Apakah saham yang sudah dikeluarkan masih berguna—fakta yang harus diketahui oleh investor

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung

Banyak investor khawatir saham yang mereka miliki tiba-tiba delisting, sehingga saham tersebut berubah menjadi “kertas kosong”. Faktanya, apakah saham yang delisting masih berguna? Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban mutlak, tergantung pada alasan delisting, penanganan perusahaan setelah delisting, dan strategi yang diambil investor. Memahami hal-hal ini penting agar dapat membuat keputusan yang tepat saat menghadapi delisting saham.

Apa arti delisting saham—dari definisi hingga klasifikasi

Pertanyaan apakah saham yang delisting masih berguna, pertama-tama harus memahami arti sebenarnya dari delisting. Delisting adalah kondisi di mana perusahaan yang terdaftar di bialik (bursa saham) dihentikan pencatatannya karena tidak lagi memenuhi standar listing atau atas permintaan sendiri. Singkatnya, saham perusahaan dipaksa atau secara sukarela keluar dari bursa, sehingga investor tidak lagi dapat melakukan transaksi di bursa tersebut.

Perlu dibedakan bahwa delisting dan over-the-counter (OTC) bukan hal yang sama: delisting berarti perusahaan keluar dari pasar bursa utama, sedangkan over-the-counter adalah perusahaan yang terdaftar di pusat perdagangan OTC dan kemudian dihentikan perdagangannya. Selain itu, suspend trading (penghentian sementara) dan delisting (penghapusan permanen) juga harus dipahami secara terpisah—suspend biasanya hanya sementara, sedangkan delisting berarti keluar secara permanen dari pasar saat ini.

Mengapa saham bisa delisting—tiga alasan utama

Perusahaan bisa mengalami delisting karena berbagai alasan, dan memahami alasan ini sangat penting untuk menilai apakah saham yang delisting masih berguna.

Kinerja keuangan memburuk dan kerugian berkelanjutan

Jika perusahaan terdaftar terus-menerus mengalami kerugian selama bertahun-tahun, nilai bersihnya menjadi negatif, atau laporan audit dari auditor menyatakan ketidakpastian material, bursa akan memasukkan perusahaan tersebut ke dalam daftar pemeriksaan delisting. Contohnya, Chesapeake Energy Corporation, produsen gas alam, mengajukan kebangkrutan pada Juni 2020 dan menyelesaikan restrukturisasi pada Februari 2021. Dalam situasi ini, nilai saham yang dipegang investor menghadapi risiko besar.

Pelaporan pelanggaran dan pelanggaran hukum besar

Jika perusahaan tidak mengungkapkan informasi secara benar, melaporkan pendapatan palsu, melakukan transaksi insider, atau menyembunyikan informasi penting, bursa akan memerintahkan delisting. Contohnya, Luckin Coffee yang terkenal di tahun 2020 dikeluarkan dari NASDAQ karena terlibat kecurangan keuangan. Kasus ini menunjukkan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi.

Akuisisi atau keputusan privatisasi

Beberapa perusahaan diakuisisi oleh induk perusahaan atau secara sukarela melakukan privatisasi, dan mengajukan delisting untuk menghentikan perdagangan publik. Contohnya, Dell Technologies keluar dari NASDAQ pada 2013 untuk melaksanakan strategi privatisasi. Dalam situasi ini, pemegang saham memiliki peluang mendapatkan kompensasi melalui buyback.

Proses delisting—bagaimana dan kapan investor harus merespons

Delisting biasanya tidak terjadi secara mendadak; prosesnya bisa memakan waktu beberapa bulan. Investor dapat mengikuti perkembangan melalui pemberitahuan dari broker atau pengumuman dari bursa.

Tahap peringatan: Bursa mengirimkan “surat peringatan penanganan”, dan nama saham akan diberi tanda seperti “*” atau “ST” (misalnya “*XX Elektronik”). Pada tahap ini, investor harus waspada.

Batas waktu perbaikan: Perusahaan biasanya diberikan waktu 3-6 bulan untuk melakukan “upaya perbaikan”, misalnya dengan menambah laporan keuangan, mengundang investor strategis, dan lain-lain.

Tahap peninjauan: Jika target perbaikan tidak tercapai, bursa akan mengadakan rapat peninjauan untuk memutuskan apakah akan melakukan delisting.

Pengumuman delisting: Setelah keputusan diambil, diumumkan tanggal delisting dan hari terakhir perdagangan, setelah itu saham resmi keluar dari pasar.

Penilaian nilai saham setelah delisting—hasil dalam berbagai situasi

Apakah saham yang delisting masih berguna? Jawabannya tergantung pada alasan delisting dan penanganan perusahaan selanjutnya:

Situasi buyback privat: Jika saham yang beredar di pasar hanya sekitar 10-20%, pemegang saham mayoritas mungkin bermotivasi untuk membeli kembali saham tersebut dengan harga lebih tinggi dalam periode tertentu. Investor harus memperhatikan pengumuman perusahaan, karena mungkin ada peluang keluar dengan harga yang wajar.

