Dalam satu hari perdagangan terakhir sesi Asia, yen Jepang menunjukkan kenaikan moderat terhadap dolar AS, mengakhiri tren penurunan dua hari berturut-turut. Kenaikan ini didorong oleh komentar terbaru Menteri Keuangan Jepang, Katayama Satsuki, mengenai intervensi bersama AS-Jepang yang kembali memicu ekspektasi pasar terhadap apresiasi yen. Bank of Japan (BoJ), dengan kecenderungan kebijakan hawkish, tampaknya mencapai konsensus kebijakan untuk membatasi depresiasi yen secara berlebihan. Namun, kekuatan penguatan ini dibatasi oleh berbagai faktor—ketidakpastian politik domestik, janji kebijakan fiskal agresif dari Perdana Menteri Suga Yoshihide, rebound kuat dolar akhir-akhir ini, serta perbaikan sentimen risiko pasar secara umum—semuanya secara bertahap melemahkan daya tarik yen sebagai aset safe haven.
Kekhawatiran Intervensi Bank Sentral Dorong Yen, namun Prospek Kebijakan Masih Tidak Jelas
Didukung oleh ekspektasi intervensi bersama antara otoritas AS dan Jepang untuk menstabilkan nilai tukar, berita tentang yen terus menarik perhatian pasar. Katayama Satsuki pekan lalu menyatakan bahwa Jepang akan terus berkoordinasi erat dengan otoritas AS sesuai kerangka pernyataan bersama yang dicapai September tahun lalu, dan akan melakukan respons tepat waktu jika diperlukan. Pernyataan ini membuka ruang kebijakan untuk intervensi bersama yang potensial, sekaligus mengindikasikan bahwa BoJ semakin tidak nyaman dengan tekanan inflasi yang diakibatkan depresiasi yen.
Dalam ringkasan pendapat rapat Januari, BoJ mengungkapkan bahwa anggota dewan membahas secara mendalam kenaikan harga akibat yen yang melemah, mencerminkan terbentuknya konsensus hawkish di internal bank sentral. Perubahan arah kebijakan ini membantu yen mendapatkan dukungan jangka pendek. Namun, pembelaan Katayama Satsuki terhadap manfaat yen yang lemah, atas nama PM Suga, menunjukkan bahwa di dunia politik Jepang terdapat pertimbangan kepentingan yang kompleks terkait nilai tukar, sehingga keberlanjutan kebijakan yen yang lemah masih penuh ketidakpastian.
Situasi politik menjelang pemilihan awal di Jepang awal Februari menambah variabel baru. Suga Yoshihide berjanji jika Partai Liberal Demokratik (LDP) menang, akan menangguhkan pajak konsumsi bahan makanan selama dua tahun. Janji ini memicu kekhawatiran tentang keberlanjutan fiskal Jepang. Ketidakpastian kebijakan semacam ini biasanya membatasi spekulasi bullish agresif terhadap aset aman seperti yen, meskipun sinyal kebijakan bank sentral cenderung hawkish.
Kekuatan Dolar dan Perbaikan Sentimen Risiko Membatasi Penguatan Yen
Meski berita yen fokus pada kebijakan bank sentral, performa dolar AS saat ini membatasi ruang penguatan yen. Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengumumkan kesepakatan dagang dengan India dan langsung menurunkan tarif barang saling terkait, yang secara efektif memperbaiki sentimen risiko pasar. Sementara itu, ketegangan antara AS dan Iran menunjukkan tanda-tanda mereda, semakin menurunkan premi risiko pasar. Dalam konteks ini, permintaan investor terhadap aset safe haven alami menurun, memberikan tekanan berbalik langsung terhadap yen.
Data manufaktur global juga mendukung rebound dolar. Survei terbaru dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan bahwa aktivitas pabrik AS untuk pertama kalinya dalam setahun mengalami pertumbuhan, dengan indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Januari naik dari 47,9 ke 52,6, menandai perbaikan signifikan dalam kondisi manufaktur AS. Data positif ini memperkuat rebound dolar dari level terendah tahun lalu Kamis lalu, dan memberikan hambatan kuat terhadap penurunan pasangan USD/JPY.
Dari segi ekspektasi pasar, mantan anggota Federal Reserve Kevin Waugh yang diusulkan Presiden AS untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Fed (menunggu persetujuan Senate, dijadwalkan mulai Mei) dikenal hawkish. Kenaikan Waugh diperkirakan akan mendukung dolar, karena pasar menganggap dia akan mengambil sikap lebih hati-hati saat inflasi meningkat. Ekspektasi ini juga membatasi penurunan lebih lanjut pasangan USD/JPY, membuat trader short tetap berhati-hati.
