Nilai "Garam" Kerajaan Salt Bae Menurun Drastis! Dari Kesayangan Internet hingga Tokoh Kontroversial

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung

Masih ingat dengan “Salt Bae” yang sedang viral di seluruh dunia itu? Masih ingat dengan gerakan menabur garam ikoniknya? Salt Bae pernah menjadi favorit di media sosial, mendadak terkenal lewat sebuah video berdurasi 36 detik, dari seorang koki Turki yang tidak dikenal menjadi bintang kuliner global. Tapi kini, mantan selebriti restoran ini sedang mengalami krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya—kerajaan bisnisnya sedang runtuh.

Hanya dalam beberapa tahun, Salt Bae yang dulunya memiliki 31 restoran waralaba di seluruh dunia dan bernilai puluhan juta poundsterling, kini harus menghadapi penutupan besar-besaran restoran, kerugian tahunan mencapai 5,4 juta poundsterling, dan pengakuan dari karyawan yang mengungkapkan wajah sebenarnya dari “bos serakah” ini. Dalam waktu singkat, tuduhan tentang manajemen yang buruk, pelecehan terhadap karyawan, dan penipuan bisnis mulai bermunculan secara massif. Tokoh yang pernah didukung oleh bintang-bintang seperti Leonardo DiCaprio, Beckham, Messi, dan lainnya ini, kini menjadi sasaran kritik dan kecaman.

Dari Anak Miskin Menjadi Koki Viral: Sebuah “Keajaiban Media Sosial” yang Terbentuk

Nama asli Salt Bae adalah Nusret Gokce. Kisah suksesnya awalnya tampak seperti cerita film Hollywood: berasal dari keluarga miskin di Turki, ayahnya seorang penambang, ibunya seorang ibu rumah tangga. Semasa kecil, dia mengenakan pakaian bekas orang lain dan sejak dini berhenti sekolah untuk bekerja di toko daging. Pada tahun 2007, dia mengumpulkan uang tabungan dan pergi ke Argentina, belajar dari master steak ternama setempat tentang teknik memotong daging steak yang paling profesional. Tiga tahun kemudian, dia kembali ke Turki dan membuka sebuah restoran kecil dengan delapan meja.

Titik balik sebenarnya terjadi pada 2017. Saat itu, sebuah video tentang proses memasaknya menyebar di internet. Video tersebut menunjukkan Salt Bae dengan gesit memotong steak, lalu melakukan gerakan dramatis: kaki kirinya sedikit ditekuk, tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi, dengan tiga jari secara elegan memutar garam, butiran garam mengalir di otot lengan kekarnya dan tepat jatuh di atas steak. Gerakan ini tampak sederhana, tapi penuh panggung dan visual yang mencolok.

Awalnya, video ini hanya menyebar di kalangan kecil di Turki, sampai dua minggu kemudian, penyanyi terkenal Amerika Bruno Mars secara tidak sengaja menemukan video ini saat browsing di Twitter. Ia terpesona oleh gaya menabur garam Salt Bae dan langsung membagikannya. Dalam sekejap, jumlah penonton video ini melonjak dari beberapa ribu menjadi 2,4 juta. Dalam beberapa hari berikutnya, berbagai platform media sosial membanjiri dengan repost, dan nama Salt Bae pun menduduki trending topik global.

Ekspansi Cepat Kerajaan Kuliner: Dari Restoran Kecil Menjadi 31 Cabang di Dunia

Mengambil keuntungan dari gelombang viral ini, Salt Bae segera bertindak. Dalam satu tahun, dia mendaftarkan merek “Salt Bae” dan membuka restoran bertema “Salt Bae” pertama di Istanbul. Tidak lama kemudian, di Miami, dia membuka restoran Nusret pertama yang dihadiri oleh Beckham secara langsung saat grand opening. Selanjutnya, cabang-cabang baru bermunculan di New York, London, Dubai, dan Pulau Mykonos di Yunani, seperti jamur yang tumbuh setelah hujan. Dalam waktu singkat, jaringan restoran Salt Bae telah berkembang ke 31 lokasi di seluruh dunia.

Di London, sebuah steak yang dibalut emas 24 karat dihargai 700 poundsterling; sebuah “mie” dari daging seharga 95 pound; bahkan sebuah burger yang dilapisi emas dijual seharga 100 pound. Di Dubai, steak berlapis emas mencapai harga 1.250 dirham (sekitar 268 pound), sementara steak biasa mulai dari 340 dirham. Di bulan pertama pembukaan cabang di Manhattan, pendapatannya sudah menembus satu juta dolar.

Dengan harga yang fantastis dan aura selebriti yang melekat, para pelanggan pun berlomba-lomba antre berjam-jam hanya untuk mendapatkan kesempatan dipotong steak-nya langsung oleh Salt Bae. Meski harganya mahal, banyak yang rela membayar dan bahkan tidak mendapatkan layanan langsung dari dia sendiri. Banyak pelanggan yang mengaku “sepadan dengan harganya,” tetapi ada juga yang mengakui bahwa, karena sudah mengeluarkan banyak uang, mereka harus memaklumi rasa yang tidak selalu istimewa—mungkin ini adalah rahasia terselubung dari konsumsi makanan mewah yang paling sulit diungkapkan.

Gelombang Kontroversi: Dari “Bos Serakah” Hingga Tuduhan Pelecehan Seksual

Dalam beberapa tahun terakhir, citra Salt Bae mulai mengalami perubahan drastis. Berbagai berita negatif mulai bermunculan, merusak citra yang selama ini dia bangun.

