Nilai tukar dolar Australia (AUD) yang terus melemah telah menjadi tantangan jangka panjang di pasar valuta asing. Meskipun dalam satu tahun terakhir AUD menguat sekitar 5–7% terhadap USD, tampaknya ada pemulihan, namun jika dilihat dari kerangka waktu yang lebih makro, tren penurunan jangka panjang AUD tetap jelas. Dari level sekitar 1,05 pada awal 2013, selama sepuluh tahun terakhir AUD telah melemah lebih dari 35%, sementara indeks dolar AS justru naik 28,35%, menunjukkan bahwa penyebab utama penurunan AUD bukanlah fluktuasi jangka pendek, melainkan ketidakseimbangan struktural yang berkembang dalam jangka panjang.
Mengapa AUD terus tertekan? Ketidakseimbangan struktural di balik tren sepuluh tahun
Kelemahan jangka panjang AUD dapat ditelusuri kembali ke perubahan pola ekonomi global setelah 2013. Saat itu, Australia masih menarik sebagai mata uang dengan suku bunga tinggi, tetapi seiring penyesuaian struktur ekonomi global, AUD menghadapi tiga tekanan utama.
Pertama, penurunan permintaan komoditas. Struktur ekspor Australia sangat bergantung pada bijih besi, batu bara, dan energi. Setelah 2013, pertumbuhan ekonomi China melambat, sehingga permintaan terhadap bahan mentah ini stagnan. Jika dibandingkan dengan masa pemulihan China yang kuat antara 2009-2011, saat AUD mendekati 1,05 dan harga komoditas melonjak, yang mendorong penguatan AUD secara langsung. Kini, siklus komoditas memasuki fase penurunan, sehingga karakter AUD sebagai “mata uang komoditas” justru menjadi beban.
Kedua, hilangnya keunggulan selisih suku bunga. Federal Reserve AS memulai gelombang kenaikan suku bunga global pada akhir 2022, sementara Reserve Bank of Australia (RBA) tertinggal dalam langkahnya. Meskipun akhirnya RBA juga menaikkan suku bunga, struktur selisih suku bunga antara AS dan Australia telah berubah. Saat ini, suku bunga tunai RBA sekitar 3,60%, jauh di bawah tingkat kebijakan Federal Reserve, sehingga pengurangan selisih ini secara langsung melemahkan daya tarik AUD untuk arbitrase dan investor yang mencari imbal hasil. Keunggulan AUD sebagai “mata uang berimbal tinggi” pun memudar.
Ketiga, posisi dominan dolar AS secara jangka panjang. Siklus “penguatan dolar” ini bukan masalah AUD saja. Euro, Yen, dan dolar Kanada juga melemah terhadap dolar AS, mencerminkan preferensi kapital global yang tetap terhadap aset AS. Ketahanan ekonomi AS, kebijakan Federal Reserve yang relatif hawkish, dan permintaan safe haven geopolitik memperkuat posisi dolar. Dalam konteks ini, kekuatan AUD terbatas secara individual.
Fenomena penurunan AUD ini semakin nyata saat mendekati level tertinggi sebelumnya, di mana tekanan jual pasar meningkat tajam. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan pasar terhadap AUD masih terbatas—ekspektasi terhadap prospek Australia belum mengalami perubahan mendasar.
Tiga faktor kunci yang menentukan apakah AUD bisa bangkit kembali
Meskipun tren penurunan AUD sangat dalam, rebound jangka pendek dan menengah tetap mungkin. Untuk menilai apakah AUD memiliki peluang untuk terus naik, investor perlu memantau tiga faktor utama berikut:
1. Kebijakan suku bunga RBA: Apakah selisih suku bunga akan kembali menguntungkan?
Kebijakan moneter RBA secara langsung menentukan daya tarik AUD sebagai “mata uang berimbal tinggi”. Pasar mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga lagi pada 2026, dengan perkiraan dari Commonwealth Bank of Australia (CBA) bahwa suku bunga tertinggi bisa mencapai 3,85%.
Jika inflasi tetap tinggi dan pasar tenaga kerja tetap kuat, sikap hawkish RBA akan kembali memperkuat selisih suku bunga, menarik kembali perhatian trader arbitrase dan investor yang mencari imbal hasil. Sebaliknya, jika ekspektasi kenaikan suku bunga mengecewakan dan RBA beralih ke pelonggaran, kekuatan AUD akan melemah secara signifikan.
