Perlombaan untuk mineral tanah jarang yang langka sedang membentuk kembali rantai pasok global dan geopolitik. Dengan transisi energi bersih dan teknologi canggih yang mendorong permintaan, mengamankan akses ke bahan penting ini telah menjadi keharusan strategis. Tapi inilah kenyataannya: memiliki cadangan mineral tanah jarang terbesar tidak otomatis berarti dominasi dalam produksi atau pasokan. Beberapa negara menyimpan stok besar tetapi tetap menjadi produsen kecil, sementara yang lain memaksimalkan cadangan mereka yang lebih kecil. Memahami negara mana yang memegang tanah jarang terbanyak—dan apa yang sebenarnya mereka lakukan dengan itu—adalah kunci untuk memahami lanskap teknologi dan energi di masa depan.
Dominasi Menggila China dalam Penyimpanan Mineral Tanah Jarang
Tak mengherankan jika China memegang cadangan mineral tanah jarang terbesar di dunia sebanyak 44 juta ton metrik (MT). Dominasi negara ini sangat mencengangkan: pada 2024, China memproduksi 270.000 MT tanah jarang—sekitar 69% dari output global. Meski posisi ini menguasai, Beijing tetap terobsesi melindungi dan memperluas cadangannya.
Pada 2012, pejabat China memperingatkan bahwa cadangan mineral tanah jarang domestik menipis dengan cepat. Pemerintah merespons secara agresif. Pada 2016, mereka mengumumkan rencana membangun stok nasional dan komersial, secara efektif menciptakan cadangan strategis mineral tanah jarang. Selama bertahun-tahun, China menindak keras operasi penambangan ilegal, menutup tambang yang tidak ramah lingkungan, dan membatasi ekspor. Batas produksi ini kini mulai dilonggarkan, dan kuota penambangan telah beberapa kali dinaikkan dalam beberapa tahun terakhir.
Pengendalian China atas mineral tanah jarang memicu gesekan global. Ketika negara ini memotong ekspor pada 2010, harga melonjak dan memicu perlombaan internasional mencari sumber alternatif. Baru-baru ini, perang dagang AS-China semakin berpusat pada mineral tanah jarang dan teknologi magnet. Pada Desember 2023, China melarang ekspor teknologi untuk memproduksi magnet tanah jarang—sebuah pukulan langsung. Selain itu, China mengimpor mineral tanah jarang berat dari Myanmar, di mana regulasi lingkungan hampir tidak ada dan pegunungan di perbatasan China-Myanmar telah hancur akibat ekstraksi.
Peringkat #2 yang Mengejutkan: Cadangan Besar Tapi Tidak Aktif Brasil
Brasil memegang cadangan mineral tanah jarang terbesar kedua di dunia sebanyak 21 juta MT—namun produksinya sangat minim. Pada 2024, tambang Brasil hanya mengekstrak 20 MT. Tapi ini akan berubah secara dramatis.
Serra Verde, perusahaan tanah jarang, meluncurkan produksi komersial tahap 1 di deposit Pela Ema di negara bagian Goiás pada awal 2024. Pada 2026, perusahaan memperkirakan akan memproduksi 5000 MT oksida tanah jarang setiap tahun. Pela Ema termasuk salah satu deposit tanah liat ionik terbesar di dunia dan akan memproduksi keempat mineral tanah jarang penting untuk magnet: neodymium, praseodymium, terbium, dan dysprosium. Yang menarik, ini akan menjadi satu-satunya operasi mineral tanah jarang di luar China yang mampu memproduksi keempatnya secara bersamaan. Ini bisa mengubah posisi Brasil dalam pasokan tanah jarang global.
India, Australia, dan Rusia: Kekuatan Mineral Tanah Jarang Menengah
India memiliki cadangan 6,9 juta MT mineral tanah jarang dan memproduksi 2900 MT pada 2024, menjaga produksi stabil. Negara ini memiliki hampir 35% dari deposit mineral pantai dan pasir dunia—keunggulan alami besar untuk ekstraksi tanah jarang. Pada akhir 2023, pemerintah India mulai menyusun kebijakan untuk mendukung riset dan pengembangan mineral tanah jarang. Pada Oktober 2024, Trafalgar, perusahaan teknik India, mengumumkan rencana membangun pabrik logam tanah jarang, paduan, dan magnet pertama di negara itu.
