2025 adalah tahun penting bagi Yuan. Setelah mengalami depresiasi selama tiga tahun berturut-turut, Yuan akhirnya berhasil menembus angka psikologis 7.0 di akhir tahun, dan saat ini stabil di sekitar 6.96. Ini tidak hanya menandai berakhirnya sebuah era, tetapi juga melambangkan bahwa prospek Yuan memasuki tahap perkembangan yang benar-benar baru. Didukung oleh ketahanan ekspor China dan reorientasi modal asing ke aset Yuan, para bank investasi utama internasional secara beramai-ramai memproyeksikan tren penguatan Yuan dan memperkirakan bahwa pada tahun 2026 akan ada ruang lebih lanjut untuk apresiasi.
Lantas, bagaimana sebenarnya prospek Yuan? Apakah tahun 2026 layak menjadi perhatian utama terhadap pasangan mata uang ini? Mari kita analisis dari berbagai sudut pandang secara mendalam.
Kisah di balik berakhirnya depresiasi tiga tahun Yuan dan tembusnya angka 7.0
Untuk memahami prospek Yuan, pertama-tama kita harus melihat apa yang telah terjadi di masa lalu. Sepanjang tahun 2025, nilai tukar dolar AS terhadap Yuan berfluktuasi dalam kisaran lebar antara 6.95 hingga 7.35, dan secara keseluruhan menguat sekitar 4%. Perubahan ini sangat signifikan—menandai berakhirnya siklus depresiasi yang dimulai sejak 2022.
Mengulas kembali perjalanan ini, semester pertama tahun tersebut menghadapi ujian ekstrem. Didukung oleh ketidakpastian tarif global yang meningkat dan penguatan indeks dolar AS yang berkelanjutan, Yuan di luar negeri sempat melemah menembus angka 7.40, bahkan mencatat rekor baru sejak “Reformasi Kurs 8.11” tahun 2015. Sentimen pasar terhadap Yuan mencapai titik nadir, dan banyak investor mulai meragukan peluang rebound Yuan.
Namun, situasi dengan cepat berbalik. Memasuki semester kedua, negosiasi perdagangan China-AS berjalan stabil dan menunjukkan tanda-tanda relaksasi hubungan. Pada saat yang sama, indeks dolar AS mulai melemah, sementara euro, poundsterling, dan mata uang utama non-AS lainnya menguat secara umum. Dalam konteks ini, Yuan pun mulai menguat secara moderat, dan suasana pasar perlahan berangsur stabil.
Hingga pertengahan Desember, didorong oleh pemangkasan suku bunga Federal Reserve dan sentimen pasar yang membaik, Yuan menguat secara kuat menembus angka 7.05. Pada 30 Desember, tren kenaikan ini akhirnya menguatkan posisinya, dan nilai tukar resmi menembus angka bulat, mendekati 6.9623. Breakthrough ini tidak hanya mencerminkan kekuatan Yuan sendiri, tetapi juga secara lebih mendalam mencerminkan perubahan kepercayaan pasar terhadap prospek Yuan di masa depan.
Empat faktor utama yang menentukan prospek Yuan
Untuk menilai secara akurat prospek Yuan, kita harus memahami kekuatan fundamental yang benar-benar mendorong pergerakan nilai tukar. Kekuatan ini berasal dari luar dan dari dalam, saling berinteraksi membentuk tren Yuan ke depan.
Faktor pertama: Perang antara indeks dolar dan kebijakan Federal Reserve
Pergerakan dolar AS adalah pengaruh paling langsung terhadap prospek Yuan. Sepanjang tahun 2025, indeks dolar mengalami fluktuasi besar. Di awal tahun, berada di puncak 109, kemudian turun ke sekitar 98, dengan penurunan hampir 10%, dan mencatat performa terlemah sejak tahun 1970-an di paruh pertama tahun tersebut. Penurunan ini memberi ruang berharga bagi penguatan Yuan.
Memasuki November, indeks dolar mulai rebound, dan beberapa kali kembali menembus angka 100. Ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan suku bunga Fed yang mulai mereda—karena ekonomi AS menunjukkan performa lebih baik dari perkiraan. Namun, rebound ini tidak bertahan lama, dan setelah Januari 2026, seiring Fed secara resmi memulai siklus pelonggaran baru, indeks dolar kembali ke kisaran 98.8 hingga 98.2.
Melihat ke depan tahun 2026, kisaran ini kemungkinan akan menjadi level support baru bagi indeks dolar. Meski pasar tetap optimistis terhadap ekonomi AS, tren de-dolarisasi global dan penetapan sikap dovish dari Fed akan terus melemahkan momentum rebound dolar, memberikan peluang bagi Yuan untuk mempertahankan “era 6”. Diperkirakan, Fed masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga sebanyak 2-3 kali lagi, dan setiap penurunan ini akan memberi tekanan pada dolar.
