Dibandingkan dengan Bitcoin, rebound logam mulia menunjukkan ketahanan yang lebih kuat. Bitcoin sebagai “aset risiko” lebih rentan terhadap pasar saham dan likuiditas, sementara logam mulia mendapatkan manfaat dari permintaan fisik dan cadangan bank sentral (seperti pembelian oleh China dan India).
Analisis Korelasi antara Bitcoin dan Logam Mulia
Kedua aset ini mengalami penurunan secara bersamaan karena faktor makro: dolar yang menguat, ekspektasi suku bunga tinggi, dan risiko geopolitik. Bitcoin pernah dianggap sebagai “emas digital”, tetapi korelasi mereka melemah dalam kejadian ini: saat emas rebound, BTC tetap berada di posisi rendah. Ini menunjukkan bahwa Bitcoin lebih bergantung pada leverage dan spekulasi, sementara logam mulia memiliki fundamental yang lebih stabil.
Secara historis, selama pasar bearish 2022, koefisien korelasi BTC dan emas pernah mencapai 0,8, tetapi menurun menjadi sekitar 0,4 pada 2025-2026. Jika logam mulia terus rebound, ini bisa memberikan dukungan psikologis bagi BTC, tetapi jika dolar tetap kuat, korelasi ini bisa semakin terlepas.
Langkah Selanjutnya di Dunia Kripto: Rebound di Tempat atau Penurunan Lebih Dalam?
Argumen Rebound
Dukungan teknikal: 74.000 dolar adalah level support utama, dekat dengan level penutupan miner (69.000-74.000 dolar). Jika ditembus, bisa memicu penjualan dari miner, tetapi saat ini sudah rebound ke 78.000 dolar. RSI oversold (RSI 14 hari <30), menunjukkan potensi rebound jangka pendek, dengan target 80.000-85.000 dolar. Perbaikan fundamental: arus keluar ETF melambat, dan jika kebijakan The Fed melonggar, dana bisa kembali masuk. Prediksi optimis 2026 dari Youwei Yang memperkirakan harga tertinggi mencapai 225.000 dolar. Diskusi di platform X menunjukkan beberapa trader menganggap 74k sebagai “bottom”, dan menantikan “rebound di tempat”. Perubahan makro: jika risiko geopolitik mereda atau dolar melemah (misalnya data China membaik), aset berisiko bisa rebound. Rebound keras logam mulia mungkin menandakan pola serupa.
Argumen Penurunan Lebih Dalam
Konfirmasi Bearish: death cross dan pola bendera bearish mengindikasikan penurunan lebih lanjut, dengan target 60.000-68.000 dolar. Analis seperti Alex Thorn memperingatkan kemungkinan menguji 56.000-58.000 dolar. Tekanan dari miner: jika menembus 74.000 dolar, miner menengah (seperti S21) akan mengalami kerugian, memicu penjualan besar. Risiko makro: suku bunga tinggi yang berkelanjutan, penutupan pemerintah, dan ketakutan resesi global akan menekan rebound. Prediksi rata-rata 2026 adalah 110.000 dolar, tetapi di level terendah hanya 75.000 dolar. Beberapa pandangan di platform X menyatakan bahwa perlu menunggu lebih banyak posisi long dilikuidasi terlebih dahulu.
Secara keseluruhan, dalam jangka pendek (2-4 minggu), kemungkinan terjadi rebound teknikal ke 80.000-85.000 dolar, tetapi jika faktor makro tidak membaik, risiko penurunan menengah lebih tinggi, dengan potensi bottom di 65.000 dolar. Dalam jangka panjang, BTC 2026 mungkin akan berkisar antara 75.000-150.000 dolar.
Kesimpulan
Penurunan Bitcoin ke 74.000 dolar sangat kontras dengan pola rebound setelah penurunan logam mulia, menyoroti bahwa pasar kripto lebih bersifat spekulatif. Langkah selanjutnya di dunia kripto bergantung pada perubahan makro: jika dolar melemah dan risiko mereda, rebound besar bisa terjadi; jika tidak, penurunan lebih dalam ke kisaran 60.000 dolar mungkin terjadi. Investor harus memperhatikan dinamika Federal Reserve, likuiditas ETF, dan support teknikal, serta melakukan diversifikasi risiko. Pasar selalu berubah, dan disarankan untuk membuat keputusan berdasarkan data dan analisis, bukan emosi.