Australia berada di peringkat keempat dengan cadangan 5,7 juta MT dan memproduksi 13.000 MT pada 2024 (berkaitan untuk posisi keempat secara global). Ekstraksi baru berlangsung sejak 2007, tetapi momentum semakin meningkat. Lynas Rare Earths mengoperasikan tambang Mount Weld dan menjalankan fasilitas pemurnian utama di Malaysia, menjadikannya pemasok mineral tanah jarang non-China terbesar di dunia. Ekspansi Mt Weld selesai pada 2025, dan fasilitas pengolahan barunya di Kalgoorlie mulai beroperasi pertengahan 2024. Tambang Yangibana dari Hastings Technology Metals sudah siap beroperasi, dengan perjanjian pengambilan bahan disepakati dan konsentrat pertama diperkirakan keluar pada Q4 2026.
Rusia memiliki cadangan 3,8 juta MT mineral tanah jarang—turun signifikan dari 10 juta MT tahun sebelumnya. Produksi Rusia pada 2024 mencapai 2500 MT, stagnan dari tahun sebelumnya. Kremlin mengumumkan rencana investasi US$1,5 miliar pada 2020 untuk bersaing dengan China dalam mineral tanah jarang. Namun, invasi ke Ukraina secara efektif membekukan ambisi ini karena sumber daya dialihkan ke prioritas militer.
Vietnam dan Tantangannya: Target Ambisius Mineral Tanah Jarang Bertemu Realitas
Cadangan mineral tanah jarang Vietnam total 3,5 juta MT—meski ini merupakan revisi drastis dari 22 juta MT hanya setahun sebelumnya berdasarkan penilaian terbaru perusahaan dan pemerintah. Produksi pada 2024 sangat minim, hanya 300 MT. Negara ini menargetkan produksi 2,02 juta MT mineral tanah jarang pada 2030, tetapi jadwal itu tampaknya terancam. Pada Oktober 2023, enam eksekutif mineral tanah jarang ditangkap, termasuk ketua Vietnam Rare Earth, atas tuduhan penipuan penerimaan VAT. Penindakan regulasi ini jelas menghambat kemajuan.
Amerika Serikat: Kedua dalam Produksi, Ketujuh dalam Cadangan Mineral Tanah Jarang
Ada paradoks mencolok: AS berada di posisi kedua secara global dalam produksi mineral tanah jarang dengan 45.000 MT pada 2024, tetapi hanya memegang 1,9 juta MT cadangan mineral tanah jarang—peringkat ketujuh di dunia. Ketimpangan ini mencerminkan ketergantungan negara ini pada impor dan pengolahan ulang bahan, bukan penambangan primer. Saat ini, ekstraksi mineral tanah jarang di AS hanya berlangsung di tambang Mountain Pass di California, yang dioperasikan oleh MP Materials. Perusahaan ini sedang membangun kemampuan hilir di fasilitas Fort Worth untuk mengubah oksida tanah jarang menjadi magnet tanah jarang dan produk terkait.
Administrasi Biden mengalokasikan US$17,5 juta pada April 2024 untuk mengembangkan teknologi pengolahan mineral tanah jarang yang dapat mengekstrak bahan dari limbah batu bara dan produk sampingnya. Ini menunjukkan niat Washington membangun rantai pasok domestik yang lebih tangguh.
Greenland: Wildcard Geopolitik dengan 1,5 Juta MT Mineral Tanah Jarang
Greenland memegang cadangan 1,5 juta MT mineral tanah jarang tetapi saat ini tidak memproduksi apa-apa. Namun, pulau ini menjadi lokasi dua proyek utama: Tanbreez dan Kvanefjeld. Critical Metals menyelesaikan Tahap 1 akuisisi Tanbreez pada Juli 2024 dan mulai pengeboran pada September. Sementara itu, Energy Transition Minerals menghadapi hambatan berulang dengan pemerintah Greenland terkait proyek Kvanefjeld. Izin operasinya dicabut karena kekhawatiran uranium, dan bahkan rencana yang diubah tanpa uranium ditolak pada September 2023. Sampai Oktober 2024, masalah ini masih dalam peninjauan hukum.