Faktor kedua: Ketegangan hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS yang rapuh
Prospek Yuan yang benar-benar menguat bergantung pada stabilitas hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS. Dalam negosiasi terbaru di Kuala Lumpur, kedua belah pihak kembali mencapai konsensus gencatan perang dagang—AS akan menurunkan tarif terkait fentanyl pada barang China dari 20% menjadi 10%, dan menangguhkan bagian dari tarif tambahan sebesar 24% hingga November 2026. Selain itu, kedua negara sepakat menunda penerapan pembatasan ekspor rare earth dan biaya pelabuhan, serta memperluas pembelian produk pertanian AS seperti kedelai.
Namun, keseimbangan ini tetap rapuh. Apakah perbaikan substantif hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS dapat berlanjut hingga semester kedua 2026? Ini adalah faktor eksternal paling penting yang akan mempengaruhi prospek Yuan. Jika kondisi saat ini dipertahankan, maka lingkungan nilai tukar Yuan cenderung stabil. Sebaliknya, jika gesekan kembali meningkat, pasar akan kembali mengalami tekanan, dan Yuan berpotensi melemah.
Faktor ketiga: Kebijakan Bank Sentral China (PBOC)
Kebijakan moneter Bank Sentral China sangat menentukan prospek Yuan. Saat ini, ekonomi China menghadapi tantangan berupa perlambatan sektor properti dan permintaan domestik yang lemah, sehingga bank sentral cenderung mempertahankan kebijakan longgar untuk mendukung pemulihan. Melalui penurunan suku bunga atau rasio cadangan wajib, likuiditas akan dilonggarkan, yang biasanya memberi tekanan depresiasi pada Yuan.
Namun, kontradiksinya adalah, jika kebijakan longgar ini dipadukan dengan stimulus fiskal yang lebih kuat dan ekonomi China mampu stabil dan kembali mempercepat pertumbuhan, maka dalam jangka panjang Yuan akan terdorong menguat secara signifikan. Artinya, prospek Yuan sangat bergantung pada apakah ekonomi China mampu mencapai pertumbuhan stabil di bawah kebijakan longgar tersebut.
Faktor keempat: Pergerakan ekspor dan alokasi modal asing ke Yuan
Ketahanan ekspor China adalah fondasi penting bagi Yuan. Sepanjang tahun lalu, meskipun kondisi perdagangan global rumit dan bergejolak, ekspor China tetap menunjukkan daya tahan yang kuat. Ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk China tetap tinggi, dan aliran devisa ini secara alami mendukung penguatan Yuan.
Selain itu, reorientasi modal asing ke aset Yuan juga merupakan sinyal positif. Setelah keluar secara besar-besaran selama 2022-2024, modal internasional mulai menilai kembali potensi investasi Yuan. Dengan ekspektasi penguatan Yuan yang semakin menguat, tren ini kemungkinan akan semakin mempercepat, membentuk siklus feedback positif-negatif.
Prospek Yuan 2026: Pandangan kolektif dari bank investasi internasional
Berdasarkan analisis dari berbagai faktor tersebut, bank-bank investasi utama dunia secara jarang menyepakati satu pandangan—yaitu optimisme terhadap Yuan.
Deutsche Bank menyatakan bahwa penguatan Yuan terhadap dolar AS akhir-akhir ini mungkin menandai dimulainya siklus penguatan jangka panjang Yuan. Mereka memperkirakan, pada tahun 2026, nilai tukar Yuan terhadap dolar bisa naik ke sekitar 6.7.
Goldman Sachs bahkan lebih optimistis, memperkirakan bahwa dengan dukungan kebijakan, target nilai tukar Yuan di tahun 2026 bisa mencapai 6.85.
Intinya, semua prediksi ini beralasan: Yuan sedang berada di titik balik siklus. Siklus depresiasi yang dimulai sejak 2022 mungkin telah berakhir, dan Yuan berpeluang memasuki tren apresiasi jangka menengah hingga panjang yang baru. Tiga faktor utama yang mendukung perubahan ini adalah: ketahanan ekspor China yang terus berlanjut; tren reorientasi modal asing ke Yuan yang semakin menguat; dan indeks dolar yang secara struktural cenderung melemah.
Jika kondisi ini terus berlanjut, maka prediksi Yuan di tahun 2026 adalah berada di kisaran 6.7 hingga 6.85, menguat sekitar 2% hingga 4% dari posisi saat ini di sekitar 6.96.