2. Ekonomi China dan harga komoditas: Penggerak eksternal AUD
Sebagai mata uang komoditas, AUD sangat terkait dengan permintaan dari China. Ketika aktivitas konstruksi dan manufaktur China meningkat, harga bijih besi biasanya ikut menguat, dan AUD cenderung menguat secara cepat. Sebaliknya, jika pemulihan China tidak cukup kuat, meskipun ada rebound jangka pendek, AUD berisiko mengalami koreksi turun.
Harga bijih besi dan emas yang melonjak baru-baru ini memberi dukungan kenaikan AUD. Namun, keberlanjutan rebound ini bergantung pada apakah ekonomi China dapat terus membaik dan apakah aktivitas manufaktur global kembali pulih. Jika permintaan China kembali melemah, risiko penurunan AUD akan kembali muncul.
3. Tren dolar AS dan sentimen risiko global: Penentu aliran modal
Kebijakan Federal Reserve tetap menjadi penggerak utama pasar valuta asing global. Dalam lingkungan penurunan suku bunga, pelemahan dolar biasanya mendukung mata uang risiko seperti AUD; namun, jika sentimen safe haven meningkat dan modal kembali ke dolar, AUD bisa tertekan meskipun fundamentalnya belum memburuk.
Meski sentimen pasar membaik akhir-akhir ini, harga energi dan prospek permintaan global masih tidak optimis, membatasi potensi kenaikan AUD. Investor cenderung memilih aset safe haven seperti dolar daripada mata uang siklikal seperti AUD.
Agar AUD benar-benar bisa keluar dari tren sideways jangka menengah-panjang, tiga kondisi harus terpenuhi secara bersamaan: RBA kembali hawkish, permintaan dari China membaik secara nyata, dan dolar AS memasuki fase pelemahan struktural. Jika hanya satu atau dua dari faktor ini yang terpenuhi, AUD kemungkinan akan tetap berkisar dalam rentang dan tidak menembus tren naik yang signifikan.
Prospek AUD tahun 2026: rebound tetap dalam kisaran
Pergerakan AUD di masa depan sangat bergantung pada apakah “rebound” ini bisa berubah menjadi tren utama. Mayoritas analis pasar sepakat bahwa: secara jangka pendek, AUD memiliki ruang untuk pemulihan, tetapi untuk kembali ke tren bullish yang kuat, kondisi makro yang lebih jelas diperlukan.
Perkiraan dari berbagai institusi menunjukkan pandangan berbeda. Morgan Stanley optimistis, memperkirakan AUD/USD bisa mencapai 0,72 pada akhir 2025, didukung oleh kebijakan hawkish RBA dan kenaikan harga komoditas. Model statistik dari Traders Union memperkirakan rata-rata sekitar 0,6875 pada akhir 2026 (rentang 0,6738–0,7012), dan naik lagi ke 0,725 pada akhir 2027. Dasar dari prediksi optimis ini adalah jika ekonomi AS mengalami soft landing dan indeks dolar melemah, hal ini akan mendukung mata uang komoditas seperti AUD.
Namun, ada juga lembaga yang lebih berhati-hati. UBS bersikap konservatif, meskipun ekonomi Australia tetap resilient, ketidakpastian global dan potensi perubahan kebijakan Fed bisa membatasi kenaikan AUD, dengan prediksi akhir tahun di sekitar 0,68. Ekonom CBA bahkan menyatakan bahwa rebound AUD mungkin bersifat sementara, memperkirakan AUD/USD mencapai puncaknya di paruh pertama 2026, lalu berpotensi kembali turun.
Saat ini, AUD cenderung berkisar antara 0,68–0,70 selama beberapa bulan terakhir. Pengaruh data China dan fluktuasi data ketenagakerjaan AS membuat AUD tidak akan jatuh dalam waktu dekat (fundamental Australia tetap kuat, RBA hawkish), tetapi juga sulit menembus level lebih tinggi (karena keunggulan struktural dolar). Tekanan jangka pendek berasal dari data ekonomi China, sementara potensi bullish jangka panjang berasal dari kemungkinan pemulihan ekspor sumber daya Australia dan siklus komoditas.
Apa arti penurunan besar AUD bagi berbagai investor
Penurunan besar AUD membawa tantangan sekaligus peluang. Bagi investor yang mencari pendapatan stabil, daya tarik bunga AUD sudah berkurang secara signifikan; namun, bagi trader, AUD/USD sebagai salah satu dari lima mata uang utama dunia menawarkan likuiditas tinggi, spread rendah, dan volatilitas yang teratur, sehingga membuka peluang trading yang menarik.