Menariknya, dengan Donald Trump kembali ke Gedung Putih, cadangan mineral tanah jarang Greenland menarik perhatian Washington—meski Perdana Menteri Greenland dan Raja Denmark sudah menyatakan bahwa wilayah ini tidak untuk dijual.
Gambaran Besar: Dinamika Pasokan Mineral Tanah Jarang Global
Cadangan mineral tanah jarang global total 130 juta MT. Pada 2024, produksi dunia mencapai 390.000 MT, naik dari 376.000 MT pada 2023. Sepuluh tahun lalu, output global hanya sekitar 100.000 MT; sektor ini baru melewati 200.000 MT pada 2019. Pertumbuhan pesat ini mencerminkan permintaan yang melonjak dari kendaraan listrik, energi terbarukan, dan elektronik konsumen.
Tantangannya bukan kelangkaan—melainkan konsentrasi dan geopolitik. China mengendalikan tidak hanya cadangan terbesar tetapi seluruh rantai pengolahan dan pemurnian. Sementara itu, negara seperti Brasil dan Australia memiliki stok besar tetapi kekurangan infrastruktur untuk mengeksploitasinya dengan cepat. Ambisi Rusia terhenti. India bergerak dengan hati-hati. AS berinvestasi besar-besaran tetapi mulai dari posisi defisit.
Pada 2026, lanskap ini terus berkembang. Proyek yang tampaknya tidak aktif lima tahun lalu kini sudah beroperasi atau segera beroperasi. Ketahanan rantai pasok bukan lagi sebuah kemewahan—melainkan keharusan. Negara mana yang akan mendominasi mineral tanah jarang dalam dekade berikutnya akan mengubah tidak hanya teknologi, tetapi juga pengaruh geopolitik itu sendiri.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Negara Mana yang Mengendalikan Cadangan Mineral Tanah Jarang Terbesar di Dunia?
Perlombaan untuk mineral tanah jarang yang langka sedang membentuk kembali rantai pasok global dan geopolitik. Dengan transisi energi bersih dan teknologi canggih yang mendorong permintaan, mengamankan akses ke bahan penting ini telah menjadi keharusan strategis. Tapi inilah kenyataannya: memiliki cadangan mineral tanah jarang terbesar tidak otomatis berarti dominasi dalam produksi atau pasokan. Beberapa negara menyimpan stok besar tetapi tetap menjadi produsen kecil, sementara yang lain memaksimalkan cadangan mereka yang lebih kecil. Memahami negara mana yang memegang tanah jarang terbanyak—dan apa yang sebenarnya mereka lakukan dengan itu—adalah kunci untuk memahami lanskap teknologi dan energi di masa depan.
Dominasi Menggila China dalam Penyimpanan Mineral Tanah Jarang
Tak mengherankan jika China memegang cadangan mineral tanah jarang terbesar di dunia sebanyak 44 juta ton metrik (MT). Dominasi negara ini sangat mencengangkan: pada 2024, China memproduksi 270.000 MT tanah jarang—sekitar 69% dari output global. Meski posisi ini menguasai, Beijing tetap terobsesi melindungi dan memperluas cadangannya.
Pada 2012, pejabat China memperingatkan bahwa cadangan mineral tanah jarang domestik menipis dengan cepat. Pemerintah merespons secara agresif. Pada 2016, mereka mengumumkan rencana membangun stok nasional dan komersial, secara efektif menciptakan cadangan strategis mineral tanah jarang. Selama bertahun-tahun, China menindak keras operasi penambangan ilegal, menutup tambang yang tidak ramah lingkungan, dan membatasi ekspor. Batas produksi ini kini mulai dilonggarkan, dan kuota penambangan telah beberapa kali dinaikkan dalam beberapa tahun terakhir.