Situasi kebangkrutan dan likuidasi: Saat perusahaan bangkrut, pembayaran utang memiliki prioritas tertentu, dan pemegang saham biasa biasanya berada di urutan terakhir. Nilai saham yang dimiliki investor kemungkinan besar mendekati nol, dan sulit untuk mengembalikan modal.

Situasi kapitalisasi pasar sangat rendah: Jika harga saham terus-menerus rendah sehingga nilai pasar perusahaan menurun, likuiditas saham juga menurun drastis. Jika investor dapat menemukan pembeli di pasar dalam atau luar pasar, mereka masih bisa mencairkan sahamnya; jika tidak, mereka berisiko mengalami kerugian besar atau total kehilangan modal.

Situasi delisting karena pelanggaran: Jika perusahaan dipaksa delisting karena pelanggaran, transaksi saham bisa dibekukan, dan investor tidak bisa mengubahnya menjadi uang tunai. Mereka harus menunggu proses hukum selesai, yang bisa menyebabkan kerugian langsung terhadap dana yang tersedia.

Mencegah risiko delisting—membangun portofolio investasi yang rasional

Setelah memahami bahwa apakah saham yang delisting masih berguna tergantung pada banyak faktor, yang lebih penting adalah melakukan pencegahan sejak awal. Sebelum membeli saham, analisis secara cermat prospek bisnis perusahaan, posisi pasar, kesehatan keuangan, dan apakah perusahaan memenuhi syarat listing bursa.

Diversifikasi adalah strategi penting. Hindari konsentrasi dana terlalu besar pada satu saham atau satu jenis aset, dan lakukan alokasi sesuai toleransi risiko:

  • Investor berisiko tinggi: 15% kontrak diferensial, 50% saham, 30% dana, 5% tabungan bank.
  • Investor risiko sedang: 10% kontrak diferensial, 35% saham, 35% dana, 20% tabungan bank.
  • Investor risiko rendah: 5% kontrak diferensial, 15% saham, 40% dana, 40% tabungan bank.

Panduan penanganan setelah delisting—enam langkah keluar dari masalah

Meskipun menghadapi delisting, dengan mengikuti informasi secara tepat dan merespons secara tepat, peluang untuk mengurangi kerugian tetap ada.

Langkah 1: Pantau pengumuman resmi. Perusahaan akan mengumumkan tanggal delisting dan langkah penanganan di “Pengawas Informasi Publik”. Termasuk apakah akan melakukan buyback, pindah ke pasar OTC, atau proses likuidasi. Investor harus aktif mengikuti informasi ini atau mengonfirmasi ke broker.

Langkah 2: Evaluasi skema buyback. Jika perusahaan menawarkan buyback, investor harus menyelesaikan prosedur dalam batas waktu yang ditentukan. Periksa apakah harga buyback wajar.

Langkah 3: Pertimbangkan pindah ke pasar OTC. Jika perusahaan beralih ke pasar OTC, meskipun volume perdagangan lebih rendah, transaksi tetap bisa dilakukan. Jika kondisi keuangan perusahaan membaik, ada kemungkinan untuk listing kembali. Investor bisa menunggu dan memegang saham.

Langkah 4: Tanggapi likuidasi kebangkrutan. Jika delisting disebabkan oleh kerusakan keuangan atau kebangkrutan, investor harus bersabar menunggu proses likuidasi selesai. Karena prioritas pemegang saham biasa paling terakhir, jumlah yang bisa dikembalikan terbatas, tetapi saham tetap bisa digunakan sebagai dasar pengurangan pajak kerugian investasi.

Langkah 5: Transfer pribadi dan perjanjian. Jika tidak ada opsi buyback atau OTC, investor masih bisa melakukan transfer pribadi dengan pemegang saham lain melalui perjanjian, tetapi harus menyelesaikan proses pengalihan perusahaan. Disarankan berkonsultasi dengan broker atau agen saham perusahaan.

Langkah 6: Pelaporan pajak dan pengakuan kerugian. Jika tidak bisa mendapatkan kembali investasi, dapat dilaporkan sebagai kerugian investasi untuk mengurangi keuntungan modal. Jika ada buyback tunai, hitung sesuai jumlah yang diterima. Konsultasikan dengan akuntan profesional agar prosedur pajak benar.

Pemikiran terakhir

Apakah saham yang delisting masih berguna? Jawabannya tergantung situasi, tetapi tidak sepenuhnya tidak berguna. Kunci utamanya adalah kemampuan beradaptasi dan pengambilan keputusan tepat waktu. Sebelum saham resmi delisting, jika ada peluang untuk mengambil posisi dan memperkirakan kerugian besar, sebaiknya segera keluar untuk menghindari kerugian. Sebaliknya, jika prospek keuntungan cukup besar (misalnya buyback privat), bisa menunggu dan menunggu peluang penjualan kembali dengan harga tinggi. Yang terpenting adalah membangun portofolio yang beragam dan secara rutin memantau kondisi keuangan perusahaan yang dimiliki, sebagai strategi jangka panjang menghadapi risiko delisting.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)