Pertama, dari sisi karyawan. Ada keluhan dari pelanggan yang membayar 500 pound untuk dipotong steak secara langsung oleh Salt Bae, tetapi sang “bos selebriti” ini malah memotong sambil memakai earphone dan berbicara dengan orang lain, tanpa menunjukkan profesionalisme. Lebih mengejutkan lagi, pengakuan dari para karyawan. Mereka mengungkapkan bahwa di cabang London, Salt Bae pernah memecat karyawan secara terbuka karena hal sepele; di New York, ada yang mengeluhkan lembur tanpa bayaran dan pemotongan tip; bahkan seorang wanita karyawan anonim menyebut suasana kerja di bawah Salt Bae sangat tegang—jam kerja yang panjang, bahkan saat ke toilet dan minum pun diawasi ketat.

Lebih mengerikan lagi, seorang wanita karyawan mengungkapkan bahwa Salt Bae pernah meminta hal aneh selama bekerja, seperti meminta karyawan memijat kakinya saat pelayanan. Dia juga mengungkapkan bahwa Salt Bae sering berkencan dengan wanita lain setelah jam kerja, berperilaku seperti selebriti. Dalam sebuah gugatan di New York, bartender Elizabeth Cruz menuduh manajemen memintanya mengenakan rok super pendek dan sepatu hak tinggi, yang menyebabkan dia mengalami pelecehan seksual. Meski kasus ini akhirnya diselesaikan secara damai, budaya perusahaan yang tercipta dari Salt Bae sudah terungkap.

Lebih memalukan lagi, steak berharga mahal yang menjadi ciri khasnya ternyata juga diungkap sebagai “tipu muslihat pemasaran”—dikatakan sebagai steak berlapis emas, padahal sebenarnya hanya lapisan foil emas murah yang diberi harga ratusan pound.

Jaringan “Teman” yang Dulunya Jadi Aset Kini Jadi Beban

Jaringan relasi selebriti yang dulu menjadi kekuatan Salt Bae, kini justru menjadi beban. Ia pernah tampil bersama rapper Diddy di berbagai tempat, dari restoran di London hingga klub malam di Dubai. Pada 2017, Diddy bahkan mengundang Salt Bae ke kediamannya di mana dia memasak untuk keluarga dan teman-teman. Salt Bae juga pernah ikut merayakan Tahun Baru di Miami bersama Diddy. Ia bahkan menyebut Diddy sebagai “jenius terbesar dalam sejarah, teman sejati.”

Namun, saat Diddy tersandung tuduhan pelecehan seksual dan sedang diselidiki di Amerika Serikat, hubungan ini pun menjadi noda bagi Salt Bae. Meskipun sebagai koki, dia mungkin tidak tahu seluruh detail kasus Diddy, tetapi hubungan ini cukup merusak citra publiknya.

Peristiwa Kontroversial Meningkat: Drama Piala Dunia 2022

Untuk menjaga popularitas, Salt Bae sesekali membuat aksi kontroversial. Yang paling terkenal adalah saat final Piala Dunia 2022. Ketika Argentina merayakan kemenangan mereka, Salt Bae tiba-tiba masuk ke lapangan, memeluk Messi erat-erat, mencium trofi juara, bahkan mengganggu perayaan tim Argentina. Video ini langsung viral di media sosial. FIFA pun melakukan penyelidikan. Setelahnya, Salt Bae meminta maaf, mengaku dirinya terlalu terbawa suasana dan terlalu bersemangat, tetapi netizen tidak percaya dan menuduh dia hanya mencari perhatian.

Realitas Keruntuhan Kerajaan: Dari Harga Tinggi ke Kebangkrutan

Kini, kenyataannya sangat pahit. Berdasarkan data keuangan terbaru, kerugian tahunan Salt Bae mencapai 5,4 juta poundsterling. Dari sebelumnya memiliki 7 restoran steak, kini tersisa hanya dua yang masih beroperasi. Jumlah pengunjung pun menurun drastis, antrean panjang yang dulu menjadi pemandangan biasa kini tinggal kenangan.

Meski masih memiliki koleksi mobil mewah senilai satu juta poundsterling (termasuk dua Rolls-Royce), kapal pesiar, dan pesawat pribadi, semua aset ini tak mampu menutupi kenyataan bahwa kerajaan bisnisnya sedang runtuh. Dulu, dia bisa dengan mudah terbang ke Dubai untuk menikmati steak mahal, sekarang semua itu menjadi bahan tertawaan.

Refleksi: Kerentanan Ketika Menjadi Terkenal di Era Media Sosial

Kisah Salt Bae adalah contoh nyata dari sebuah kisah bisnis modern. Di era media sosial, ketenaran bisa datang sangat cepat—satu video, satu postingan, bisa membuat orang biasa langsung terkenal. Tapi masalahnya, ketenaran semacam ini sering dibangun di atas ilusi. Ketika model bisnis, budaya perusahaan, dan kualitas layanan tidak mampu mendukung kilauan palsu itu, keruntuhan pun bisa datang secepat kilat.

Kebangkrutan Salt Bae mengingatkan kita bahwa sekadar viral dan selebriti tidak cukup. Sebuah kerajaan bisnis yang berkelanjutan membutuhkan layanan jujur, manajemen yang adil, dan produk yang nyata. Ketika fondasi ini terungkap sebagai palsu, tidak peduli berapa banyak penggemar dan teman selebriti yang dimiliki, semuanya tidak akan mampu menyelamatkan kerajaan yang sudah ditakdirkan runtuh.

Kini, Salt Bae yang dulu anggun menabur garam dan dipuja dunia, telah berubah dari idola internet menjadi contoh buruk. Ceritanya mengingatkan kita bahwa di era informasi yang penuh gejolak ini, popularitas mudah hilang, dan kualitas serta integritas adalah kunci jangka panjang. Salt Bae, melalui kejatuhannya, secara hidup-hidup membuktikan hal tersebut.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan