Harga minyak melonjak, apakah perlindungan Bitcoin terhadap risiko gagal?

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung

Pada hari Senin ini, detak jantung para investor global sepertinya hampir terlewatkan. Konflik di Timur Tengah bukan hanya tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, tetapi malah langsung menyentuh “arteri utama” ekonomi global.

Pada sesi pembukaan pasar Asia tanggal 9 Maret, harga minyak internasional melonjak seperti kuda liar yang lepas kendali, dengan kontrak berjangka WTI melonjak hingga 22%, dengan mudah menembus angka 110 dolar AS, sementara minyak Brent juga mencapai level tinggi 111 dolar AS, secara singkat membangkitkan ingatan akan krisis energi tahun 2022. Tapi ini hanyalah rangkaian reaksi berantai pertama. Selanjutnya muncul penjualan panik di pasar saham global, keruntuhan pasar obligasi yang jarang terjadi, bahkan aset safe haven tradisional seperti emas pun tidak luput dari dampaknya. Ini bukan sekadar konflik geopolitik, melainkan seperti sebuah “badai sempurna” yang sedang dipersiapkan.

  1. Kepanikan “Pemutusan Pasokan” Minyak: Dari Gangguan Produksi Hingga Lonjakan Premi Spot

● Pemicu langsung dari gejolak pasar ini adalah Selat Hormuz—jalur utama pengangkutan minyak global.

● Ketika koalisi AS dan sekutunya pertama kali menargetkan fasilitas energi sipil Iran, konflik pun meningkat pesat. Sebagai respons, situasi regional menjadi sangat tegang, langsung mempengaruhi jalur utama yang mengangkut sekitar seperlima dari perdagangan minyak dunia. Data dari penyedia data Kpler menunjukkan bahwa fasilitas penyimpanan minyak utama di Arab Saudi dan UEA sedang cepat terisi, diperkirakan akan mencapai kapasitas maksimum dalam tiga minggu.

● Data yang lebih menakutkan terlihat di pasar berjangka: spread harga spot Brent (selisih antara dua kontrak terakhir) melewati 8,50 dolar per barel di awal hari, mencapai level tertinggi sejak 2013. Struktur premi spot yang ekstrem ini menunjukkan bahwa para trader bersedia membayar harga tinggi demi mendapatkan minyak saat ini, dan kepanikan pasar terhadap “ketersediaan minyak yang akan habis dalam sekejap” telah mencapai puncaknya.

● Produksi minyak Irak telah turun sekitar 60%, Kuwait juga menerapkan langkah pengurangan produksi “pencegahan”. Citi memperkirakan pasar minyak global kehilangan sekitar 7 juta hingga 11 juta barel pasokan per hari. Analis energi Macquarie memperingatkan dengan keras: jika situasi tidak segera mereda, harga minyak bisa melonjak hingga 150 dolar AS.

  1. “Perlombaan Melarikan Diri” Pasar Saham Global: Dari Pemutusan Sirkuit di Jepang dan Korea Hingga Keruntuhan Berjangka AS

Lonjakan tajam harga minyak ini bagi ekonomi yang bergantung pada impor energi ibarat bom waktu.

● Pasar Asia Pasifik paling dulu terkena dampaknya, darah mengalir deras. Indeks Kospi Korea Selatan awalnya turun hingga 7%, saham berat seperti Samsung Electronics dan SK Hynix jatuh tajam, langsung memicu mekanisme penghentian perdagangan otomatis (sidecar), yang menunjukkan pasar sangat rapuh. Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung segera mengumpulkan pejabat terkait dan bahkan mempertimbangkan kembali batas harga minyak mentah yang sudah tidak digunakan selama hampir tiga dekade.

● Pasar saham Jepang juga mengalami kerugian besar, indeks Nikkei 225 sempat turun lebih dari 6%, menembus level 53.000 poin, mencatat penurunan harian terbesar sejak April tahun lalu. Indeks S&P/ASX 200 Australia juga jatuh ke level terendah beberapa bulan.

● Gelombang penjualan ini dengan cepat melintasi zona waktu dan mempengaruhi pasar Eropa dan Amerika. Kontrak berjangka Dow Jones sempat anjlok lebih dari 1000 poin, sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 berkurang hampir 2%. Logika pasar sangat sederhana: kenaikan harga minyak = inflasi meningkat = ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral meningkat = risiko resesi ekonomi semakin besar.

● Analis Wade Bush menyatakan secara langsung, “Risiko pasar sedang terkumpul,” dan Stephen Innes dari SPI Asset Management bahkan menyingkap kata yang paling ditakuti oleh pejabat bank sentral—stagflasi.