Secara Teknis, Support Kunci Menentukan Arah Selanjutnya
Dari sudut pandang teknikal, harga spot USD/JPY saat ini berjuang di sekitar level retracement 50% dari penurunan terakhir dari 159.23 ke 152.10. Jika harga mampu menembus secara konsisten, pasangan ini berpotensi naik ke level 156.45, yang merupakan area retracement Fibonacci 61.8% sekaligus MA 200 minggu pada grafik 4 jam. Perlu dicatat bahwa MA 200 minggu ini sedang menurun di sekitar 156.50, menunjukkan bias lemah secara keseluruhan. Saat ini, USD/JPY diperdagangkan di bawah MA jangka panjang ini, sehingga setiap upaya rebound mendekati level tersebut berpotensi menghadapi tekanan jual yang besar.
Jika harga mampu menembus level kunci tersebut dengan tegas, peluang rebound lebih lanjut terbuka. Sebaliknya, jika gagal menembus, tekanan jual akan tetap dominan, dan pasangan ini berisiko mengalami koreksi lebih dalam dalam kerangka tren turun. Dari indikator momentum, MACD masih di zona positif dan di atas garis sinyal, tetapi menunjukkan tanda-tanda melemah karena histogram menyusut. RSI di 61, tetap di atas garis tengah 50, namun belum mencapai level overbought. Ini menunjukkan bahwa jika harga gagal menembus MA 200 minggu, setiap rebound kemungkinan bersifat koreksi, bukan pembalikan tren.
Para pelaku pasar saat ini menunggu data lowongan pekerjaan AS (JOLTS) yang akan dirilis, yang diharapkan memberi dorongan tambahan dalam perdagangan sesi Amerika Utara. Namun, dalam konteks fundamental yang campur aduk—ekspektasi intervensi bank sentral dan risiko politik yang bersamaan, penguatan dolar dan sinyal kebijakan yen yang meningkat—para trader perlu berhati-hati sebelum membuka posisi arah baru USD/JPY, menunggu sinyal kebijakan yang lebih jelas dan konfirmasi tren pasar.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Nilai tukar Yen Jepang berfluktuasi di antara ekspektasi intervensi bank sentral dan risiko politik
Dalam satu hari perdagangan terakhir sesi Asia, yen Jepang menunjukkan kenaikan moderat terhadap dolar AS, mengakhiri tren penurunan dua hari berturut-turut. Kenaikan ini didorong oleh komentar terbaru Menteri Keuangan Jepang, Katayama Satsuki, mengenai intervensi bersama AS-Jepang yang kembali memicu ekspektasi pasar terhadap apresiasi yen. Bank of Japan (BoJ), dengan kecenderungan kebijakan hawkish, tampaknya mencapai konsensus kebijakan untuk membatasi depresiasi yen secara berlebihan. Namun, kekuatan penguatan ini dibatasi oleh berbagai faktor—ketidakpastian politik domestik, janji kebijakan fiskal agresif dari Perdana Menteri Suga Yoshihide, rebound kuat dolar akhir-akhir ini, serta perbaikan sentimen risiko pasar secara umum—semuanya secara bertahap melemahkan daya tarik yen sebagai aset safe haven.
Kekhawatiran Intervensi Bank Sentral Dorong Yen, namun Prospek Kebijakan Masih Tidak Jelas
Didukung oleh ekspektasi intervensi bersama antara otoritas AS dan Jepang untuk menstabilkan nilai tukar, berita tentang yen terus menarik perhatian pasar. Katayama Satsuki pekan lalu menyatakan bahwa Jepang akan terus berkoordinasi erat dengan otoritas AS sesuai kerangka pernyataan bersama yang dicapai September tahun lalu, dan akan melakukan respons tepat waktu jika diperlukan. Pernyataan ini membuka ruang kebijakan untuk intervensi bersama yang potensial, sekaligus mengindikasikan bahwa BoJ semakin tidak nyaman dengan tekanan inflasi yang diakibatkan depresiasi yen.
Dalam ringkasan pendapat rapat Januari, BoJ mengungkapkan bahwa anggota dewan membahas secara mendalam kenaikan harga akibat yen yang melemah, mencerminkan terbentuknya konsensus hawkish di internal bank sentral. Perubahan arah kebijakan ini membantu yen mendapatkan dukungan jangka pendek. Namun, pembelaan Katayama Satsuki terhadap manfaat yen yang lemah, atas nama PM Suga, menunjukkan bahwa di dunia politik Jepang terdapat pertimbangan kepentingan yang kompleks terkait nilai tukar, sehingga keberlanjutan kebijakan yen yang lemah masih penuh ketidakpastian.
Situasi politik menjelang pemilihan awal di Jepang awal Februari menambah variabel baru. Suga Yoshihide berjanji jika Partai Liberal Demokratik (LDP) menang, akan menangguhkan pajak konsumsi bahan makanan selama dua tahun. Janji ini memicu kekhawatiran tentang keberlanjutan fiskal Jepang. Ketidakpastian kebijakan semacam ini biasanya membatasi spekulasi bullish agresif terhadap aset aman seperti yen, meskipun sinyal kebijakan bank sentral cenderung hawkish.
Kekuatan Dolar dan Perbaikan Sentimen Risiko Membatasi Penguatan Yen
Meski berita yen fokus pada kebijakan bank sentral, performa dolar AS saat ini membatasi ruang penguatan yen. Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengumumkan kesepakatan dagang dengan India dan langsung menurunkan tarif barang saling terkait, yang secara efektif memperbaiki sentimen risiko pasar. Sementara itu, ketegangan antara AS dan Iran menunjukkan tanda-tanda mereda, semakin menurunkan premi risiko pasar. Dalam konteks ini, permintaan investor terhadap aset safe haven alami menurun, memberikan tekanan berbalik langsung terhadap yen.
Data manufaktur global juga mendukung rebound dolar. Survei terbaru dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan bahwa aktivitas pabrik AS untuk pertama kalinya dalam setahun mengalami pertumbuhan, dengan indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Januari naik dari 47,9 ke 52,6, menandai perbaikan signifikan dalam kondisi manufaktur AS. Data positif ini memperkuat rebound dolar dari level terendah tahun lalu Kamis lalu, dan memberikan hambatan kuat terhadap penurunan pasangan USD/JPY.
Dari segi ekspektasi pasar, mantan anggota Federal Reserve Kevin Waugh yang diusulkan Presiden AS untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Fed (menunggu persetujuan Senate, dijadwalkan mulai Mei) dikenal hawkish. Kenaikan Waugh diperkirakan akan mendukung dolar, karena pasar menganggap dia akan mengambil sikap lebih hati-hati saat inflasi meningkat. Ekspektasi ini juga membatasi penurunan lebih lanjut pasangan USD/JPY, membuat trader short tetap berhati-hati.
Secara Teknis, Support Kunci Menentukan Arah Selanjutnya
Dari sudut pandang teknikal, harga spot USD/JPY saat ini berjuang di sekitar level retracement 50% dari penurunan terakhir dari 159.23 ke 152.10. Jika harga mampu menembus secara konsisten, pasangan ini berpotensi naik ke level 156.45, yang merupakan area retracement Fibonacci 61.8% sekaligus MA 200 minggu pada grafik 4 jam. Perlu dicatat bahwa MA 200 minggu ini sedang menurun di sekitar 156.50, menunjukkan bias lemah secara keseluruhan. Saat ini, USD/JPY diperdagangkan di bawah MA jangka panjang ini, sehingga setiap upaya rebound mendekati level tersebut berpotensi menghadapi tekanan jual yang besar.
Jika harga mampu menembus level kunci tersebut dengan tegas, peluang rebound lebih lanjut terbuka. Sebaliknya, jika gagal menembus, tekanan jual akan tetap dominan, dan pasangan ini berisiko mengalami koreksi lebih dalam dalam kerangka tren turun. Dari indikator momentum, MACD masih di zona positif dan di atas garis sinyal, tetapi menunjukkan tanda-tanda melemah karena histogram menyusut. RSI di 61, tetap di atas garis tengah 50, namun belum mencapai level overbought. Ini menunjukkan bahwa jika harga gagal menembus MA 200 minggu, setiap rebound kemungkinan bersifat koreksi, bukan pembalikan tren.
Para pelaku pasar saat ini menunggu data lowongan pekerjaan AS (JOLTS) yang akan dirilis, yang diharapkan memberi dorongan tambahan dalam perdagangan sesi Amerika Utara. Namun, dalam konteks fundamental yang campur aduk—ekspektasi intervensi bank sentral dan risiko politik yang bersamaan, penguatan dolar dan sinyal kebijakan yen yang meningkat—para trader perlu berhati-hati sebelum membuka posisi arah baru USD/JPY, menunggu sinyal kebijakan yang lebih jelas dan konfirmasi tren pasar.