Pengendalian China atas mineral tanah jarang memicu gesekan global. Ketika negara ini memotong ekspor pada 2010, harga melonjak dan memicu perlombaan internasional mencari sumber alternatif. Baru-baru ini, perang dagang AS-China semakin berpusat pada mineral tanah jarang dan teknologi magnet. Pada Desember 2023, China melarang ekspor teknologi untuk memproduksi magnet tanah jarang—sebuah pukulan langsung. Selain itu, China mengimpor mineral tanah jarang berat dari Myanmar, di mana regulasi lingkungan hampir tidak ada dan pegunungan di perbatasan China-Myanmar telah hancur akibat ekstraksi.
Peringkat #2 yang Mengejutkan: Cadangan Besar Tapi Tidak Aktif Brasil
Brasil memegang cadangan mineral tanah jarang terbesar kedua di dunia sebanyak 21 juta MT—namun produksinya sangat minim. Pada 2024, tambang Brasil hanya mengekstrak 20 MT. Tapi ini akan berubah secara dramatis.
Serra Verde, perusahaan tanah jarang, meluncurkan produksi komersial tahap 1 di deposit Pela Ema di negara bagian Goiás pada awal 2024. Pada 2026, perusahaan memperkirakan akan memproduksi 5000 MT oksida tanah jarang setiap tahun. Pela Ema termasuk salah satu deposit tanah liat ionik terbesar di dunia dan akan memproduksi keempat mineral tanah jarang penting untuk magnet: neodymium, praseodymium, terbium, dan dysprosium. Yang menarik, ini akan menjadi satu-satunya operasi mineral tanah jarang di luar China yang mampu memproduksi keempatnya secara bersamaan. Ini bisa mengubah posisi Brasil dalam pasokan tanah jarang global.
India, Australia, dan Rusia: Kekuatan Mineral Tanah Jarang Menengah
India memiliki cadangan 6,9 juta MT mineral tanah jarang dan memproduksi 2900 MT pada 2024, menjaga produksi stabil. Negara ini memiliki hampir 35% dari deposit mineral pantai dan pasir dunia—keunggulan alami besar untuk ekstraksi tanah jarang. Pada akhir 2023, pemerintah India mulai menyusun kebijakan untuk mendukung riset dan pengembangan mineral tanah jarang. Pada Oktober 2024, Trafalgar, perusahaan teknik India, mengumumkan rencana membangun pabrik logam tanah jarang, paduan, dan magnet pertama di negara itu.
Australia berada di peringkat keempat dengan cadangan 5,7 juta MT dan memproduksi 13.000 MT pada 2024 (berkaitan untuk posisi keempat secara global). Ekstraksi baru berlangsung sejak 2007, tetapi momentum semakin meningkat. Lynas Rare Earths mengoperasikan tambang Mount Weld dan menjalankan fasilitas pemurnian utama di Malaysia, menjadikannya pemasok mineral tanah jarang non-China terbesar di dunia. Ekspansi Mt Weld selesai pada 2025, dan fasilitas pengolahan barunya di Kalgoorlie mulai beroperasi pertengahan 2024. Tambang Yangibana dari Hastings Technology Metals sudah siap beroperasi, dengan perjanjian pengambilan bahan disepakati dan konsentrat pertama diperkirakan keluar pada Q4 2026.
Rusia memiliki cadangan 3,8 juta MT mineral tanah jarang—turun signifikan dari 10 juta MT tahun sebelumnya. Produksi Rusia pada 2024 mencapai 2500 MT, stagnan dari tahun sebelumnya. Kremlin mengumumkan rencana investasi US$1,5 miliar pada 2020 untuk bersaing dengan China dalam mineral tanah jarang. Namun, invasi ke Ukraina secara efektif membekukan ambisi ini karena sumber daya dialihkan ke prioritas militer.
Vietnam dan Tantangannya: Target Ambisius Mineral Tanah Jarang Bertemu Realitas
Cadangan mineral tanah jarang Vietnam total 3,5 juta MT—meski ini merupakan revisi drastis dari 22 juta MT hanya setahun sebelumnya berdasarkan penilaian terbaru perusahaan dan pemerintah. Produksi pada 2024 sangat minim, hanya 300 MT. Negara ini menargetkan produksi 2,02 juta MT mineral tanah jarang pada 2030, tetapi jadwal itu tampaknya terancam. Pada Oktober 2023, enam eksekutif mineral tanah jarang ditangkap, termasuk ketua Vietnam Rare Earth, atas tuduhan penipuan penerimaan VAT. Penindakan regulasi ini jelas menghambat kemajuan.