Tiga kunci dalam berinvestasi Yuan: belajar dari kebijakan, ekonomi, dan analisis nilai tukar
Tujuan utama memahami prospek Yuan adalah membantu investor membuat keputusan yang lebih bijaksana. Daripada menunggu secara pasif, lebih baik belajar untuk menilai secara aktif. Berikut tiga dimensi utama dalam pengambilan keputusan:
Dimensi pertama: Sikap kebijakan moneter Bank Sentral
Yuan bukanlah mata uang yang sepenuhnya mengambang bebas. Bank Sentral China (PBOC) melalui penyesuaian suku bunga dan rasio cadangan wajib secara jelas mempengaruhi arah nilai tukar. Ketika bank sentral menerapkan kebijakan longgar (seperti menurunkan suku bunga atau rasio cadangan), karena ekspektasi likuiditas meningkat, Yuan biasanya cenderung melemah; sebaliknya, kebijakan ketat akan mendorong penguatan Yuan.
Contoh nyata adalah tahun 2014, ketika PBOC memulai siklus pelonggaran dengan menurunkan suku bunga kredit sebanyak enam kali berturut-turut dan secara besar-besaran menurunkan rasio cadangan. Pada saat yang sama, dolar AS terhadap Yuan naik dari 6 ke sekitar 7.4, dengan apresiasi lebih dari 20%. Ini menunjukkan pengaruh mendalam kebijakan bank sentral terhadap pergerakan Yuan.
Dimensi kedua: Data ekonomi China yang relatif
Kinerja ekonomi China secara langsung menentukan arus modal asing. Ketika ekonomi China stabil dan tumbuh lebih baik dari negara-negara pasar berkembang lain, akan menarik aliran modal asing yang terus-menerus, meningkatkan permintaan terhadap Yuan dan menguatkannya. Sebaliknya, jika ekonomi melambat, Yuan pun akan tertekan.
Investor harus memperhatikan data utama seperti: Produk Domestik Bruto (GDP) kuartalan; Indeks Manajer Pembelian (PMI) bulanan, baik versi resmi maupun swasta, yang mencerminkan kesehatan sektor manufaktur dan jasa; Indeks Harga Konsumen (CPI) bulanan, yang mengukur inflasi—inflasi tinggi bisa memicu bank sentral untuk mengetatkan kebijakan; dan data investasi aset tetap kota yang dirilis bulanan, yang menunjukkan kekuatan ekonomi.
Dimensi ketiga: Sinyal dari nilai tengah Yuan dan niat resmi
Berbeda dari mata uang yang sepenuhnya pasar-digantung, nilai tengah Yuan ditetapkan setiap hari oleh PBOC, mencerminkan sikap resmi terhadap nilai tukar. Sejak 2017, bank sentral memasukkan “faktor kontra-siklus” dalam model penetapan nilai tengah untuk mengurangi perilaku mengikuti siklus pasar.
Mengamati pergerakan nilai tengah Yuan dapat memberi petunjuk apakah otoritas ingin mendorong penguatan atau pelemahan Yuan. Dalam jangka pendek, nilai tengah sangat mempengaruhi nilai tukar riil, tetapi tren jangka menengah tetap mengikuti arah pasar valuta asing secara umum.
Melihat prospek Yuan dari lima tahun: kisah siklus lengkap
Agar benar-benar memahami prospek Yuan, perlu melihat siklus lengkap lima tahun terakhir. Siklus ini menunjukkan bagaimana Yuan berfluktuasi di tengah tekanan eksternal dan penyesuaian internal.
Perubahan dramatis tahun 2020
Di awal tahun, Yuan berfluktuasi di kisaran 6.9–7.0, tetapi karena ketegangan perdagangan China-AS dan pandemi, Mei sempat melemah ke 7.18, titik terendah dalam beberapa tahun. Namun, China mampu mengendalikan pandemi dengan cepat, ekonomi pulih lebih dulu, dan bersamaan dengan Federal Reserve menurunkan suku bunga ke level terendah, faktor-faktor ini mendukung Yuan menguat kembali ke sekitar 6.50 di akhir tahun, apresiasi sekitar 6%.
Tahun 2021 relatif stabil
Ekspor China tetap kuat, ekonomi membaik, dan bank sentral menjaga kebijakan stabil. Dolar AS tetap rendah, dan Yuan berfluktuasi dalam kisaran 6.35–6.58, dengan rata-rata tahunan sekitar 6.45, tetap menunjukkan kekuatan relatif.
Tahun 2022 depresiasi besar-besaran
Ini adalah tahun paling turbulen dalam lima tahun terakhir. Federal Reserve agresif menaikkan suku bunga, indeks dolar melonjak di atas 100, dan dolar AS terhadap Yuan naik dari 6.35 ke atas 7.25, dengan depresiasi sekitar 8%, terbesar dalam beberapa tahun. Pada saat yang sama, kebijakan COVID-19 China sangat ketat, krisis properti memburuk, dan kepercayaan pasar merosot.
Tahun 2023 tekanan berlanjut
Dolar AS terhadap Yuan berfluktuasi antara 6.83 dan 7.35, dengan rata-rata sekitar 7.0, dan sedikit menguat ke sekitar 7.1 di akhir tahun. Pemulihan ekonomi China pasca pandemi tidak sesuai harapan, krisis utang properti berlarut-larut, dan pertumbuhan konsumsi tetap lemah. Suku bunga tinggi AS bertahan, indeks dolar di kisaran 100–104, dan Yuan terus mengalami tekanan.
Tahun 2024 muncul tanda perubahan
Dolar AS melemah, mengurangi tekanan terhadap Yuan. China meluncurkan stimulus fiskal dan langkah dukungan properti, dan sentimen pasar mulai membaik. Nilai tukar Yuan terhadap dolar dari 7.1 naik ke sekitar 7.3 di pertengahan tahun, dan pada Agustus, Yuan offshore menembus 7.10, mencatat level tertinggi semester. Volatilitas meningkat, tetapi tren umum mulai menunjukkan perbedaan arah.
Tahun 2025, siklus berbalik
Di awal tahun, dolar AS terhadap Yuan masih di sekitar 7.3, tetapi di semester kedua, seiring perkembangan negosiasi China-AS dan penurunan indeks dolar, Yuan mulai menguat lebih cepat. Pada akhir tahun, Yuan berhasil menembus angka 7.0, mencatat kenaikan terbesar dalam hampir tiga tahun. Perubahan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari berbagai kekuatan yang bekerja bersama.
Tiga poin pengamatan investasi Yuan tahun 2026
Bagi investor yang ingin memanfaatkan prospek Yuan, tiga variabel utama berikut patut diperhatikan:
Pertama: Ruang penurunan indeks dolar
Kapan indeks dolar akan mencapai titik terendah? Apakah jumlah penurunan suku bunga Fed tahun 2026 akan mencapai 2–3 kali seperti yang diperkirakan pasar? Ini menentukan apakah dolar akan terus melemah, dan membuka jalan terbesar bagi penguatan Yuan. Jika indeks dolar turun di bawah 96, ini akan menjadi dorongan kuat bagi Yuan untuk menguat.
Kedua: Sikap regulator di angka 6.9
Akankah PBOC melalui penetapan nilai tengah atau intervensi lain mencegah penguatan Yuan terlalu cepat? Jika otoritas ingin menjaga stabilitas nilai tukar, mereka mungkin akan menetapkan batas baru di kisaran 6.8–6.9. Ini akan langsung mempengaruhi apakah Yuan bisa mencapai target 6.7–6.85 yang diperkirakan bank investasi.
Ketiga: Efektivitas kebijakan pertumbuhan stabil China
Apakah kebijakan stabilisasi pertumbuhan China tahun 2026 benar-benar efektif dan mampu mendorong permintaan domestik serta pasar saham? Ini menentukan fondasi jangka panjang penguatan Yuan. Jika hanya kebijakan permukaan tanpa perbaikan ekonomi nyata, penguatan Yuan mungkin akan terbatas.
Kesimpulan: gambaran lengkap prospek Yuan 2026
Secara keseluruhan, prospek Yuan cukup optimistis, tetapi bukan tanpa risiko. Yuan memang telah mengakhiri siklus depresiasi tiga tahun dan menunjukkan tanda-tanda awal penguatan baru. Dengan latar belakang dolar yang cenderung melemah, hubungan China-AS yang stabil, dan dukungan kebijakan longgar dari otoritas, Yuan berpeluang menguat ke kisaran 6.7–6.85. Perkiraan ini menunjukkan apresiasi sekitar 2–4% dari posisi saat ini di sekitar 6.96.
Namun, investor harus sadar bahwa penguatan ini tidak tanpa risiko. Ketidakpastian hubungan China-AS, ketidakpastian pemulihan ekonomi China, dan kemungkinan perubahan kebijakan Fed tetap ada. Dalam kondisi prospek Yuan yang masih penuh variabel, sikap bijak adalah tetap berhati-hati dan optimistis.
Bagi mereka yang berusaha melakukan arbitrase melalui penguatan Yuan, sebaiknya hindari penggunaan leverage berlebihan, dan secara bertahap membangun posisi saat mendekati 6.9–7.0, serta mengambil keuntungan secara moderat saat mendekati 6.85. Selain itu, penting untuk terus memantau indeks dolar, kebijakan otoritas, dan hubungan China-AS, serta menyesuaikan strategi secara fleksibel sesuai perkembangan situasi.