Investor dapat memanfaatkan trading forex margin untuk menangkap fluktuasi AUD. Dalam pasar forex, trader dapat melakukan posisi long maupun short, dengan leverage hingga 1:200. Ini memungkinkan mereka meraih keuntungan saat rebound maupun saat harga turun, dengan biaya transaksi yang relatif rendah, cocok untuk investor dengan modal kecil hingga menengah. Namun, perlu diingat bahwa semua investasi mengandung risiko, dan trading forex adalah aktivitas berisiko tinggi yang bisa menyebabkan kerugian seluruh modal.
Platform seperti Mitrade menyediakan kemudahan untuk investasi AUD, tanpa perlu mengunduh software rumit. Cukup daftar sekarang dan langsung dapatkan akun demo gratis untuk berlatih trading di webtrader.
Penilaian akhir terhadap tren AUD
Penyebab utama penurunan AUD adalah hilangnya keunggulan sebagai “mata uang komoditas” dalam siklus ekonomi saat ini. Struktur ekspor Australia yang sangat bergantung pada bijih besi, batu bara, dan energi, serta permintaan China yang melemah, langsung menekan potensi kenaikan harga komoditas.
Secara umum, analisis pasar menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, kebijakan hawkish RBA dan kenaikan harga komoditas akan memberi dukungan pada AUD. Namun, dalam jangka menengah-panjang, ketidakpastian ekonomi global dan keunggulan struktural dolar AS tetap membatasi potensi penguatan AUD, sehingga pergerakannya cenderung berombak.
Meskipun volatilitas pasar forex tinggi dan pergerakan kurs sulit diprediksi secara akurat, karakteristik likuiditas tinggi dan pola volatilitas AUD, ditambah dengan struktur ekonomi yang khas, membuat analisis tren jangka menengah lebih mudah dilakukan. Memahami akar struktural dari penurunan AUD adalah kunci utama dalam pengambilan keputusan investasi.
Tertarik trading AUD/USD? Sekarang bisa daftar akun demo di Mitrade dan rasakan pengalaman trading tanpa risiko. Mitrade menyediakan akses langsung ke pasar, fitur buy/sell, trading 24 jam, limit order, dan stop loss, membantu Anda memanfaatkan peluang pergerakan AUD.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kesulitan struktural di balik kejatuhan besar dolar Australia: penguatan dolar AS, kelemahan komoditas, penyempitan spread suku bunga
Nilai tukar dolar Australia (AUD) yang terus melemah telah menjadi tantangan jangka panjang di pasar valuta asing. Meskipun dalam satu tahun terakhir AUD menguat sekitar 5–7% terhadap USD, tampaknya ada pemulihan, namun jika dilihat dari kerangka waktu yang lebih makro, tren penurunan jangka panjang AUD tetap jelas. Dari level sekitar 1,05 pada awal 2013, selama sepuluh tahun terakhir AUD telah melemah lebih dari 35%, sementara indeks dolar AS justru naik 28,35%, menunjukkan bahwa penyebab utama penurunan AUD bukanlah fluktuasi jangka pendek, melainkan ketidakseimbangan struktural yang berkembang dalam jangka panjang.
Mengapa AUD terus tertekan? Ketidakseimbangan struktural di balik tren sepuluh tahun
Kelemahan jangka panjang AUD dapat ditelusuri kembali ke perubahan pola ekonomi global setelah 2013. Saat itu, Australia masih menarik sebagai mata uang dengan suku bunga tinggi, tetapi seiring penyesuaian struktur ekonomi global, AUD menghadapi tiga tekanan utama.
Pertama, penurunan permintaan komoditas. Struktur ekspor Australia sangat bergantung pada bijih besi, batu bara, dan energi. Setelah 2013, pertumbuhan ekonomi China melambat, sehingga permintaan terhadap bahan mentah ini stagnan. Jika dibandingkan dengan masa pemulihan China yang kuat antara 2009-2011, saat AUD mendekati 1,05 dan harga komoditas melonjak, yang mendorong penguatan AUD secara langsung. Kini, siklus komoditas memasuki fase penurunan, sehingga karakter AUD sebagai “mata uang komoditas” justru menjadi beban.
Kedua, hilangnya keunggulan selisih suku bunga. Federal Reserve AS memulai gelombang kenaikan suku bunga global pada akhir 2022, sementara Reserve Bank of Australia (RBA) tertinggal dalam langkahnya. Meskipun akhirnya RBA juga menaikkan suku bunga, struktur selisih suku bunga antara AS dan Australia telah berubah. Saat ini, suku bunga tunai RBA sekitar 3,60%, jauh di bawah tingkat kebijakan Federal Reserve, sehingga pengurangan selisih ini secara langsung melemahkan daya tarik AUD untuk arbitrase dan investor yang mencari imbal hasil. Keunggulan AUD sebagai “mata uang berimbal tinggi” pun memudar.