Amerika Serikat: Kedua dalam Produksi, Ketujuh dalam Cadangan Mineral Tanah Jarang
Ada paradoks mencolok: AS berada di posisi kedua secara global dalam produksi mineral tanah jarang dengan 45.000 MT pada 2024, tetapi hanya memegang 1,9 juta MT cadangan mineral tanah jarang—peringkat ketujuh di dunia. Ketimpangan ini mencerminkan ketergantungan negara ini pada impor dan pengolahan ulang bahan, bukan penambangan primer. Saat ini, ekstraksi mineral tanah jarang di AS hanya berlangsung di tambang Mountain Pass di California, yang dioperasikan oleh MP Materials. Perusahaan ini sedang membangun kemampuan hilir di fasilitas Fort Worth untuk mengubah oksida tanah jarang menjadi magnet tanah jarang dan produk terkait.
Administrasi Biden mengalokasikan US$17,5 juta pada April 2024 untuk mengembangkan teknologi pengolahan mineral tanah jarang yang dapat mengekstrak bahan dari limbah batu bara dan produk sampingnya. Ini menunjukkan niat Washington membangun rantai pasok domestik yang lebih tangguh.
Greenland: Wildcard Geopolitik dengan 1,5 Juta MT Mineral Tanah Jarang
Greenland memegang cadangan 1,5 juta MT mineral tanah jarang tetapi saat ini tidak memproduksi apa-apa. Namun, pulau ini menjadi lokasi dua proyek utama: Tanbreez dan Kvanefjeld. Critical Metals menyelesaikan Tahap 1 akuisisi Tanbreez pada Juli 2024 dan mulai pengeboran pada September. Sementara itu, Energy Transition Minerals menghadapi hambatan berulang dengan pemerintah Greenland terkait proyek Kvanefjeld. Izin operasinya dicabut karena kekhawatiran uranium, dan bahkan rencana yang diubah tanpa uranium ditolak pada September 2023. Sampai Oktober 2024, masalah ini masih dalam peninjauan hukum.
Menariknya, dengan Donald Trump kembali ke Gedung Putih, cadangan mineral tanah jarang Greenland menarik perhatian Washington—meski Perdana Menteri Greenland dan Raja Denmark sudah menyatakan bahwa wilayah ini tidak untuk dijual.
Gambaran Besar: Dinamika Pasokan Mineral Tanah Jarang Global
Cadangan mineral tanah jarang global total 130 juta MT. Pada 2024, produksi dunia mencapai 390.000 MT, naik dari 376.000 MT pada 2023. Sepuluh tahun lalu, output global hanya sekitar 100.000 MT; sektor ini baru melewati 200.000 MT pada 2019. Pertumbuhan pesat ini mencerminkan permintaan yang melonjak dari kendaraan listrik, energi terbarukan, dan elektronik konsumen.
Tantangannya bukan kelangkaan—melainkan konsentrasi dan geopolitik. China mengendalikan tidak hanya cadangan terbesar tetapi seluruh rantai pengolahan dan pemurnian. Sementara itu, negara seperti Brasil dan Australia memiliki stok besar tetapi kekurangan infrastruktur untuk mengeksploitasinya dengan cepat. Ambisi Rusia terhenti. India bergerak dengan hati-hati. AS berinvestasi besar-besaran tetapi mulai dari posisi defisit.
Pada 2026, lanskap ini terus berkembang. Proyek yang tampaknya tidak aktif lima tahun lalu kini sudah beroperasi atau segera beroperasi. Ketahanan rantai pasok bukan lagi sebuah kemewahan—melainkan keharusan. Negara mana yang akan mendominasi mineral tanah jarang dalam dekade berikutnya akan mengubah tidak hanya teknologi, tetapi juga pengaruh geopolitik itu sendiri.