Prospek Yuan tahun 2026 sedang terbuka lebar, dan kuncinya adalah mampu mengidentifikasi waktu yang tepat, mengenali risiko, dan mengikuti tren secara tepat.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Prospek Renminbi 2026: Dari Siklus Depresiasi Tujuh Tahun ke Era Penguatan Baru
2025 adalah tahun penting bagi Yuan. Setelah mengalami depresiasi selama tiga tahun berturut-turut, Yuan akhirnya berhasil menembus angka psikologis 7.0 di akhir tahun, dan saat ini stabil di sekitar 6.96. Ini tidak hanya menandai berakhirnya sebuah era, tetapi juga melambangkan bahwa prospek Yuan memasuki tahap perkembangan yang benar-benar baru. Didukung oleh ketahanan ekspor China dan reorientasi modal asing ke aset Yuan, para bank investasi utama internasional secara beramai-ramai memproyeksikan tren penguatan Yuan dan memperkirakan bahwa pada tahun 2026 akan ada ruang lebih lanjut untuk apresiasi.
Lantas, bagaimana sebenarnya prospek Yuan? Apakah tahun 2026 layak menjadi perhatian utama terhadap pasangan mata uang ini? Mari kita analisis dari berbagai sudut pandang secara mendalam.
Kisah di balik berakhirnya depresiasi tiga tahun Yuan dan tembusnya angka 7.0
Untuk memahami prospek Yuan, pertama-tama kita harus melihat apa yang telah terjadi di masa lalu. Sepanjang tahun 2025, nilai tukar dolar AS terhadap Yuan berfluktuasi dalam kisaran lebar antara 6.95 hingga 7.35, dan secara keseluruhan menguat sekitar 4%. Perubahan ini sangat signifikan—menandai berakhirnya siklus depresiasi yang dimulai sejak 2022.
Mengulas kembali perjalanan ini, semester pertama tahun tersebut menghadapi ujian ekstrem. Didukung oleh ketidakpastian tarif global yang meningkat dan penguatan indeks dolar AS yang berkelanjutan, Yuan di luar negeri sempat melemah menembus angka 7.40, bahkan mencatat rekor baru sejak “Reformasi Kurs 8.11” tahun 2015. Sentimen pasar terhadap Yuan mencapai titik nadir, dan banyak investor mulai meragukan peluang rebound Yuan.
Namun, situasi dengan cepat berbalik. Memasuki semester kedua, negosiasi perdagangan China-AS berjalan stabil dan menunjukkan tanda-tanda relaksasi hubungan. Pada saat yang sama, indeks dolar AS mulai melemah, sementara euro, poundsterling, dan mata uang utama non-AS lainnya menguat secara umum. Dalam konteks ini, Yuan pun mulai menguat secara moderat, dan suasana pasar perlahan berangsur stabil.
Hingga pertengahan Desember, didorong oleh pemangkasan suku bunga Federal Reserve dan sentimen pasar yang membaik, Yuan menguat secara kuat menembus angka 7.05. Pada 30 Desember, tren kenaikan ini akhirnya menguatkan posisinya, dan nilai tukar resmi menembus angka bulat, mendekati 6.9623. Breakthrough ini tidak hanya mencerminkan kekuatan Yuan sendiri, tetapi juga secara lebih mendalam mencerminkan perubahan kepercayaan pasar terhadap prospek Yuan di masa depan.
Empat faktor utama yang menentukan prospek Yuan
Untuk menilai secara akurat prospek Yuan, kita harus memahami kekuatan fundamental yang benar-benar mendorong pergerakan nilai tukar. Kekuatan ini berasal dari luar dan dari dalam, saling berinteraksi membentuk tren Yuan ke depan.
Faktor pertama: Perang antara indeks dolar dan kebijakan Federal Reserve
Pergerakan dolar AS adalah pengaruh paling langsung terhadap prospek Yuan. Sepanjang tahun 2025, indeks dolar mengalami fluktuasi besar. Di awal tahun, berada di puncak 109, kemudian turun ke sekitar 98, dengan penurunan hampir 10%, dan mencatat performa terlemah sejak tahun 1970-an di paruh pertama tahun tersebut. Penurunan ini memberi ruang berharga bagi penguatan Yuan.
Memasuki November, indeks dolar mulai rebound, dan beberapa kali kembali menembus angka 100. Ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan suku bunga Fed yang mulai mereda—karena ekonomi AS menunjukkan performa lebih baik dari perkiraan. Namun, rebound ini tidak bertahan lama, dan setelah Januari 2026, seiring Fed secara resmi memulai siklus pelonggaran baru, indeks dolar kembali ke kisaran 98.8 hingga 98.2.
Melihat ke depan tahun 2026, kisaran ini kemungkinan akan menjadi level support baru bagi indeks dolar. Meski pasar tetap optimistis terhadap ekonomi AS, tren de-dolarisasi global dan penetapan sikap dovish dari Fed akan terus melemahkan momentum rebound dolar, memberikan peluang bagi Yuan untuk mempertahankan “era 6”. Diperkirakan, Fed masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga sebanyak 2-3 kali lagi, dan setiap penurunan ini akan memberi tekanan pada dolar.
Faktor kedua: Ketegangan hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS yang rapuh
Prospek Yuan yang benar-benar menguat bergantung pada stabilitas hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS. Dalam negosiasi terbaru di Kuala Lumpur, kedua belah pihak kembali mencapai konsensus gencatan perang dagang—AS akan menurunkan tarif terkait fentanyl pada barang China dari 20% menjadi 10%, dan menangguhkan bagian dari tarif tambahan sebesar 24% hingga November 2026. Selain itu, kedua negara sepakat menunda penerapan pembatasan ekspor rare earth dan biaya pelabuhan, serta memperluas pembelian produk pertanian AS seperti kedelai.
Namun, keseimbangan ini tetap rapuh. Apakah perbaikan substantif hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS dapat berlanjut hingga semester kedua 2026? Ini adalah faktor eksternal paling penting yang akan mempengaruhi prospek Yuan. Jika kondisi saat ini dipertahankan, maka lingkungan nilai tukar Yuan cenderung stabil. Sebaliknya, jika gesekan kembali meningkat, pasar akan kembali mengalami tekanan, dan Yuan berpotensi melemah.
Faktor ketiga: Kebijakan Bank Sentral China (PBOC)
Kebijakan moneter Bank Sentral China sangat menentukan prospek Yuan. Saat ini, ekonomi China menghadapi tantangan berupa perlambatan sektor properti dan permintaan domestik yang lemah, sehingga bank sentral cenderung mempertahankan kebijakan longgar untuk mendukung pemulihan. Melalui penurunan suku bunga atau rasio cadangan wajib, likuiditas akan dilonggarkan, yang biasanya memberi tekanan depresiasi pada Yuan.
Namun, kontradiksinya adalah, jika kebijakan longgar ini dipadukan dengan stimulus fiskal yang lebih kuat dan ekonomi China mampu stabil dan kembali mempercepat pertumbuhan, maka dalam jangka panjang Yuan akan terdorong menguat secara signifikan. Artinya, prospek Yuan sangat bergantung pada apakah ekonomi China mampu mencapai pertumbuhan stabil di bawah kebijakan longgar tersebut.
Faktor keempat: Pergerakan ekspor dan alokasi modal asing ke Yuan
Ketahanan ekspor China adalah fondasi penting bagi Yuan. Sepanjang tahun lalu, meskipun kondisi perdagangan global rumit dan bergejolak, ekspor China tetap menunjukkan daya tahan yang kuat. Ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk China tetap tinggi, dan aliran devisa ini secara alami mendukung penguatan Yuan.
Selain itu, reorientasi modal asing ke aset Yuan juga merupakan sinyal positif. Setelah keluar secara besar-besaran selama 2022-2024, modal internasional mulai menilai kembali potensi investasi Yuan. Dengan ekspektasi penguatan Yuan yang semakin menguat, tren ini kemungkinan akan semakin mempercepat, membentuk siklus feedback positif-negatif.
Prospek Yuan 2026: Pandangan kolektif dari bank investasi internasional
Berdasarkan analisis dari berbagai faktor tersebut, bank-bank investasi utama dunia secara jarang menyepakati satu pandangan—yaitu optimisme terhadap Yuan.
Deutsche Bank menyatakan bahwa penguatan Yuan terhadap dolar AS akhir-akhir ini mungkin menandai dimulainya siklus penguatan jangka panjang Yuan. Mereka memperkirakan, pada tahun 2026, nilai tukar Yuan terhadap dolar bisa naik ke sekitar 6.7.
Goldman Sachs bahkan lebih optimistis, memperkirakan bahwa dengan dukungan kebijakan, target nilai tukar Yuan di tahun 2026 bisa mencapai 6.85.
Intinya, semua prediksi ini beralasan: Yuan sedang berada di titik balik siklus. Siklus depresiasi yang dimulai sejak 2022 mungkin telah berakhir, dan Yuan berpeluang memasuki tren apresiasi jangka menengah hingga panjang yang baru. Tiga faktor utama yang mendukung perubahan ini adalah: ketahanan ekspor China yang terus berlanjut; tren reorientasi modal asing ke Yuan yang semakin menguat; dan indeks dolar yang secara struktural cenderung melemah.
Jika kondisi ini terus berlanjut, maka prediksi Yuan di tahun 2026 adalah berada di kisaran 6.7 hingga 6.85, menguat sekitar 2% hingga 4% dari posisi saat ini di sekitar 6.96.
Tiga kunci dalam berinvestasi Yuan: belajar dari kebijakan, ekonomi, dan analisis nilai tukar
Tujuan utama memahami prospek Yuan adalah membantu investor membuat keputusan yang lebih bijaksana. Daripada menunggu secara pasif, lebih baik belajar untuk menilai secara aktif. Berikut tiga dimensi utama dalam pengambilan keputusan:
Dimensi pertama: Sikap kebijakan moneter Bank Sentral
Yuan bukanlah mata uang yang sepenuhnya mengambang bebas. Bank Sentral China (PBOC) melalui penyesuaian suku bunga dan rasio cadangan wajib secara jelas mempengaruhi arah nilai tukar. Ketika bank sentral menerapkan kebijakan longgar (seperti menurunkan suku bunga atau rasio cadangan), karena ekspektasi likuiditas meningkat, Yuan biasanya cenderung melemah; sebaliknya, kebijakan ketat akan mendorong penguatan Yuan.
Contoh nyata adalah tahun 2014, ketika PBOC memulai siklus pelonggaran dengan menurunkan suku bunga kredit sebanyak enam kali berturut-turut dan secara besar-besaran menurunkan rasio cadangan. Pada saat yang sama, dolar AS terhadap Yuan naik dari 6 ke sekitar 7.4, dengan apresiasi lebih dari 20%. Ini menunjukkan pengaruh mendalam kebijakan bank sentral terhadap pergerakan Yuan.
Dimensi kedua: Data ekonomi China yang relatif
Kinerja ekonomi China secara langsung menentukan arus modal asing. Ketika ekonomi China stabil dan tumbuh lebih baik dari negara-negara pasar berkembang lain, akan menarik aliran modal asing yang terus-menerus, meningkatkan permintaan terhadap Yuan dan menguatkannya. Sebaliknya, jika ekonomi melambat, Yuan pun akan tertekan.
Investor harus memperhatikan data utama seperti: Produk Domestik Bruto (GDP) kuartalan; Indeks Manajer Pembelian (PMI) bulanan, baik versi resmi maupun swasta, yang mencerminkan kesehatan sektor manufaktur dan jasa; Indeks Harga Konsumen (CPI) bulanan, yang mengukur inflasi—inflasi tinggi bisa memicu bank sentral untuk mengetatkan kebijakan; dan data investasi aset tetap kota yang dirilis bulanan, yang menunjukkan kekuatan ekonomi.
Dimensi ketiga: Sinyal dari nilai tengah Yuan dan niat resmi
Berbeda dari mata uang yang sepenuhnya pasar-digantung, nilai tengah Yuan ditetapkan setiap hari oleh PBOC, mencerminkan sikap resmi terhadap nilai tukar. Sejak 2017, bank sentral memasukkan “faktor kontra-siklus” dalam model penetapan nilai tengah untuk mengurangi perilaku mengikuti siklus pasar.
Mengamati pergerakan nilai tengah Yuan dapat memberi petunjuk apakah otoritas ingin mendorong penguatan atau pelemahan Yuan. Dalam jangka pendek, nilai tengah sangat mempengaruhi nilai tukar riil, tetapi tren jangka menengah tetap mengikuti arah pasar valuta asing secara umum.
Melihat prospek Yuan dari lima tahun: kisah siklus lengkap
Agar benar-benar memahami prospek Yuan, perlu melihat siklus lengkap lima tahun terakhir. Siklus ini menunjukkan bagaimana Yuan berfluktuasi di tengah tekanan eksternal dan penyesuaian internal.
Perubahan dramatis tahun 2020
Di awal tahun, Yuan berfluktuasi di kisaran 6.9–7.0, tetapi karena ketegangan perdagangan China-AS dan pandemi, Mei sempat melemah ke 7.18, titik terendah dalam beberapa tahun. Namun, China mampu mengendalikan pandemi dengan cepat, ekonomi pulih lebih dulu, dan bersamaan dengan Federal Reserve menurunkan suku bunga ke level terendah, faktor-faktor ini mendukung Yuan menguat kembali ke sekitar 6.50 di akhir tahun, apresiasi sekitar 6%.
Tahun 2021 relatif stabil
Ekspor China tetap kuat, ekonomi membaik, dan bank sentral menjaga kebijakan stabil. Dolar AS tetap rendah, dan Yuan berfluktuasi dalam kisaran 6.35–6.58, dengan rata-rata tahunan sekitar 6.45, tetap menunjukkan kekuatan relatif.
Tahun 2022 depresiasi besar-besaran
Ini adalah tahun paling turbulen dalam lima tahun terakhir. Federal Reserve agresif menaikkan suku bunga, indeks dolar melonjak di atas 100, dan dolar AS terhadap Yuan naik dari 6.35 ke atas 7.25, dengan depresiasi sekitar 8%, terbesar dalam beberapa tahun. Pada saat yang sama, kebijakan COVID-19 China sangat ketat, krisis properti memburuk, dan kepercayaan pasar merosot.
Tahun 2023 tekanan berlanjut
Dolar AS terhadap Yuan berfluktuasi antara 6.83 dan 7.35, dengan rata-rata sekitar 7.0, dan sedikit menguat ke sekitar 7.1 di akhir tahun. Pemulihan ekonomi China pasca pandemi tidak sesuai harapan, krisis utang properti berlarut-larut, dan pertumbuhan konsumsi tetap lemah. Suku bunga tinggi AS bertahan, indeks dolar di kisaran 100–104, dan Yuan terus mengalami tekanan.
Tahun 2024 muncul tanda perubahan
Dolar AS melemah, mengurangi tekanan terhadap Yuan. China meluncurkan stimulus fiskal dan langkah dukungan properti, dan sentimen pasar mulai membaik. Nilai tukar Yuan terhadap dolar dari 7.1 naik ke sekitar 7.3 di pertengahan tahun, dan pada Agustus, Yuan offshore menembus 7.10, mencatat level tertinggi semester. Volatilitas meningkat, tetapi tren umum mulai menunjukkan perbedaan arah.
Tahun 2025, siklus berbalik
Di awal tahun, dolar AS terhadap Yuan masih di sekitar 7.3, tetapi di semester kedua, seiring perkembangan negosiasi China-AS dan penurunan indeks dolar, Yuan mulai menguat lebih cepat. Pada akhir tahun, Yuan berhasil menembus angka 7.0, mencatat kenaikan terbesar dalam hampir tiga tahun. Perubahan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari berbagai kekuatan yang bekerja bersama.
Tiga poin pengamatan investasi Yuan tahun 2026
Bagi investor yang ingin memanfaatkan prospek Yuan, tiga variabel utama berikut patut diperhatikan:
Pertama: Ruang penurunan indeks dolar
Kapan indeks dolar akan mencapai titik terendah? Apakah jumlah penurunan suku bunga Fed tahun 2026 akan mencapai 2–3 kali seperti yang diperkirakan pasar? Ini menentukan apakah dolar akan terus melemah, dan membuka jalan terbesar bagi penguatan Yuan. Jika indeks dolar turun di bawah 96, ini akan menjadi dorongan kuat bagi Yuan untuk menguat.
Kedua: Sikap regulator di angka 6.9
Akankah PBOC melalui penetapan nilai tengah atau intervensi lain mencegah penguatan Yuan terlalu cepat? Jika otoritas ingin menjaga stabilitas nilai tukar, mereka mungkin akan menetapkan batas baru di kisaran 6.8–6.9. Ini akan langsung mempengaruhi apakah Yuan bisa mencapai target 6.7–6.85 yang diperkirakan bank investasi.
Ketiga: Efektivitas kebijakan pertumbuhan stabil China
Apakah kebijakan stabilisasi pertumbuhan China tahun 2026 benar-benar efektif dan mampu mendorong permintaan domestik serta pasar saham? Ini menentukan fondasi jangka panjang penguatan Yuan. Jika hanya kebijakan permukaan tanpa perbaikan ekonomi nyata, penguatan Yuan mungkin akan terbatas.
Kesimpulan: gambaran lengkap prospek Yuan 2026
Secara keseluruhan, prospek Yuan cukup optimistis, tetapi bukan tanpa risiko. Yuan memang telah mengakhiri siklus depresiasi tiga tahun dan menunjukkan tanda-tanda awal penguatan baru. Dengan latar belakang dolar yang cenderung melemah, hubungan China-AS yang stabil, dan dukungan kebijakan longgar dari otoritas, Yuan berpeluang menguat ke kisaran 6.7–6.85. Perkiraan ini menunjukkan apresiasi sekitar 2–4% dari posisi saat ini di sekitar 6.96.
Namun, investor harus sadar bahwa penguatan ini tidak tanpa risiko. Ketidakpastian hubungan China-AS, ketidakpastian pemulihan ekonomi China, dan kemungkinan perubahan kebijakan Fed tetap ada. Dalam kondisi prospek Yuan yang masih penuh variabel, sikap bijak adalah tetap berhati-hati dan optimistis.
Bagi mereka yang berusaha melakukan arbitrase melalui penguatan Yuan, sebaiknya hindari penggunaan leverage berlebihan, dan secara bertahap membangun posisi saat mendekati 6.9–7.0, serta mengambil keuntungan secara moderat saat mendekati 6.85. Selain itu, penting untuk terus memantau indeks dolar, kebijakan otoritas, dan hubungan China-AS, serta menyesuaikan strategi secara fleksibel sesuai perkembangan situasi.
Prospek Yuan tahun 2026 sedang terbuka lebar, dan kuncinya adalah mampu mengidentifikasi waktu yang tepat, mengenali risiko, dan mengikuti tren secara tepat.