Pendekatan Jerman terhadap China sedang mendapatkan perhatian baru setelah Menteri Luar Negeri Johann Wadephul membatalkan kunjungan yang direncanakan ke Beijing ketika pejabat China hanya setuju untuk satu dari beberapa pertemuan yang diusulkan. Keputusan ini telah memicu seruan yang semakin meningkat di Berlin untuk mempertimbangkan kembali strategi perdagangan dan keamanan negara tersebut terhadap China, terutama di tengah meningkatnya pembatasan ekspor tanah jarang.
Wadephul, yang mewakili Partai Persatuan Kristen Demokrat (CDU), telah bermaksud untuk membahas pembatasan Beijing terhadap bahan baku langka dan semikonduktor—material kritis untuk industri teknologi dan pertahanan Jerman. Namun, keterbatasan kerja sama dari rekan-rekan Tiongkok menyebabkan penundaan kunjungan.
Setelah pembatalan, Adis Ahmetovic dari Partai Sosial Demokrat (SPD) mendesak Jerman untuk mengadopsi “kebijakan luar negeri yang lebih aktif dan strategis,” dengan menekankan kepentingan jangka panjang dan komunikasi yang jelas. Pernyataannya mencerminkan konsensus yang meningkat di Berlin bahwa ketergantungan Jerman pada China membuatnya rentan terhadap risiko ekonomi dan keamanan.
Pengendalian ekspor yang semakin ketat oleh China terhadap unsur tanah jarang telah memperdalam kekhawatiran tersebut. Bahan-bahan ini—penting untuk kendaraan listrik, turbin angin, dan senjata canggih—masih didominasi oleh pemasok China. Pada tahun 2024, Jerman mengimpor sekitar 65,5% unsur tanah jarangnya dari China, menyoroti betapa sedikitnya ketergantungannya telah berubah.
Para ahli memperingatkan bahwa konsentrasi produksi bahan baku langka di Tiongkok menimbulkan tantangan serius bagi keamanan nasional. Kontraktor pertahanan Jerman, bersama dengan basis militer-industri Eropa yang lebih luas, sangat bergantung pada bahan baku langka berat Tiongkok.
Berlin telah mulai mencari alternatif dengan memperluas rantai pasokan dan berinvestasi dalam kemampuan pemrosesan domestik. Namun, analis mencatat bahwa upaya ini masih dalam tahap awal, meninggalkan Jerman rentan terhadap gangguan akibat perubahan kebijakan Beijing.
Perjalanan ke Beijing yang dibatalkan menekankan titik balik dalam kebijakan China Jerman. Sebagai ekonomi terbesar di Eropa, Jerman kini menghadapi tindakan penyeimbangan yang sulit—mempertahankan hubungan perdagangan dengan China sambil mengurangi ketergantungan strategis.
Pengamat menyarankan Berlin akan semakin fokus pada:
Seberapa sukses Jerman beradaptasi dapat menentukan tidak hanya masa depan industrinya tetapi juga sikap kolektif Eropa terhadap Beijing.