Korea Selatan menghentikan perdagangan setelah indeks Kospi dan Kosdaq turun lebih dari 10 persen selama penjualan besar-besaran di pasar.
Ketegangan di Timur Tengah yang meningkat mendorong harga minyak naik dan memicu penjualan besar di seluruh pasar saham Asia.
Pasar saham global kehilangan sekitar $3,2 triliun dalam empat hari sementara pasar kripto menunjukkan penurunan yang lebih kecil.
Korea Selatan menghentikan perdagangan pada hari Rabu setelah keruntuhan pasar yang tajam memicu langkah-langkah darurat di Bursa Korea. Investor bergegas keluar dari aset berisiko karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat. Penjualan mendadak ini mendorong indeks utama negara tersebut ke penurunan paling tajam sejak Agustus 2024. Akibatnya, otoritas mengaktifkan circuit breaker untuk menstabilkan pasar.
Korea Hentikan Perdagangan Saat Indeks Utama Turun 10% di Tengah Krisis Timur Tengah
Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah memicu aksi risiko cepat di seluruh pasar global pada hari Rabu, menandai akhir pekan pergerakan tajam di saham, minyak, dan kripto. Di Seoul, Korea Selatan…https://t.co/TW9lVI61tB
— Crypto Breaking News (@CryptoBreakNews) 4 Maret 2026
Indeks Kospi dan Kosdaq masing-masing turun lebih dari 10% selama perdagangan awal di Seoul. Penurunan cepat ini memaksa regulator untuk menghentikan perdagangan sementara. Data pasar menunjukkan kerugian luas di seluruh sektor keuangan, teknologi, dan manufaktur. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor yang meningkat terhadap konflik global dan kenaikan harga energi.
Sementara itu, penjualan cepat menyebar ke seluruh Asia karena investor mengurangi eksposur ke saham. Indeks Nikkei dan Topix Jepang keduanya turun hampir 4% selama perdagangan hari Rabu. Indeks Hang Seng Hong Kong juga turun sekitar 3%. Selain itu, indeks Shanghai Composite China turun 1,3% karena pasar regional bereaksi terhadap faktor risiko yang sama.
Analis mencatat bahwa investor mulai mengunci keuntungan setelah berbulan-bulan kinerja pasar yang kuat. Akibatnya, indeks yang berkinerja tinggi menghadapi tekanan jual terkuat. Pasar seperti Kospi dan Nikkei menjadi sasaran utama selama penjualan besar-besaran. Penurunan yang cepat ini semakin intensif saat trader berusaha mengurangi risiko eksposur.
Ketergantungan Korea Selatan terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah meningkatkan kerentanan pasar selama krisis ini. Negara ini mengimpor sekitar 94% dari kebutuhan minyak mentahnya. Selain itu, sekitar 75% dari impor tersebut berasal dari produsen Timur Tengah.
Ketergantungan yang besar ini membuat ekonomi Korea Selatan sensitif terhadap gangguan jalur minyak global. Oleh karena itu, setiap konflik yang mengancam jalur pasokan dengan cepat mempengaruhi sentimen investor. Kekhawatiran tentang biaya energi yang lebih tinggi semakin memperburuk tekanan jual di saham domestik.
Thailand juga mengalami penurunan tajam karena mengimpor volume besar minyak dari Timur Tengah. Bursa saham Thailand turun 7,8% selama perdagangan hari Rabu. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas tentang paparan ekonomi regional terhadap gangguan pasokan energi.
Ketegangan meningkat setelah Iran mengancam kapal yang melewati Selat Hormuz. Otoritas kemudian menutup jalur strategis tersebut untuk lalu lintas minyak dan kargo. Selat ini tetap menjadi salah satu jalur pengiriman paling penting untuk pasokan energi global.
Pada saat yang sama, Amerika Serikat memperkuat aksi militer yang menargetkan Iran. Laporan menunjukkan bahwa pasukan AS menargetkan pertemuan yang melibatkan pemimpin senior Iran. Sementara itu, pejabat mempertimbangkan pengiriman pengawal laut untuk melindungi kapal minyak yang melewati wilayah tersebut.
Pasar energi bereaksi cepat terhadap perkembangan ini. Minyak mentah Brent melonjak 14% menjadi sekitar $82 per barel. Selain itu, minyak West Texas Intermediate naik 12% menjadi sekitar $75 per barel. Kenaikan ini mengikuti serangan udara yang dimulai pada 28 Februari.
Analis keuangan menggambarkan situasi ini sebagai kejutan geopolitik yang parah terhadap pasar global. Penjualan cepat menghapus sekitar $3,2 triliun nilai pasar saham global selama empat hari. Kerugian menyebar di pusat keuangan utama saat investor beralih dari aset berisiko.
Namun, pasar kripto menunjukkan reaksi yang lebih terbatas selama periode yang sama. Nilai pasar aset digital secara total turun sekitar 0,5% dalam hari itu. Data dari CoinGecko menempatkan kapitalisasi pasar kripto total mendekati $2,39 triliun. Pasar kripto sudah turun 21% sejak awal tahun. Meski begitu, aset digital menghindari penurunan tajam yang terlihat di pasar saham.