Ketiga, posisi dominan dolar AS secara jangka panjang. Siklus “penguatan dolar” ini bukan masalah AUD saja. Euro, Yen, dan dolar Kanada juga melemah terhadap dolar AS, mencerminkan preferensi kapital global yang tetap terhadap aset AS. Ketahanan ekonomi AS, kebijakan Federal Reserve yang relatif hawkish, dan permintaan safe haven geopolitik memperkuat posisi dolar. Dalam konteks ini, kekuatan AUD terbatas secara individual.
Fenomena penurunan AUD ini semakin nyata saat mendekati level tertinggi sebelumnya, di mana tekanan jual pasar meningkat tajam. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan pasar terhadap AUD masih terbatas—ekspektasi terhadap prospek Australia belum mengalami perubahan mendasar.
Tiga faktor kunci yang menentukan apakah AUD bisa bangkit kembali
Meskipun tren penurunan AUD sangat dalam, rebound jangka pendek dan menengah tetap mungkin. Untuk menilai apakah AUD memiliki peluang untuk terus naik, investor perlu memantau tiga faktor utama berikut:
1. Kebijakan suku bunga RBA: Apakah selisih suku bunga akan kembali menguntungkan?
Kebijakan moneter RBA secara langsung menentukan daya tarik AUD sebagai “mata uang berimbal tinggi”. Pasar mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga lagi pada 2026, dengan perkiraan dari Commonwealth Bank of Australia (CBA) bahwa suku bunga tertinggi bisa mencapai 3,85%.
Jika inflasi tetap tinggi dan pasar tenaga kerja tetap kuat, sikap hawkish RBA akan kembali memperkuat selisih suku bunga, menarik kembali perhatian trader arbitrase dan investor yang mencari imbal hasil. Sebaliknya, jika ekspektasi kenaikan suku bunga mengecewakan dan RBA beralih ke pelonggaran, kekuatan AUD akan melemah secara signifikan.
2. Ekonomi China dan harga komoditas: Penggerak eksternal AUD
Sebagai mata uang komoditas, AUD sangat terkait dengan permintaan dari China. Ketika aktivitas konstruksi dan manufaktur China meningkat, harga bijih besi biasanya ikut menguat, dan AUD cenderung menguat secara cepat. Sebaliknya, jika pemulihan China tidak cukup kuat, meskipun ada rebound jangka pendek, AUD berisiko mengalami koreksi turun.
Harga bijih besi dan emas yang melonjak baru-baru ini memberi dukungan kenaikan AUD. Namun, keberlanjutan rebound ini bergantung pada apakah ekonomi China dapat terus membaik dan apakah aktivitas manufaktur global kembali pulih. Jika permintaan China kembali melemah, risiko penurunan AUD akan kembali muncul.
3. Tren dolar AS dan sentimen risiko global: Penentu aliran modal
Kebijakan Federal Reserve tetap menjadi penggerak utama pasar valuta asing global. Dalam lingkungan penurunan suku bunga, pelemahan dolar biasanya mendukung mata uang risiko seperti AUD; namun, jika sentimen safe haven meningkat dan modal kembali ke dolar, AUD bisa tertekan meskipun fundamentalnya belum memburuk.
Meski sentimen pasar membaik akhir-akhir ini, harga energi dan prospek permintaan global masih tidak optimis, membatasi potensi kenaikan AUD. Investor cenderung memilih aset safe haven seperti dolar daripada mata uang siklikal seperti AUD.
Agar AUD benar-benar bisa keluar dari tren sideways jangka menengah-panjang, tiga kondisi harus terpenuhi secara bersamaan: RBA kembali hawkish, permintaan dari China membaik secara nyata, dan dolar AS memasuki fase pelemahan struktural. Jika hanya satu atau dua dari faktor ini yang terpenuhi, AUD kemungkinan akan tetap berkisar dalam rentang dan tidak menembus tren naik yang signifikan.
Prospek AUD tahun 2026: rebound tetap dalam kisaran
Pergerakan AUD di masa depan sangat bergantung pada apakah “rebound” ini bisa berubah menjadi tren utama. Mayoritas analis pasar sepakat bahwa: secara jangka pendek, AUD memiliki ruang untuk pemulihan, tetapi untuk kembali ke tren bullish yang kuat, kondisi makro yang lebih jelas diperlukan.
Perkiraan dari berbagai institusi menunjukkan pandangan berbeda. Morgan Stanley optimistis, memperkirakan AUD/USD bisa mencapai 0,72 pada akhir 2025, didukung oleh kebijakan hawkish RBA dan kenaikan harga komoditas. Model statistik dari Traders Union memperkirakan rata-rata sekitar 0,6875 pada akhir 2026 (rentang 0,6738–0,7012), dan naik lagi ke 0,725 pada akhir 2027. Dasar dari prediksi optimis ini adalah jika ekonomi AS mengalami soft landing dan indeks dolar melemah, hal ini akan mendukung mata uang komoditas seperti AUD.
Namun, ada juga lembaga yang lebih berhati-hati. UBS bersikap konservatif, meskipun ekonomi Australia tetap resilient, ketidakpastian global dan potensi perubahan kebijakan Fed bisa membatasi kenaikan AUD, dengan prediksi akhir tahun di sekitar 0,68. Ekonom CBA bahkan menyatakan bahwa rebound AUD mungkin bersifat sementara, memperkirakan AUD/USD mencapai puncaknya di paruh pertama 2026, lalu berpotensi kembali turun.
Saat ini, AUD cenderung berkisar antara 0,68–0,70 selama beberapa bulan terakhir. Pengaruh data China dan fluktuasi data ketenagakerjaan AS membuat AUD tidak akan jatuh dalam waktu dekat (fundamental Australia tetap kuat, RBA hawkish), tetapi juga sulit menembus level lebih tinggi (karena keunggulan struktural dolar). Tekanan jangka pendek berasal dari data ekonomi China, sementara potensi bullish jangka panjang berasal dari kemungkinan pemulihan ekspor sumber daya Australia dan siklus komoditas.
Apa arti penurunan besar AUD bagi berbagai investor
Penurunan besar AUD membawa tantangan sekaligus peluang. Bagi investor yang mencari pendapatan stabil, daya tarik bunga AUD sudah berkurang secara signifikan; namun, bagi trader, AUD/USD sebagai salah satu dari lima mata uang utama dunia menawarkan likuiditas tinggi, spread rendah, dan volatilitas yang teratur, sehingga membuka peluang trading yang menarik.
Investor dapat memanfaatkan trading forex margin untuk menangkap fluktuasi AUD. Dalam pasar forex, trader dapat melakukan posisi long maupun short, dengan leverage hingga 1:200. Ini memungkinkan mereka meraih keuntungan saat rebound maupun saat harga turun, dengan biaya transaksi yang relatif rendah, cocok untuk investor dengan modal kecil hingga menengah. Namun, perlu diingat bahwa semua investasi mengandung risiko, dan trading forex adalah aktivitas berisiko tinggi yang bisa menyebabkan kerugian seluruh modal.
Platform seperti Mitrade menyediakan kemudahan untuk investasi AUD, tanpa perlu mengunduh software rumit. Cukup daftar sekarang dan langsung dapatkan akun demo gratis untuk berlatih trading di webtrader.
Penilaian akhir terhadap tren AUD
Penyebab utama penurunan AUD adalah hilangnya keunggulan sebagai “mata uang komoditas” dalam siklus ekonomi saat ini. Struktur ekspor Australia yang sangat bergantung pada bijih besi, batu bara, dan energi, serta permintaan China yang melemah, langsung menekan potensi kenaikan harga komoditas.
Secara umum, analisis pasar menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, kebijakan hawkish RBA dan kenaikan harga komoditas akan memberi dukungan pada AUD. Namun, dalam jangka menengah-panjang, ketidakpastian ekonomi global dan keunggulan struktural dolar AS tetap membatasi potensi penguatan AUD, sehingga pergerakannya cenderung berombak.
Meskipun volatilitas pasar forex tinggi dan pergerakan kurs sulit diprediksi secara akurat, karakteristik likuiditas tinggi dan pola volatilitas AUD, ditambah dengan struktur ekonomi yang khas, membuat analisis tren jangka menengah lebih mudah dilakukan. Memahami akar struktural dari penurunan AUD adalah kunci utama dalam pengambilan keputusan investasi.
Tertarik trading AUD/USD? Sekarang bisa daftar akun demo di Mitrade dan rasakan pengalaman trading tanpa risiko. Mitrade menyediakan akses langsung ke pasar, fitur buy/sell, trading 24 jam, limit order, dan stop loss, membantu Anda memanfaatkan peluang pergerakan AUD.