Dunia keuangan tidak dapat disangkal sedang mengalami transisi cepat dari tradisional ke digital. Sebuah laporan baru berjudul “APAC Digital Asset Adoption 2025: Stablecoins, Tokenization & Integration,” yang dilakukan oleh Coindesk dan Protocol Theory, mengungkapkan bahwa sekitar 25% orang dewasa di Asia-Pasifik (APAC) yang memiliki akses internet sekarang memiliki crypto.
Temuan mereka berasal dari survei terhadap 4.020 orang di 10 negara. Laporan tersebut terutama berfokus pada penetrasi aset digital di wilayah APAC, mengungkapkan bahwa sepertiga pengguna internet dewasa telah beralih ke kripto.
Ruang lingkup penelitian mencakup:
IKLAN* China
Survei mencakup sekitar 400 responden dari masing-masing yurisdiksi berusia 18 hingga 64 tahun. Semua peserta memiliki akses internet dan sadar akan crypto.
Para peneliti mengidentifikasi akses yang tidak memadai ke layanan perbankan dan keuangan tradisional sebagai alasan utama untuk tren tersebut. Sementara itu, 18% dari orang dewasa yang disurvei mengklaim menggunakan stablecoin. Tingkat adopsi kripto yang tinggi terlihat di pasar berkembang di kawasan tersebut.
Laporan tersebut menyoroti bahwa kesadaran terhadap aset digital di daerah tersebut sudah mendekati 100%, tetapi penggunaannya masih jauh tertinggal, meskipun dengan angka adopsi yang secara perlahan meningkat. Namun, laporan tersebut menemukan adanya pergeseran signifikan dalam sentimen terhadap crypto seiring dengan meningkatnya pemahaman tentang industri ini, mencerminkan analisis terbaru dari pendiri Ethereum (ETH) Vitalik Buterin dan CEO Bitget Gracy Chen.
IKLAN Studi menemukan bahwa peserta di sektor ini tidak lagi hanya fokus pada sifat spekulatif atau penilaian crypto. Sebaliknya, mereka sekarang dipengaruhi oleh narasi yang berpusat pada kegunaan, integrasi, dan inklusi aset digital ini. Diskusi tentang stablecoin, pengiriman uang, dan aset yang ter-tokenisasi adalah topik yang paling banyak menarik perhatian di industri.
Selain itu, para peneliti menemukan bahwa regulasi yang menguntungkan terhadap crypto dan aset virtual sangat memperkuat tren tersebut. Namun, ini juga merupakan salah satu hambatan yang memperlambat adopsi di beberapa negara. Selain itu, mereka mengatribusikan kompleksitas dalam mengelola dompet crypto, berpartisipasi dalam pertukaran, dan transaksi token dibandingkan dengan perbankan online tradisional dan sistem pembayaran lainnya sebagai faktor lain yang menekan penetrasi pasar.
Wawasan yang diperoleh dari laporan tersebut akan menjadi salah satu fokus pembicaraan di acara Consensus yang akan datang pada 10-12 Februari tahun depan di Hong Kong.
IKLAN