  1. Kepanikan “Alternatif” di Pasar Kripto: Mengapa Bitcoin Tidak Lagi Jadi Safe Haven?

Dalam kekacauan ini, Bitcoin yang pernah diharapkan sebagian investor sebagai “emas digital” justru menunjukkan performa yang mengecewakan.

● Seiring dengan emas, Bitcoin juga mengalami tekanan jual yang berat. Data menunjukkan, Bitcoin dari puncaknya di 68.200 dolar AS turun menembus 65.700 dolar AS, dengan penurunan sekitar 2,8% dalam 24 jam, dan total kerugian kontrak berjangka di seluruh jaringan mencapai 342 juta dolar AS. Lebih mengkhawatirkan lagi, indeks ketakutan dan keserakahan yang mengukur suasana pasar turun drastis ke angka 8, menandakan pasar berada dalam kondisi “ketakutan ekstrem” untuk waktu yang cukup lama.

● Mengapa saat konflik geopolitik memburuk, Bitcoin malah turun?

● Inti logikanya adalah efek “penarikan dolar”. Lonjakan harga minyak meningkatkan ekspektasi inflasi, memaksa dana mengalir kembali ke dolar AS demi mencari keamanan, dan indeks dolar DXY sempat naik ke 99,5. Sebagai aset risiko, Bitcoin cenderung menjadi yang pertama dijual saat likuiditas mengering.

● Hubungan Bitcoin dengan pasar saham semakin erat, sementara kaitannya dengan sifat safe haven semakin melemah. Seperti yang dianalisis, jika indeks dolar stabil di atas 100, Bitcoin kemungkinan besar akan turun lebih jauh ke kisaran 62.000 hingga 64.000 dolar.

  1. Emas Redup, Obligasi Tertekan: Logika Safe Haven Tradisional Sementara Gagal

Reaksi pasar keuangan kali ini paling aneh adalah kegagalan aset safe haven tradisional.

● Emas tidak lagi bersinar. Secara teori, membeli emas saat perang adalah hal yang wajar. Tapi kali ini, harga spot emas turun lebih dari 2% dalam hari yang sama, sempat menembus 5050 dolar per ons, dan perak turun lebih dari 4%. Penjelasan pasar adalah bahwa ekspektasi inflasi yang didorong oleh lonjakan harga minyak mungkin memaksa bank sentral untuk melakukan kenaikan suku bunga lebih agresif, meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak menghasilkan bunga. Selain itu, sebagian investor mungkin menjual emas untuk menutupi kerugian margin di pasar berjangka saham.

● Pasar obligasi mengalami kerugian ganda. Kurva hasil obligasi global naik secara keseluruhan, harga obligasi turun. Kontrak berjangka obligasi AS anjlok tajam, menghapus seluruh kenaikan minggu lalu akibat data non-pertanian yang lemah; obligasi 10 tahun Jerman turun ke level terendah sejak Juli 2011; obligasi 3 tahun Australia bahkan mencapai rekor tertinggi sejak 2011. Ini menunjukkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi telah mengalahkan kekhawatiran terhadap resesi, dan pola penurunan saham dan obligasi ini adalah ciri khas dari “stagflasi.”

  1. Prospek Masa Depan: Mencari Peluang di Tengah Badai

● Menghadapi gelombang gelombang keuangan global ini, Gedung Putih berusaha menenangkan pasar. Presiden AS Donald Trump menyatakan di media sosial bahwa kenaikan harga minyak adalah “biaya kecil” demi perdamaian, dan harga akan segera kembali normal. Menteri Energi AS juga memperkirakan pengiriman akan kembali normal dalam beberapa minggu.

● Namun, pasar tampaknya tidak seoptimis itu. Fokus utama minggu ini adalah: pertama, perkembangan geopolitik, terutama apakah Selat Hormuz akan tetap tertutup dalam jangka panjang; kedua, data inflasi CPI dan PCE AS bulan Februari yang akan segera dirilis. Data ini akan langsung menentukan sikap Federal Reserve dalam rapat kebijakan bulan Maret.

Bagi investor, saat ini mungkin berada di persimpangan jalan:

● Jika situasi di Timur Tengah mereda dan harga minyak kembali turun, pasar saham dan kripto yang selama ini tertekan mungkin akan mengalami rebound yang signifikan.

● Tapi jika konflik berlanjut bahkan membesar, maka ekonomi global harus menghadapi “harga minyak tinggi + pertumbuhan rendah + inflasi tinggi”—sebuah jebakan stagflasi yang paling sulit dipecahkan. Saat itu, uang tunai dan aset energi hulu yang mampu menanggung biaya mungkin menjadi tempat perlindungan terakhir.

BTC0,61%
PAXG-1,35%
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan